Rekan Arya! Saya sangat simpatik and terharu dengan tulisan anda. Saya bahkan menitikkan air mata ketika membaca tulisan anda. Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita semua. Terima kasih atas kesedian membagi pengalaman anda kepada kita semua! Jabat erat, Nanang Fardiansyah Hamba Allah di Silicon Valley Mobile/Cell Phone: 650-996-6401 Arya Indrathama <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Tulisan ini saya sumbangkan dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan RI > yang ke 55. Kalau ada rekan rekan Permias yang berniat untuk meneruskannya > kedalam milis Permias masing masing, tentunya itu adalah hak rekan rekan. > Segala yang baik dan bermanfaat dalam tulisan ini datangnya dari Allah, > sedangkan yang jelek dan tidak bermanfaat datangnya dari saya sendiri. > Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 55! > > > Satu sisi Tujuhbelasan di perantauan > Arya Indrathama. > > Besok tanggal 17 Agustus semestinya merupakan hari besar bagi seluruh orang > Indonesia, atau paling tidak bagi orang yang merasa dirinya berasal dari > Indonesia. Aku ingat kalau diriku dibesarkan dalam sebuah kultur dimana pada > tanggal 17 Agustus itu harus dirayakan dengan upacara disekolah pada pagi > harinya dan siangnya dirayakan dengan perlombaan tradisional rakyat seperti > panjat pinang, lomba makan kerupuk, balap karung dan berbagai perlombaan > lainnya. Tidak lupa pada jaman dulu, entah sekarang, selalu diadakan > sandiwara Tujuhbelasan yang temanya selalu sama; perang melawan Belanda. > Untuk anak laki laki yang berkulit lebih putih pasti selalu mendapat peran > menjadi Belanda. Sedangkan yang berkulit sawo matang dan hitam pasti menjadi > extrimis extrimis yang selalu siap melawan penjajah. Untuk gadis gadisnya > tersedia dua peran, yang satu menjadi perawat yang selalu membantu si pejuang > yang terluka, yang lalu dalam sandiwara itu biasanya menjadi kekasih sang > pejuang. Sementara gadis yang paling cantik biasanya mendapatkan peran > sebagai mata mata Belanda, yang akhirnya dalam sandiwara itu selalu > tertangkap bersama si Belanda. Itulah kultur dimana aku dibesarkan. Begitu > naifnya aku dulu merasakan bahwa semua orang pasti menikmati suasana yang > sama pada hari itu. Padahal setelah bertahun tahun tinggal di beberapa > negara, aku menemukan begitu banyak orang Indonesia yang sama sekali tidak > perduli dengan apa yang namanya Tujuhbelas Agustusan. > > Silahkan sebut aku sok patriotisme, tapi aku merasa bahwa merayakan > Tujuhbelasan adalah sesuatu yang lumrah dinikmati bagi orang Indonesia > dimanapun mereka berada. Benci pada Soeharto atau benci kepada ABRI bukan > alasan untuk melupakan apa yang pernah kita rasakan di Indonesia. Kalaupun > seseorang yang berasal dari Indonesia sudah anti dengan negaranya sendiri, > silahkan buat paspor baru. Buat paspor Amerika, Australia atau paspor Timor > Timur sekalian. Tapi jangan berliur kalau melihat nasi goreng istimewa yang > nikmat atau jangan bergoyang kalau mendengar dangdut. Aku benci karena mereka > itu hanya "take it for granted" tentang Indonesia. Segalanya yang jelek > tentang Indonesia diumbar dan sudah tidak sudi lagi untuk mengingat hari hari > besar Indonesia. Padahal warna kulit serta logat bicara mereka tidak akan > bisa dirubah walaupun bicara dalam bahasa Inggris twenty-four-seven (Twenty > four hours seven days a week that is). > > Aku ingat tentang seorang saudara Muslim yang memang agak extrime. Ketika > diberitahu bahwa akan ada upacara bendera dan open house pada siang harinya, > dia berlagak kaget. "Hah, tanggal tujuhbelasan yah Ya? Memangnya ada apa?" > jawabnya kalem. Aku pun terus terang kaget mendengarnya. Dia adalah seseorang > yang dibiayai oleh Pemerintah untuk bersekolah dan bisa lupa dengan > Tujuhbelas Agustus? Apa karena dia seorang Muslim yang kelihatan taat, lalu > bisa mempunyai alasan untuk