Rekan Nasrullah, kita tidak bisa membuat atau memaksa orang lain percaya akan kemampuan atau ilmu yg kita miliki bila kita tidak bisa membuktikannya. Saya ambil contoh sederhana saja. Katakanlah rekan Nasrullah adalah direktur SDM dari IBM yg sedang mencari tenaga kerja yg menguasai teknologi komputernya khususnya yg berkaitan dengan sistem terpadu atau network. Katakanlah ada dua orang yang datang menemui anda. Yang pertama, dia tidak membawa satu dokumen pun dan dalam CV nya tertulis bahwa memiliki keahlian di bidang tersebut. Ketika anda wawancara dengannya, orang tersebut mencoba meyakinkan anda bahwa dia memang ahli dibidang tersebut walau tidak punya latar pendidikan atas nya. Berhubung anda termasuk yg percaya bahwa ilmu dan pengetahuan bisa di dapat dari manapun tanpa harus duduk dibangku kuliah, anda kemudian meminta orang tersebut mendemonstrasikan kemampuannya dengan memberikan seperangkat komputer. Orang itu mengelak dan hanya mengatakan bahwa Pak Nasrullah sudah menyinggung perasaannya karena tidak percaya dengan apa yg sudah dia katakan. Sementara, calon kedua masuk dengan membawa selembar sertifikat tanda kelulusan dari MIT dimana tercantum bidang yg dikuasai sesuai dengan apa yg anda cari/butuhkan. Nah, kira2 rekan Nasrullah akan memilih calon pertama atau kedua? Mungkin rekan Nasrullah protes pada saya karena contoh di atas belum lengkap. Okay, saya rubah sedikit untuk contoh orang pertama dimana ketika dia diminta untuk mendemonstrasikan kemampuannya, orang tersebut mau juga. Lalu dia mendemonstrasikan kemampuannya berdasarkan pertanyaan2 atau masalah2 yg anda berikan untuk dia selesaikan. Katakanlah orang tersebut berhasil melewati tes yg anda berikan yg anda tahu bahwa soal tes yg anda berikan itu adalah hal basic yg anda tahu hal tersebut sudah diajarkan dan dikuasai oleh orang2 lulusan MIT. Rekan Nasrullah bisa lihat, ada perbedaan proses penerimaan. Untuk calon pertama, anda membutuhkan waktu tambahan mengetes calon pertama tersebut untuk mendemonstrasikan kemampuan basic yg dimiliki. Sementara, untuk calon kedua, anda merasa tidak perlu melakukan tes demonstrasi mengingat tes uji kemampuan tersebut adalah sangat basic yg anda tahu bahwa hal tersebut sudah jauh dikuasai dengan baik oleh lulusan MIT. Contoh di atas baru dengan asumsi hanya ada dua pelamar saja. Nah, rekan Nasrullah bisa bayangkan sendiri seandainya yg melamar lowongan tersebut ada 500 pelamar. Kalau dari 500 pelamar itu, anda harus melakukan ujian praktek untuk 450 pelama hanya untuk mengetahui kemampuan basic mereka saja, bisa kebayang khan berapa waktu yg perlu anda sediakan untuk menyaring calon2 yg ada tersebut. Belum lagi besarnya biaya yg perlu anda sediakan untuk melakukan tersebut. Kira2, demikianlah sedikit gambaran dari saya kenapa suatu perusahaan memiliki kecenderungan untuk melakukan penyaringan awal dengan melihat latar belakang pendidikan. Hal ini sebenarnya hanya untuk mempermudah/mempercepat proses perekrutan/penyaringan saja sekaligus bisa menghemat biaya. Setelah penyaringan awal, baru kemudian dilakukan penyaringan2 tahap berikutnya sesuai dengan kebutuhan. Saya tidak mengatakan bahwa orang yg tidak memiliki sertifikat maka otomatis orang tersebut kemampuannya kalah dibanding dengan orang yg memiliki sertifikat (lulusan perguruan tinggi tertentu), tapi sertifikat itu sebenarnya hanyalah digunakan untuk mempermudah proses penyaringan dan sekaligus menjadi standar untuk mengekpektasi kemampuan yg dimiliki. Ada cara lain bagaimana seseorang yg tidak memiliki latar pendidikan perguruan tinggi tapi merasa punya kemampuan yg tidak kalah dari yg lulusan perguruan tinggi, yaitu itu dengan cara menuliskan pemikiran2nya atas beberapa masalah yg ada sehingga bisa mendapat perhatian dari umum. Tentunya, pemikiran2 yg disampaikan bukan hanya sebatas ide saja tapi juga ide tersebut harus bisa dibuktikan realibilitasnya. Semoga cukup menjelaskan. catatan: Ditengah era internet seperti sekarang ini, saya melihat ada beberapa disiplin ilmu yg tampaknya kelak bisa diperoleh hanya dari mengakses internet saja sehingga urgensi nya untuk belajar hal tersebut di bangku kuliah akan semakin banyak berkurang. jabat erat, Irwan Ariston Napitupulu
