To be honest, saya sudah sekolah lama bener, tetapi masih terlalu bodoh pula untuk mengerti gaya pembicaraan ibu negara kita. Apa sih gender kontemporer progresif? Coba saya teliti kata demi kata: - Gender = nama jenis kerupuk - Kontemporer = kira-kira terkini gitu ya? - Progresif = nama perusahaan asuransi. Jadi yg dimaksud dengan wacana Gender Kontemporer Progresif adalah perusahaan asuransi di bidang perkrupukan yang dibuat dengan cara-cara tidak tradisional. Apa begitu ya? Ada lagi. Konstruksi seksualitas. Wah, saya bingung dengan istilah ini. Apakah ahli Indonesia sudah menemukan cara bikin karoseri mobil yg sensual gitu? Ada yg bisa bantu? Wah, mesti berapa lama lagi saya mesti belajar agar nanti kalau ikut seminar sejenis bisa manggut-manggut karena memang mudheng dengan yg dibicarakan oleh keynote speaker-nya? Dalam posting ini saya juga sangat salut dan bangga dengan para wanita Indonesia yang mempunyai kaum intelektual yg demikian banyak. Sedemikian banyaknya sehingga semua ngerti yg dibicarakan oleh keynote speaker. Untung nenek saya nggak ikut seminar yg kayak ginian. Nanti kan bisa-bisa nengak-nengok kanan-kiri kayak burung kakaktua. Kan lucu yg lain menggerakan kepala atas bawah (manggut-manggut), sementara nenek saya menggerakkan kepala kanan-kiri karena celingukan mau nanya tapi malu? Hehehe.....:) Anjasmara '------------------------------- Senin, 24 Juli 2000, 17:01 WIB Ibu Negara Jadi Pembicara Kunci di Seminar Perempuan di Yogyakarta Yogyakarta, Senin Ibu Negara Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dijadwalkan tampil sebagai pembicara kunci (keynote speaker) dalam seminar nasional bertemakan "Islam, Seksualitas dan Kekerasan Terhadap Perempuan", di Yogyakarta, 26-29 Juli 2000. "Selain Ibu Negara, yang akan hadir menjadi pembicara dalam seminar yang diselenggarakan Pusat Studi Wanita (PSW) IAIN Sunan Kalijaga (Suka) Yogyakarta itu adalah Meneg Pemberdayaan Perempuan Khofifah Indar Parawansa, dan beberapa pakar dari berbagai perguruan tinggi," kata Koordinator Program PSW IAIN Suka, Dra Siti Ruhaini Dz MA, di Yogyakarta, Senin. Ia mengatakan, seminar tersebut diselenggarakan sebagai salah satu upaya untuk merespon persoalan-persoalan gender kontemporer. "Wacana gender pada khazanah Islam klasik tampaknya sudah ketinggalan zaman, sehingga perlu direkontruksi ke arah wacana ke-Islaman gender kontemporer yang progresif," katanya. Menurut dia, pola-pola pemerkosaan, prostitusi, pornografi, dan kekerasan di dalam rumah tangga (domestic violence) yang senantiasa berubah, misalnya, hampir tidak dijelaskan dalam wacana ke-Islaman klasik. "Selama ini yang selalu dibahas secara detail hanya pada persoalan gender saja, yaitu tentang ketidakadilan sosial dan kesetaraan. Padahal, persoalan perempuan tidak hanya sebatas itu, tetapi juga kekerasan terhadap perempuan yang sebetulnya berbasis pada kontruksi seksualitas, dan ternyata persoalan ini belum banyak digulirkan," katanya. Oleh karena itu, seminar tersebut bertujuan untuk lebih menggalakkan kajian gender, khususnya analisis kritis antara wacana ke-Islaman dan seksualitas dalam persoalan kekerasan terhadap perempuan, karena ternyata kekerasan terhadap perempuan itu lebih jauh mengakar kepada kontruksi seksualitas.(Ant/jy) ________________________________________________________________________ Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com
