Terus terang saja, saya setuju sekali dengan M. Arya: sangat mengecewakan melihat kondisi Permias seperti ini dimana dari usaha berkomitment akhirnya jadi ajang tuduhan antek, dst. Saya sebetulnya ada juga segudang kritik yang ingin ikut dibanjurkan kepada 'Sang Prov......' tapi saya tak ingin mengeruhkan suasana yang memang sudah keruh ini. Hanya satu yang saya ingin masukkan: memang ada Permias Berkeley dan ada juga BISA (Berkeley Indonesia Student Association). Permias Berkeley kalau tak salah mulai muncul 4 tahun yang lalu setelah melalui ketegangan yang waktu itu cukup menghawatirkan. Saya rasa waktu itu ketua BISA adalah M. Agus Heri Pramana. Rasanya juga dulu Mas Bambang dari Permias sempat ribut dengan beberapa anggota BISA, tapi akhirnya sekarang biasa-biasa saja dan masalahnya selesai dengan sendirinya. Tapi tak ada itu yang namanya Permias Bay Area, mungkin ada juga karena Berkeley dan SF pernah 'bergabung' untuk ikut PORMIKA di Los Angeles. Tapi forget about that. Sekarang saya rasa yang jadi masalah besar di Indonesia bukan pasukan asing, Timor Timur, antek-antek di Permias, komplotan tetek bengek jungkir balik di Permias, Intel (tiap komputer juga punya kecuali yang pakai AMD), ataupun debat kusir tentang Maluku. Tapi yang menjadi masalah besar justru generasi muda Indonesia sekarang. Kebetulan saya sekarang berada di tanah air untuk mengurusi gigi, dan saya melihat sendiri jumlah anak-anak yang menjadi pengemis banyak sekali. Mereka tak ada kesempatan untuk masuk SD. Kalaupun mereka bisa, mereka memilih tak bersekolah karena untuk mereka mengemis lebih jauh menguntungkan. Bayangkan, sehari saja mereka bisa mendapat Rp. 60,000; jauh di atas upah harian pegawai. Siapa coba anak-anak yang tak tergiur? Selain mengemis, siswa-siswi sekolah juga bukannya tanpa kesulitan dan cobaan. Kemarin di koran PR disebutkan 15% anak-anak SMU di Bandung menggunakan Narkoba secara aktif. Itu baru yang terlihat. Berapa lagi yang tidak terlihat? Selain itu juga di Jakarta siswa- siswi SD sudah mulai ketagihan obat terlarang yang cara pakainya seperti pakai koyo. Selain itu anak umur 5 tahun sudah belajar merokok dan mengerikannya ada yang sudah memperkosa dan diperkosa. Generasi macam apakah yang dibentuk di Indonesia sekarang? Kemarin saya ketemu guru sejarah saya yang juga merupakan dosen di IKIP. Dia sekarang berhenti mengajar di satu SMU karena sudah beban fisik dan mental. Baru hari Sabtu dia menasihati seorang siswa untuk berhenti menggunakan Narkoba, hari Senin siswa yang bersangkutan sudah masuk halaman berduka cita karena over dosis. Tak heran guru saya itu sampai terpukul mendengar berita itu, dan dia berulang-ulang menyatakan kepada saya bahwa sangat mudah untuk mengajar, tapi sangat sulit untuk mendidik. Sekarang percuma kita berdebat tentang pro kontra pasukan asing, apakah laskar Jihad memperbaiki suasana, apakah perlu perang suci di Maluku, dsb. Fakta yang tak terlihat di lapangan lebih mengerikan daripada intervensi asing: hancurnya generasi muda di Indonesia. Justru hal ini yang menurut saya lebih perlu menjadi prioritas daripada so-called 'harga diri.' Buat apa harga diri kalau seluruh rakyat menjadi pencandu obat terlarang? Jadi daripada berdebat yang enggak karuan dan selalu diwarnai SARA dan sebelah pihak, lebih baik sebagai so-called intelectual di Amerika, jangan selalu memprovokasi atau berteriak 'antek!' Tapi pikirkan bagaimana membereskan generasi muda Indonesia. YS
