Wah.. wah...., komentar rekan kita yang satu ini masih saja
ada di awang-awang. Mencoba mengkaitkan kehancuran NU
dengan model pemerintahan GD ditahun pertama adalah terlalu
dangkal dan lemah (JA: Saya nulisnya sambil minum kopi
sih....), apalagi dikaitkan dengan kedatangan sebagian
anggota NU ke HMI Bandung. Apakah hanya dengan fenomena tsb
lalu NU sebagai institusi bisa dianggap berada di ambang
kehancuran? Keterkaitannya dimana ya...?
Sebulan ini saya berada di Jakarta dan langsung mencoba
membaur dengan banyak orang termasuk para 'pemain bola di
lapangan'. Ngobrol langsung dengan mereka-mereka sambil
makan ketoprak di bawah pohon, sambil dengerin pengamen
(yang suaranya semakin bagus saja) di dalam bis, sambil
minum teh botol dengan para calo SIM di Kali Deres,
ditambah dengan selalu dengerin Pro2 FM setiap pagi, yang
selalu mewawancarai langsung para eksekutif lewat telpon
termasuk para 'budak' politik (maaf, saya rasa lebih tepat
menggunakan kata 'budak' daripada 'elite'), dan melihat
langsung siaran-siaran dari TV selain baca beberapa koran.
Kesimpulannya, berita-berita di koran seringkali kurang
akurat. Sebagai salah satu contoh, di Media Indonesia Senin
kemarin menyebutkan bahwa Tommy dan pengacaranya akan
datang ke Kejaksaan Negeri. Namun dalam interview per-
telpon yang on-air di Pro2 FM, ketua tim pengacara Tommy
jelas-jelas mengatakan bahwa berita itu tidak benar (hanya
tim pengacara saja yang akan datang ke Kejari). Lalu
darimana coba sumber koran nasional tsb? Kejadian ini
seringkali terjadi. Padahal, hanya dari koran-koran saja
teman-teman di LN mengandalkan berita. Sayanglah kalau udah
komentar macam-macam (sambil minum kopi) eh... nggak
tahunya beritanya kurang akurat. Yang baca komentarnya bisa
pada sakit perut jadinya......
Sampai sementara ini, saya hampir tidak pernah mendengar
komentar dan analisis para teman-teman rakyat jelata
tentang GD dan ulahnya, AR dan bolo-bolonya, bahkan ikut-
ikutan meresahkannya (ini rakyat jelata beneran,
bukan 'rakyat' yang mungkin dimaksudkan oleh Iwan AN).
Hanya para 'budak' politik saja yang teriak-teriak seolah-
olah rakyat banyak yang resah karena perdebatan para
juragan. Sebenarnya, para 'budak' politik tsb juga pada
nggak tahu rakyatnya sendiri. Ya bagaimana bisa tahu kalau
selalu menjaga jarak, berpakaian safari dan jas mahal,
pakai mobil mewah dengan plat nomer ditempeli lambang
DPR/MPR, dan menempatkan diri dengan bangganya berikut
segala atribut dan kosmetik yang melekat pada dirinya
ketika berada di tempat umum. Satpam saja akan memberikan
informasi yang bias kalau ditanya oleh mereka-mereka ini
(sudah keder duluan dengan segala kewibawaan yang dibuat
dan atributnya, sehingga hal-hal yang baik-baik saya yang
diceritakan).
Maaf ya, kebanyakan kopi nih.....
Salam,
Budi
> Kehancuran NU sudah terlihat di tahun pertama Gus Dur
memerintah. Dengan
> belas kasihan kelompok reformasi, Gus Dur sanggup naik.
Setelah naik,
> kelompok asli Gus Dur yang sebelumnya tidak mendukung,
atau pura-pura saling
> dukung dengan PDIP bertindak seperti kelompok bandit.
>
> Tingkah polah barisan NU dan banser ini hanya akan
mempercepat kematian
> kelompok yang sebagian besar berpendidikan kurang ini.
Kesanggupan apa yang
> mampu mereka tampilkan untuk mempertahankan Gus Dur bila
performansi
> presiden tetap jelek seperti itu? Banser NU dan
afiliasinya belum apa-apa
> bila dibandingkan dengan kelompok serupa milik Suharto
yaitu PP. Apa yang
> sanggup dilakukan PP waktu Suharto dipaksa lengser?
>
> Dari data statistik perolehan suara, NU hanya punya gigi
di Jatim dan
> Jateng. Di luar Jawa malah terseok. Dengan common sense,
tidak mungkin Gus
> Dur sanggup terpilih kembali. Siapa yang mau memilih?
Justru pencoblos PKB
> akan makin berkurang dengan bukti makin menyusutnya suara
pendukung Gus Dur.
> Siapa sih pendukung Gus Dur? Paling Muhaimin, AS Hikam,
Shihab, dan Mathori.
> Semuanya intelektual politik jadi-jadian. Mereka akan
mati muda karena
> memang tidak mempunyai bakat. Karena masih muda, Muhaimin
masih ada harapan.
> Tetapi suara yg dilontarkan sama sekali tidak ada bobot.
Paling sekelas
> penulis milis yang menulis juga sambil minum kopi.
>
> Makanya, daripada nanti generasi penerus menginjak-injak
NU, lebih baik NU
> bertindak sesuai dengan jati dirinya lah. Tidak usah jadi
petruk jadi ratu
> gitu. Petruk ya petruk. Mau nantangin HMI lagi....:) Hih,
jijay deh. Saya
> nggak bisa membayangkan bagaimana nanti terpuruknya
kehidupan para santri
> pasca Gus Dur. Apa boleh buat, itulah harga yg harus
dibeli mereka.
>
>
> Anjasmara
>
----------------------------------------------------
This email was sent using http://webmail.cbn.net.id/