Nasrullah Idris wrote:
>
> Salah satu keterbelakangan bangsa kita di bidang sains/teknologi adalah
> masih dominannya pola berpikir yang hanya mengandalkan output-input.
Contoh pola pikir output-input ini yang seperti apa? Dan kenapa kok bisa
menjadikan bangsa kita terbelakang?
Kira-kira 20 tahun yang lalu, saya sudah diajari pendekatan sistem
input-process-output-outcome di sekolah di Indonesia (di Surabaya).
Dugaan saya, pendekatan sistem ini telah lama dianut oleh bangsa kita
jauh sebelum saya mendapatkannya dalam pelajaran sekolah. Kalau ini
benar, maka kelihatannya pengamatan rekan Acu kurang lengkap.
> Sedangkan proses antara keduanya yang merupakan "gudang ilmu, tempat
> terjadinya interaksi, maupun sumber inspirasi" tidak dimanfaatkan secara
> maksimal. Sehingga pamornya pun sebagai komoditi intelektual yang prospektif
> sangat ketinggalan.
Saya kurang setuju. Bagaimana bisa menghasilkan output kalau process-nya
nggak dilakukan?
> Bukankah output-input itu sendiri berlatarbelakang proses. Kalau yang
> terakhir ini saja kurang mentradisi akan berkorelasi negatif terhadap
> produktivitas pemikiran baru.
Menurut saya, pendekatan sistem input-process-output ini bisa dikatakan
sebagai suatu lingkaran per (seperti per mobil), yang tergantung kepada
penggunanya, mau berapa banyak lingkaran per-nya yang diinginkan.
Maksudnya, input1-process1-output1 sebagai lingkaran per 1, bisa
diteruskan dengan menjadikan output1 menjadi input2 dilanjutkan dengan
process2-output2 sebagai lingkaran per 2, demikian seterusnya.
> Kita ambil contoh kedokteran. Seorang dokter spesialis yang hendak
> menulis resep hendaknya berdasarkan kondisi tubuh pasien yang sebenarnya
> pada saat itu. Jadi ia bisa membayangkan proses perjalanan obat, mulai
> diminum, berada di dinding organ yang dilaluinya, bereaksi dengan sumber
> penyakit, sampai menghasilkan zat sampah.
Sebenarnya, inilah yang sehari-hari dilakukan oleh para dokter
spesialis. Lihat saja, komponen input pada kasus ini: keluhan pasien,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah, urine, x-ray, organ tubuh lain,
dll., yang mereka sebut sebagai diagnosa. Setelah komponen input dirasa
mencukupi (untuk kasus darurat bisa dilakukan overlap) lalu dilakukan
tindakan (komponen process), misalnya saja operasi penyambungan pembuluh
darah yang didahului oleh persiapan pembedahan, anastesi, metoda
pembedahan yang dipakai, metoda operasi yang dilakukan, dan lokasi
pembuluh darah yang akan disambung, lalu dilakukan operasinya. Dan
komponen outputnya adalah telah tersambungnya pembuluh darah yang
terputus. Outcomenya, si pasien bisa bekerja lagi secara normal.
> Masalah output-input tidak bisa dihindari dalam kegiatan
> sains/teknologi. Siapa pun di dunia ini, termasuk dokter spesialis akan
> memerlukannya, yang secara ilmiah sah-sah saja. Hanya saja, sebagai
> konsekwensi adanya persaingan menurut berbagai kedisiplinan ilmu dalam ruang
> lingkup sains/teknologi, khususnya di tingkat global, kiranya upaya memahami
> proses hendaknya mulai ditradisikan. Karena di sinilah kunci dari antisipasi
> terhadap persaingan sendiri.
Sekali lagi ingin saya katakan bahwa, kita bangsa Indonesia telah lama
mengenal dan mengaplikasikan pendekatan sistem ini. Contoh gampangnya
adalah di bidang engineering. Pernah lihat nggak time-schedule atau time
table untuk pembangunan suatu gedung yang dibuat oleh insinyur sipil?
Biasanya mereka menggunakan diagram Venn atau Pert (?). Terlihat detil
dalam time-table tersebut, hal-hal apa yang perlu ada dan dipersiapkan
dalam tahapan persiapan (komponen input), lalu dilanjutkan dengan
pelaksanaan pekerjaan yang meliputi apa saja yang dikerjakan, metoda apa
yang dipilih, ada yang bisa barengan, dan ada yang harus dilakukan
setelah yang lain selesai, dlsb (komponen process). Outputnya, jadilah
gedung tersebut. Outcomenya, gedung tersebut bisa dipergunakan untuk
kegiatan banyak orang.
Salam,
Budi