lupa dengan hal tersebut, hanya karena > Tujuhbelasan bukan hari besar Islam?. Pernah aku bertemu dengan seorang teman > Cina yang kalau diajak upacara, dia bilang," Ya, kita orang ngga ikutan lah > yang begituan, nanti kalau ada partynya aja kita dateng!". Belum lagi ada > cerita tentang anak anak geng Batak yang menolak untuk berkumpul dengan orang > Indonesia yang lain dalam acara Tujuhbelasan. Tidak perduli suku mana saja, > agama mana saja, ras mana saja, kadang orang orang yang berkelakuan seperti > itu membikin aku bingung dan terus terang sebel. > > Bingung karena ngga tau apa maunya dan sebel, karena mereka ngga konsisten. > Kalau mereka sudah begitu tidak perdulinya dengan hari Kemerdekaan Indonesia, > kenapa masih berbicara bahasa Indonesia, makan dengan sambel selera dan > ngerokok Djie Sam Soe? Kalau sudah tidak perduli seperti itu lantas maunya > apa? > Lidah dan warna kulit itu tidak bisa merubah mereka menjadi orang bule, atau > orang apapun yang mereka kagumi walau sekeras apapun mereka mencoba. Lagipula > tanpa ada hari Kemerdekaan itu, mereka juga belum tentu bisa pergi kemanapun > dengan rasa merdeka. Kalau kemerdekaan itu tidak pernah ada, orang orang itu > akan berbahasa Belanda dan punya mental budak 100 persen!. Jadi apakah mereka > sama sekali lupa dan tidak bersyukur bahwa dengan kemerdekaan yang diraih 55 > tahun yang lalu telah membuat mereka menjadi manusia yang lebih baik? > > Aku lantas ingin melupakan segelintir orang yang tidak punya rasa syukur dan > terimakasih itu. Dan aku teringat dengan jutaan orang yang menikmati hari itu. > Pikiranku menerawang kembali ketika aku masih bersekolah di Singapura dulu. > Aku ingat, dengan izin terlebih dahulu, anak anak Indonesia cabut dari > sekolah pagi harinya dan pergi ke KBRI hanya untuk ikut upacara. Guru guru > pun tidak bisa melarang. Bagaimana mungkin sebuah sekolah Internasional > melarang murid muridnya pergi ke Kedutaan mereka untuk merayakan hari > kemerdekaan negara mereka? Tanpa izin dari setiap murid, Sang kepala sekolah > pun tahu bahwa pada hari itu 99 persen dari anak Indonesia di ISS > (International School of Singapore) akan bolos. Jadi mereka tidak terlalu > mempermasalahkan tentang hal itu karena tidak akan ada gunanya. > > Dan waktu kami sampai di pintu gerbang Kedutaan, prajurit ABRI dengan seragam > dinas lengkapnya melarang kami masuk. "Upacara sudah dimulai, anda tidak bisa > masuk!" jawabnya tegas. Tapi bukan orang Indonesia kalau lantas patah > semangat oleh ucapan sang prajurit. "Kita masuk lewat jalan samping!", kata > seseorang. Lantas kami beserta beberapa bapak dan ibu berpakaian batik dan > kebaya yang kebetulan juga terlambat datang berlari mengikuti orang tersebut. > Kami tiba tepat ketika lagu Indonesia Raya dinyanyikan dan bendera merah > putih dikibarkan. Sungguh lucu karena ketika datang ke sebuah upacara yang > bukan merupakan kewajiban lagi, seperti halnya masa masa bersekolah di > Indonesia dahulu, ada sesuatu yang aku rasa kurang kalau tidak menghadirinya > > Suasana terasa khitmad ketika upacara dilaksanakan dan berakhir dengan > suasana yang santai dan hangat. Kue kue dan makanan makanan tradisional > buatan ibu ibu Dharma Wanita tergelar untuk para tamu. Belum lagi teh dan > kopinya yang pasti buatan Indonesia. Bahkan sampai air minumnya yang jelas > jelas bertuliskan PT. Golden Mississippi di botolnya. "Ini kita pesen > langsung dari Jakarta Mas", jawab seorang staff ketika aku menanyakan > darimana mereka bisa mendapatkan bergalon galon botol Aqua untuk acara > Tujuhbelasan. > > Aku tahu kalau staff staff KBRI itu banyak yang kelelahan. Banyak dari > mereka, termasuk ibu ibunya yang begadang untuk mempersiapkan makanan untuk > pada tamu keesokan harinya. Tapi mereka tampil dengan pakaian dinasnya yang > terbaik pagi itu. Rasa ngantuk dan lelah akibat kerja mempersiapkan acara > hilang diganti