Republika : 10 August 2000


JAKARTA--Presiden Abdurrahman Wahid melimpahkan tugas kesehari-hariannya
kepada Wapres Megawati. Tapi pengamat politik Mochtar Pabotingi meragukan
kemampuan Megawati

''Tidak terlihat tanda-tanda bahwa dia (Megawati) mampu,'' kata Mochatar
dalam wawancara dengan radio El Shinta di Jakarta, Kamis (10/800)

Keraguan itu didasarkan pada kenyataan bahwa Megawati tidak mampu mengatasi
masalah Ambon dan Maluku yang sudah dilimpahkan oleh Presiden ke Wapres.
''Dulu dia diberi tugas untuk aktif menyelesaikan maslah itu, tapi
kenyataannya seperti sekarang ini [konflik belum selesai].''

Karena itu peneliti LIPI ini juga khawatir bahwa pada akhirnya, hasil kerja
Megawti ini sama saja dengan Abdurrahman. Menjadikan Megwati sebagai
pemegang kendali pemerintahan sehari-hari, katanya, tak lebih seperti halnya
dulu MPR 'mempresidenkan' Abdurrahman

Selain itu, dengan struktur masih seperti sekarang, di mana Presiden masih
memegang kuasa, tetap saja Presiden bisa melakukan intervensi ke Wapres.
Terbukti Presiden sewaktu-waktu bisa memanggil Wapres dan meminta laporan
jika memang dibutuhkan. ''Ini sewaktu-waktu bisa memancing lagi
kekisruhan,'' kata Mochtar

Menurut dia memang ada kemungkinan bahwa dipilihnya Wapres untuk mengelola
pemerintahan sehari-hari merupakan hasil kompromi yang aman bagi fraksi di
MPR. ''Tapi bisa juga merupakan strategi Abdurrahman Wahid untuk tetap
berkuasa di pemerintahan.''

Melihat masih adanya kelemahan itu, Mochtar mengusulakan agar dibuat
perubahan yang radikal sekalian, yaitu dipilih Perdana Menteri. alau pun itu
menyalahi konstitusi, ya konstitusinya diubah. ''Toh mengamandemen UUD 45
tidak haram,'' ujarnya

Bagi dia meski ada menteri utama, itu jatuhnya tetap sama saja. DI situ
Presiden tetap bisa intervensi atau bahkan mencopot. Nah kalau bentuknya
sudah ada pemisahan dengan adanya Perdana Menteri, kemungkinan semacam itu
tak terjadi lagi.
Laporan:Utomo
============================

Kirim email ke