Ehemn....anda menuduh atau menyudut ini, lho kok Permias yang disalahkan dalam
kasus Tim-Tim, wah bangga saya kalau memang saya ini yang disebut sebagai
oknumnya, suara Mardhika ternyata diperhitungkan oleh sejarah lho!

Permias hanyalah milis antar pelajar Indonesia di Amerika, suara kita jauh
dibandingkan dengan jumlah suara mahasiswa dan pelajar Indonesia di seluruh
dunia, masih ada Permica, PPI di Eropa dan PPI di Jepang. Belum lagi mayoritas
pelajar di Dalam Negeri yang jelas lebih mempunyai kekuatan di bandingkan para
pelajar kiriman Orang Tua, kiriman Instansi, dan para penerima beasiswa di
Amerika sini, kita bukan hanya sibuk belajar dikejar semester exam tapi juga
dikejar uang kuliahan (bagi yang miskin seperti saya ini), bisa baca internet
saja sudah sukur, karena buang uang buat nonton filem yang biayanya $10 setiap
pekan rasanya sakit sekali, karena upah minimum hanya $5.50 sejam. Kita
hanyalah sebuah jarum dalam seonggokan jerami, kata pepatah di Hicksville, PA.
Iseng sekali Bapak Habibie sampai mau membaca kertal-kertil pemikiran kita
yang banyakan hanya invitation buat tanding bola di DC. Jadi impossible bagi
saya kalau Permias ini suaranya didengar oleh Penguasa di Jakarta saat
peristiwa Tim-Tim, kalau dilirik sama Athan di Washington DC, buat masuk
daftar cekal (cegah tangkal, tidak boleh masuk ke Indonesia) mungkin bisa,
atau Atdikbud, cekal buat pelajar yang bukannya belajar malah main internet,
bisa masuk akal. 

hahha.....Bung Anjas, anda membuat saya GR deh.......:)
(Gus Jas: "Anu.....oknumnya berinisial M.W....Copet Gembel asal Ngamerik")




Ya memang anda buta, bukan kita. Ingat bung, saat ini Maluku berada di bawah
darurat sipil. Belum darurat militer. Kalau anda mau mengundang pihak asing,
maka kondisinya persis darurat militer. Jadi lebih baik anda tahan napas
dulu dan mencerna apa yg ditulis oleh Gus Dur. Kan pemerintah belum
mengeluarkan kartu as terakhir.

Ingat PERMIAS juga harus ikut bertanggung jawab dalam kasus TIMTIM karena di
dalam penyelesaian konflik di sana, PERMIAS yang ditunggangi oleh tokoh LSM
ikut mendukung penyelesaian oleh pihak asing. Lebih baik kita-kita ini
belajar dari pengalaman masa lalu lah.

Lagi pula mau mengundang negara mana yg netral? Negara Arab? Mana mau
kelompok Kristen? Negara Inggris? Perancis? Semua negara Eropa terlibat
dalam perang salib, mana mau orang Islam ditengahi oleh negara Eropa? Mau
Philipina? Mana mau pula yg Islam? Mau negara komunis? Wah, ini lebih celaka
lagi. Dua-duanya nggak mau. Mau negara Afrika? Wah, mereka menyelesaikan
konflik dalam negeri aja nggak becus. Semua negara Amerika Selatan? Mana mau
kelompok Islam? Mau Malaysia? Wah mereka bersenang hati dalam mencabik-cabik
Indonesia.

Mau AS? Wah, lihat saja hasil kerja AS dalam menengahi konflik. Nih
contohnya:
- Korea jadi Korut dan Korsel.
- Vietnam jadi Vietnam Utara dan Selatan.
- Terusan Panama jadi Panama vs. Columbia.
- Sudan, malahan semua pihak yg berseteru memusuhi AS.
- Sierra Leonne tidak beres-beres.

Politik penyelesaian AS itu sangat luar biasa bodohnya. Tinggal bagi dalam
dua zona, yg mau ke utara silakan, yg ke selatan silakan. Habis itu pesta
pora menikmati penjualan senjata hasil konflik antara utara dan selatan. Kok
nggak pinter-pinter sih diakalin beginian melulu? Pleazzzz, pikir jauh ke
depan. Bikin jangka waktu 10-25 tahun. Jangan hanya setahun dua tahun saja.
Jangan pula berharap Maluku harus diselesaikan dalam satu atau dua bulan.
Lihat hasilnya (alias PROSES menurut Nasrullah Idris). Kalau dulu yang mati
dalam orde ratusan, maka kalau sekarang ordenya puluhan atau hitungan jari
berarti kemajuan. Kalau ingin nggak ada yg mati, silakan mimpi saja. Timtim
aja masih banyak yg mati. Kalau nggak percaya, suruh aja Aussie buka semua
klep informasinya.


Anjasmara

'--------------------------------------------
From: Mardhika Wisesa  <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wed Jul 19, 2000 8:25pm
Subject: International Help is A Must To End Maluku Conflicts



http://www.cnn.com/2000/ASIANOW/southeast/07/17/indonesia.violence.ap/index.html

Gus Dur pun telah memberikan sinyal, kapan DPR dan MPR mengerti, bahwa
Kekuatan Dalam Negeri kita tidak dapat menghentikan pertikaian yang sulit
dihentikan ini? Amien dan Akbar, tolong dimengertilah, ini bukan lagi harga
diri bangsa yang dipersoalkan, tetapi sudah menyangkut hidup mati para
rakyat kecil di Maluku. TNI dan POLRI pun terus-terusan memihak, coba baca
di CNN, saya tidak buta, mungkin kamu yang buta, ataukah bangsa kita yang
memang buta?


________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com


____________________________________________________________________
Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

Kirim email ke