Pertama-tama, dalam membahas kasus Tim-Tim, anda harus mengingat peristiwa yang mendahului intervensi international yang dilakukan oleh Australia dan Cs-nya: 1. TNI membantu para pejuang Integrasi membumi-hanguskan Tim-tim, TNI adalah badan negara yang pada saat itu adalah penguasa dan pelindung jalannya jajak pendapat yang telah dijanjikan oleh Pemerintah/ Presiden Habibie sendiri. 2. Ketidak-mampuan Pemerintah untuk membendung atau melarang TNI untuk tidak berbuat semaunya, yang nyata-nyata telah membuat malu muka kita sendiri karena kita telah berjanji pada dunia international, bahwa pemerintah akan melindungi dan jujur dalam perhitungan suara. 3. Penyerangan thd kediaman uskup Bello, yang makin membuat nama Indonesia semakin jelek, apalagi media asing turut menjadi saksi dan mengungkapkan bahwa memang TNI/POLRI terlibat dalam penyerangan tersebut 4. Sejak awal sebelum jajak pendapatpun telah terlihat bahwa TNI dibawah Wiranto mendukung baik moral maupun persenjataan kepada para pejuang integrasi dibawah pimpinan Joao Tavares dan Cs. 5. Jatuhnya korban yang tidak sedikit dari kalangan para sipil, ditambah penyerangan thd markas palang merah international di Dilli, makin memorengkan muka Indonesia 6. Bahwa Habibiepun ternyata punya keinginan politik sendiri dalam promisenya kepada dunia international ttg jajak pendapat itu sendiri, dan nyata-nyatanya dia kebablasan, salah langkah, mayoritas ingin merdeka, dan sejarah menentukan sendiri, dia pun KO oleh Sidang Istimewa. Nah, setelah kita mendalami dan menyelami kesalahan Habibie, Gus Dur kita sarankan agar: 1. Jangan selugu dan sedungu pendahulunya, yang menjanjikan kemerdekaan dan memperbolehkan jajak pendapat. 2. Gus Dur agar jangan dibodohi dan ditipu oleh para jenderal siluman TNI/POLRI. 3. Lebih pendekatan kepada ASEAN atau Negara Asia dalam pemilihan regu Internationalnya, contohnya bisa Thailand, atau Jepang misalkan.. 4. Lagipula, kita tidak harus memberikan kata YES, terhadap pengiriman pasukan, bisa dilakukan dengan pendekatan seperti Camp David atau Kamp-ung Melayu, dimana kedua belah pihak yang bersengketa dibawa berunding di daerah yang netral dan ditengahi oleh negara yang netral. 5. Agar Gus Dur lebih jujur dan punya itikad baik dalam menyelesaikan permasalahan ini, tanpa keinginan politik dibelakangnya seperti pendahulunya. Kenapa harus sekarang dan harus bukan oleh Indonesia??: 1. Rakyat Maluku sudah tidak sabar lagi dengan permainan petak-umpat dan lompat tali para pemimpin di Jakarta, sudah berapa lama Maluku dibiarkan saling bunuh, mungkin tunggu mati semua baru kasus selesai, tinggal transmigrasikan saja para copet, maling dan kampret dan pensiunan ABRI ke Maluku. 2. Lagian, ini bukan usulan saya sendiri, Rakyat Maluku sudah teriak-teriak sejak lampau dikarenakan TNI/POLRI tidak netral dalam mengawasi darurat sipil. Gus Dur pun telah kebablasan bicara didepan CNN. 3. Usulan intervensi bukanlah satu-satunya yang saya cantumkan di dalam versi ini, walau memang judulnya saya pakai untuk menarik perhatian para pembaca di Permias. 4. Rakyat Maluku sudah tidak PERCAYA lagi dengan Pemerintah maupun aparat penegak keamanan, coba baca demonstrasi orang maluku di Jakarta, demonstrasi Jihad dan masuknya pasukan jihad di Maluku yang disinyalir atas dukungan TNI. Nah sekarang bagaimana Bung Anjas?? Anda punya sanggahan dan pemikiran saya nantikan. Mardhika Wisesa Jeffrey Anjasmara <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Begini ya.... Coba deh disimak dulu apa arti intervensi internasional. Coba belajar dari kasus Timtim. Dalam kasus Timtim, janji di mana Indonesia juga harus ikut berperan malahan jadi pemeran pinggiran, dan akhirnya malah dilarang ikut. Gampang sekali untuk bikin move-move seperti ini. Coba deh, saya rasa kita semua masih fresh ingatannya mengenai hal ini. Sekali Indonesia divonis tidak mampu, maka pihak Internasional punya otorisasi untuk menyelesaikannya, dengan TERM-TERM sesuai dengan pikiran PBB. Masalahnya di belakang PBB itu siapa? Kan cuman the big three (dulu 5, minus Sovyet dan RRC). Lalu lihat apa yg sudah dilakukan mereka. Sebelum PERMIAS bertindak dalam kerangka POLITIK seperti ini, maka ingat-ingatlah akibatnya. Saya tadinya membuat usul untuk segi kemanusiaan, dan sekaligus menjaga keutuhan bangsa. Bukan untuk konsumsi politik strategis yg kita tidak punya waktu untuk mempelajari implikasinya. Sebelum ada yg punya pikiran seperti usul Mardhika, baca sejarah dunia dan tunjukkan barang satu saja penyelesaian konflik oleh pihak asing yg benar-benar aman damai tanpa memecah belahnya. Silakan tunjukkan. Satu saja deh sebutkan...:) Please, jaga agar PERMIAS tetap di luar politik. Usulan, himbauan, penekanan, kalau ditujukan ke pihak yg bertikai memang masih di dalam kerangka politik. Tapi itu sudah dipingiiiirrrr banget. Jadi bukan dalam wujud langkah penyelesaian macam mengundang pihak LN karena kita sangat jauh dari mampu untuk melihat implikasinya. Keep it simple, PERMIAS ingin pihak yg bertikai berhenti. Itu untuk menunjukkan bahwa PERMIAS perduli. Itu saja sudah cukup. Bagaimana Oom Mardhika? Bagaimanapun juga, pemikiran DI LUAR pemikiran pihak asing memang reasonable. ____________________________________________________________________ Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1
