>X-From_: [EMAIL PROTECTED]  Wed
>Aug  2 12:16:36 2000
>Mailing-List: hubungi/contact [EMAIL PROTECTED]
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>X-Provider: http://www.indoglobal.com
>X-Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>Delivered-To: mailing list [EMAIL PROTECTED]
>From: "Daniel H.T." <[EMAIL PROTECTED]>
>To: <[EMAIL PROTECTED]>, <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Wed, 2 Aug 2000 23:10:24 +0700
>X-Mailer: Microsoft Outlook Express 5.00.2615.200
>Subject: [Kuli Tinta] Fw: "Wajar Kita Minta Tolong Negara Sahabat"
>
>Jawa Pos, Rabu, 02/07/00
>  Wawancara Dr Tamrin Amal Tomagola di Washington
>Wajar Kita Minta Tolong Negara Sahabat
>
>Dosen FISIP UI Dr Tamrin Amal Tomagola dan dokter Palang Merah Ambon dr Alex
>H. Manuputty kini berada di Washington. Tamrin yang beragama Islam dan Alex
>yang Kristen diundang oleh masyarakat kristiani dan muslim Maluku yang
>berdomisili di Amerika Serikat. Selama di AS, semua agenda diatur oleh Mary
>Tahapary, seorang tokoh Maluku di AS, bekerja sama dengan kantor LSM AS,
>Human Right Watch, di Washington DC.
>Selama di AS, Tamrin dan Alex bertemu dengan pihak-pihak kompeten di Deplu
>AS, Kongres, dan kalangan LSM-LSM terkenal Amerika di Washington DC.
>
>Karena berasal dari Kristen dan Islam, sedianya mereka bisa hearing di
>Kongres AS. Namun, acara tersebut batal karena DPR AS baru memasuki reses.
>Berikut ini wawancara Jawa Pos dengan Tamrin didampingi dr Alex Manuputty,
>Mary Tahapary Whittinger, dan dua pemuda Maluku.
>
>Bisa Anda ceritakan misi kunjungan ke AS?
>
>Ini murni dari masyarakat. Waktu saya diundang, Sus Mary kasih tahu bahwa
>sebenarnya keadaan pembantaian dan pembunuhan yang sekarang berlangsung di
>Ambon itu tidak bisa ditoleransi. Sesuatu harus dilakukan untuk menghentikan
>itu. Bisa dilakukan dari dalam dan bisa juga dengan menggunakan tekanan dari
>luar. Dalam rangka itu, kami datang untuk menghentikan pembantaian di Ambon,
>tetapi dengan menggunakan kekuatan dari luar. Kekuatan luar itu bisa
>bersifat force (kekuatan) dan bisa juga berupa bantuan-bantuan kemanusiaan.
>Ini yang kami jajaki di sini. Saya mau menerima tawaran ini karena betul
>bahwa pembantaian di sana sudah di luar batas. Dan, perkembangannya makin
>hari makin jelek.
>Bertemu dengan siapa saja di Washington DC?
>
>Bertemu dengan beberapa pihak. Karena yang mengorganisasi Bu Mary, tanya
>sama dia apakah bersedia memberi tahu siapa yang ditemui. Pertimbangan kedua
>saya datang ke sini, orang di Indonesia itu kalau mendengar campur tangan
>internasional atau bantuan internasional langsung pikirannya bahwa
>internasional itu berarti Kristen. Kemudian, yang datang itu adalah Kristen
>dari Barat yang mau membantu orang-orang Kristen di Ambon. Pikiran seperti
>ini terlalu apriori dan tidak benar. Sebab, nggak harus otomatis bahwa
>internasional itu berarti Kristen kan? Nah, ada beberapa kemungkinan. Jadi,
>saya pikir, barangkali diskusi tentang kemungkinan bantuan internasional itu
>jangan dianggap lagi diskusi yang tabu. Biasa saja. Dan, itu sebenarnya
>suatu hal yang bisa kita perbincangkan.
>Dengan Kongres dan pemerintah AS, pertemuannya bagaimana? Apa yang
>disampaikan?
>
>Dua-duanya sudah. Kita sampaikan -menurut penilaian kita secara pribadi
>masing tanpa membawa nama lembaga- bahwa tragedi di Maluku itu tidak bisa
>lagi dibatasi sebagai tragedi nasional. Tetapi, itu sudah merupakan tragedi
>kemanusiaan. Karena itu tragedi kemanusiaan, setiap manusia di dunia punya
>hak untuk mencampuri. Jadi, kalau dirumuskan dalam bahasa Inggris, saya
>selalu bilang, Moluccas tragedy is a human tragedy. Therefore, every human
>being has the right to interfere. Kedua, apakah tragedi di Maluku itu bisa
>diselesaikan pemerintah kita? Dengan kekuatan nasional kita, dengan tentara
>dan polisi? Nah, menurut saya, tragedi tersebut nggak akan mampu
>diselesaikan oleh pemerintah RI dengan menggunakan kekuatan tentara dan
>polisi kita.