canda tawa mereka dengan warga Indonesia yang hadir. Segala > macam gosip dan lelucon, baik yang berbahasa Indonesia atau berbahasa daerah > meramaikan kumpulan orang Indonesia yang menikmati suasana tersebut. Lantas > satu jam kemudian banyak masyarakat Indonesia yang pulang kerumah, hanya > untuk kembali ke KBRI siangnya untuk menikmati hiburan dari band band pelajar > Indonesia dan bermacam macam hiburan lainnya. Malah kali ini lebih banyak > yang hadir, termasuk para buruh buruh dan pembantu rumah tangga yang mencari > nafkah di Singapura. Banyak berbagai hal yang lucu terjadi kalau orang > Indonesia sudah berkumpul. Sorenya di Far East Plaza, aku mendengar cerita > tentang Ferros, penyanyi band PPI > yang diminta oleh mbak mbak pembantu untuk berpose bersama. Kontan, Ferros > menjadi bahan celaan anak anak pada hari itu. > > Suasana perayaan Tujuhbelasan era sebelum krisis moneter selalu meriah. Tidak > hanya di perwakilan perwakilan Republik Indonesia di seluruh dunia, tapi juga > ditanah air sendiri. Semua orang, kaya atau miskin menikmati hari tersebut. > Diperantauan, acara Tujuhbelasan merupakan kesempatan bagi masyarakat > Indonesia untuk berkumpul, seperti apa yang aku ceritakan tentang KBRI > Singapura di atas. Di Indonesia sendiri, acara Tujuhbelasan merupakan > kesempatan untuk bertemu dengan tetangga dan bersosialisasi dengan warga > sekitarnya. Jadi bagiku sangat aneh kalau ada orang yang bisa melupakan > Tujuhbelas Agustusan hanya karena dia tinggal di Amerika, atau di Australia > atau dibelahan dunia yang lain. Merekalah orang orang yang kalau berada di > Indonesia akan tenggelam ditelan keriahan massa dan baru merasa bebas untuk > menolak kemeriahan itu, apapun alasannya, setelah berada di luar negeri. > > Namun, seperti bumi yang bundar, kehidupan pun selalu berputar. Krisis > moneter sejak pertengahan 1997 merubah segalanya. Ketika aku berada di > Jakarta pada tanggal tujuhbelas Agustus tahun 1998, suasana yang dahulu > meriah berubah menjadi sepi. Tidak semua RT di Jakarta mampu melakukan lomba > panjat pinang hanya karena kekurangan dana. Tidak ada lagi sandiwara perang > antara extrimis extrimis dengan Belanda, karena anak mudanya banyak yang > tewas oleh kerusuhan, penyalahgunaan narkoba atau terkena demam berdarah. > Sisanya banyak yang hanya bisa tinggal dirumah karena sakaw (sakit putaw). Di > beberapa daerah, bendera merah putih tidak dikibarkan sama sekali. Sungguh > suatu hal yang menyedihkan dan tidak ada yang bisa diperbuat selain menjalani > kehidupan seperti biasa. > > Maka dari itu, andai ada kesempatan untuk berkumpul bersama apakah itu > upacara, ataupun hanya sekedar kumpul kumpul, bagiku merupakan suatu > kesempatan untuk menikmatinya. Tinggal selama beberapa tahun di Colorado yang > tidak mempunyai kantor perwakilan RI, membuatku merasa kangen dengan apa yang > telah aku rasakan di Singapura. Dulu aku pernah sekali begadang di KBRI dan > ngobrol ngalur ngidul dengan prajurit ABRI dan orang orang suruhan dari Deplu > yang menjaga KBRI. > Ditemani kopi tubruk dan pisang goreng sambil main gaple, mereka bercerita > tentang keluarganya di Jawa, teman dan saudaranya yang telah tewas di Timor > Timur tanpa pernah ditemukan jasadnya, dan berbagai hal mengenai kehidupan > yang aku tidak akan dapatkan andaikata malam itu aku memilih untuk pergi > clubbing dan minum bersama anak anak yang lain. Mereka, adalah sebagian kecil > dari > orang orang pegawai dan prajurit rendahan yang malam ini diseluruh perwakilan > RI di dunia sibuk mempersiapkan acara tujuhbelasan besok paginya. Untuk > Slamet, Yoyok, Udin dan Mas Hendra dimanapun berada, tulisan ini untuk > sampeyan semuanya. > > > > Arya Indrathama > 2:40 AM Mountain Time > 17 Agustus 2000 > di Denver, Colorado ____________________________________________________________________ Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1