>Lalu?
>
>Karena itu, kalau, misalnya, secara nasional nggak mampu, wajar kan kita
>minta tolong kepada tetangga yang paling dekat, ASEAN, atau lebih jauh lagi
>ke negara-negara yang mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk itu. Saya
>pikir, lambat atau cepat, kayaknya, pemerintah kita pada akhirnya harus
>minta tolong.
>Itu yang disampaikan di Washington DC?
>
>Kemudian, kita mengusulkan beberapa langkah ke arah itu, yaitu apa artinya
>bantuan internasional itu. Tadinya banyak orang memakai istilah intervensi
>internasional. Mungkin karena sekarang kata intervensi itu terlalu keras dan
>mungkin banyak pihak dalam negeri yang tidak mau -sebab, itu menyinggung
>rasa kebangaan dan kedaulatan nasional-, sebenarnya kita bisa menggunakan
>istilah international partnership (kemitraan internasional). Jadi,
>tekanannya pada kemitraan dan bukan intervensi.
>Kalaupun nanti masuk kekuatan-kekuatan dari luar, sebagian (akan) bekerja
>sama dengan yang di dalam.
>
>Maksudnya?
>Misalnya, NGO internasional bekerja sama dengan NGO nasional. Lalu,
>international force bekerja sama dengan national force. Jadi, ada kombinasi.
>Dengan begitu, yang masuk Maluku bukan semata-mata internasional. Bukan.
>Tetapi, semacam kemitraan internasional. Itu kalau keadaan tidak makin
>buruk. Kalau keadaan makin buruk dan tidak ada pihak Indonesia yang bisa
>bersikap netral, memang sudah agak susah.
>
>Tekanan dari luar itu berarti bisa pasukan, begitu?
>Kalau saya pikir, barangkali jangan juga pakai kata tekanan. Kata-kata
>seperti intervention dan pressure itu kan nanti orang-orang Indonesia
>merasa, terutama kelompok Islam, akan merasa ada sesuatu kekuatan asing yang
>mencoba mencampuri dan menekan kita. Kata partnership itu, saya kira, paling
>bagus. Yakni bukan melulu kekuatan asing, tetapi juga termasuk kita.
>
>Konkretnya?
>Step yang kita usulkan itu begini. Pertama, International Red Cross (Palang
>Merah Internasional). Itu harus dibolehkan masuk Ambon, masuk untuk tujuan
>kemanusiaan. Kedua, kita minta supaya NGO internasional dan NGO nasional
>jangan dilarang berkiprah untuk tujuan-tujuan kemanusiaan di Ambon. Dua
>langkah ini harus dilakukan sebelum Sidang Tahunan MPR. Sebab, sambil kita
>ngomong ini sekarang di sini, orang mati di Maluku. Jadi, dua pihak ini
>harus dimasukkan segera. Pada saat petugas-petugas ini masuk, baik dari
>Palang Merah internasional, NGO internasional, dan NGO nasional, mereka
>harus diberi jaminan keamanan minimum. Untuk jaminan keamanan ini, barulah
>kita ngomong tentang international force dan national force.
>
>Maksudnya?
>Sekarang kan Amerika Serikat dengan militer Indonesia sedang melakukan
>latihan di Surabaya dan Jakarta (marinir). Sebagian di antara mereka itu kan
>sebenarnya bisa dibawa ke Maluku untuk menjaga keamanan petugas-petugas
>kemanusiaan tadi. Karena ada 35 ribu orang Ambon Kristen yang sedang
>(terancam, Red) di hutan antara Wai dan Paso (Gunung-gunung di Ambon, Buru,
>dan Seram -ditambahkan sendiri oleh dr Alex Manuputty, Red). Mereka terjebak
>dan memang lari. Kalau mereka turun ke pantai, mereka dibantai. Jadi, palang
>merah internasional, NGO internasional, dan NGO nasional mustinya harus
>dijamin keamanannya oleh suatu special force. Sesudah itu, kita juga minta
>supaya Sekjen PBB menunjuk atau mengangkat suatu special envoy untuk
>melakukan rapid assessment di sana. Jadi, international intervention dan
>internasional force itu kemungkinan yang paling akhir. Special envoy itu
>bagusnya diambil dari negara Islam. Misalnya, Pakistan. Supaya ini
>menetralkan kekhawatiran orang Islam di Indonesia.
>
>Bagaimana tanggapan dari pihak di Kongres?
>Kalau prinsip-prinsip tadi bahwa ini tragedi kemanusiaan, itu setuju.
>Tetapi, gagasan kita mengenai jalan keluar itu, mereka lebih banyak
>mendengarkan dan memikirkan. Jadi, tidak ada suatu jaminan apa gitu, nggak.
>
>Menurut Anda, benarkah kasus Ambon ini sebagai isu agama?
>Isu yang mendasar sebenarnya bukan agama.
>
>Tetapi, yang terjadi kan pihak Kristen dan Islam saling bunuh di Maluku?
>Itu kan pintarnya intelijen mengubah isu dan mengadu domba. Kita (Tamrin
>menyebut suatu lembaga, Red) mempunyai data cukup banyak: Bahwa ini semua
>pekerjaan intelijen. Jadi, begini, di suatu tempat itu banyak jerami
>kering -pertikaian konflik antarkelompok di suatu tempat tertentu. Intelijen
>datang membawa geretan (korek api, Red), lalu dia sulut. Itu sebenarnya yang
>disesalkan. Konflik itu tidak diselesaikan secara baik-baik, tetapi kemudian
>diselesaikan dengan kekerasan. Jadi, wacananya itu jangan didorong ke wacana
>Islam-Kristen. Sebenarnya Islam-Kristen, dua-duanya, diperalat saja untuk
>diadu domba. Untuk agenda mereka sendiri.
>
>Apa agenda mereka?
>Kalau saya melihat, ada tiga agenda mereka itu. Mereka itu kan akan
>kehilangan dwifungsi di tingkat politik nasional. Untuk itu, mereka harus
>mencari substitusi di akar rumput yang mantap. Substitusi itu adalah
>territorial grip (cengkeraman teritorial). Cengkeraman teritorial itu hanya
>bisa didapat kalau di suatu tempat ada kerusuhan, kemudian dikirim tentara.
>Makin banyak tentara, sampai suatu saat jumlah tentara itu tidak pantas lagi
>dengan status daerah militer. Yang tadinya itu kodim, kalau di situ sudah
>enam batalyon, (maka) harus naik (ke) korem. Tadinya korem -kalau di situ
>sudah 16 batalion-, naik lagi kodam. Itu kan berarti teritorial grip dari
>militer makin mantap. Walaupun, di tingkat nasional, mereka kehilangan
>dwifungsi.
>
>Agenda kedua?
>Agenda kedua, itu sebenarnya banyak jenderal terkait dengan Soeharto sangat
>ketakutan dengan penyeretan Soeharto ke pengadilan. Sebab, kalau Soeharto
>diseret diadili, itu sama dengan kita membuka penutup pandora box (kotak
>pandora). Begitu dibuka, semuanya terurai. Dan, yang terurai itu adalah
>birokrat-birokrat sipil dan militer yang selama ini memang mendukung dia.
>Sebab itu, pengadilan Soeharto itu selama mungkin diulur. Buying time, ulur
>waktu terus. Jadi, tujuannya untuk mengalihkan perhatian pemerintah pusat
>sehingga sibuk dengan itu. Lalu, masalah ini tidak diutik-utik. Gitu.
>
>Agenda ketiga?
>Agenda ketiga lebih mutakhir, lebih kontemporer, yaitu pada saat
>jenderal-jenderal yang terlibat dalam kejahatan di Timtim diseret ke KPP
>HAM. Penyeretan jenderal-jenderal itu sebenarnya bisa distop oleh Presiden
>Wahid. Tetapi, Presiden tidak menstop itu. Itu membuat tentara marah,
>jenderal-jenderal marah. Pihak kedua yang membuat mereka marah adalah Komnas
>HAM karena berani-beraninya menyeret jenderal-jenderal ke Komnas HAM. Negara
>kita ini kan mayoritas Islam. Kemudian, kalau terjadi suatu pembantaian
>terhadap umat Islam di suatu tempat tertentu, umat Islam seluruh Indonesia
>akan bangkit. Coba kita lihat, Desember-Januari, pada waktu umat Islam di
>Halmahera dibantai, itu hanya berjarak satu minggu, ada apel akbar di Monas
>yang di situ Amien Rais datang. Itu kan jelas. Waktu apel akbar, kan Gus Dur
>bilang bahwa ini orang-orang mau menggoyang saya. Gitu. Jadi, dampaknya yang
>dinginkan sebenarnya di tingkat nasional.
>
>
>
>
>->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>

Kirim email ke