Saya menyimpan pertanyaan ini sudah sejak masih kanak-kanak. Yang mana sih Hotel Oranje itu. Setelah ditunjukkan, sebagai anak-anak masgul kok warnanya nggak oranye? Sampai sekarangpun masih tetap heran bin ajaib dengan pemilik hotel dan Pemda Jatim. Kenapa nggak men-cat kembali hotel itu dengan warna oranye lagi. Kan bagus buat sejarah, buat turisme, dan bagus buat anak-anak untuk mengenang Hari Pahlawan. Ini tentu sangat berbeda dengan di negata lain. Mereka mah akan berusaha melestarikan sampai detail sekecil-kecilnya. Tujuan utamanya sih apalagi kalau bukan buat turisme. Makanya saya heran, siapa sih yang bertanggung jawab atas kelestarian hotel. Apa si pemilik hotelnya tidak mau karena masih kebelanda-belandaan, atau pemerintah yang sama sekali nggak punya sense. Selain itu, Sidik yang gugur itu dijadikan pahlawan tau nggak ya? Saya nggak pernah dengar ada pahlawan namanya Sidik. Ada juga Pak Sidik tetangga saya. Hmm....:) Anjasmara ------------------------------------- Sabtu, 11 November 2000 Hotel Majapahit dan Sejarah Perjuangan Arek Surabaya BILA warga Surabaya melalui Jalan Tunjungan, mereka akan melewati sebuah hotel bintang lima bercat putih. Padahal saat pertama kali didirikan tahun 1910, Hotel Majapahit Mandarin Oriental itu dicat dengan warna oranye pekat, menyesuaikan namanya, yakni Hotel Oranje. Walau kini menyandang nama baru (diganti tahun 1996), Hotel Majapahit tetap memelihara sejarahnya. Peristiwa perobekan bendera Belanda oleh arek-arek Surabaya pada tanggal 19 September 1945 terjadi di hotel ini. Kamar-kamar yang mempunyai nilai sejarah adalah kamar Merdeka nomor 33 dan kamar Sarkies nomor 44. Kamar Merdeka adalah kamar yang ditempati Residen Belanda saat terjadi perobekan bendera Belanda. Kamar yang dulunya memiliki pintu rahasia tersebut sempat diserbu pemuda Surabaya ketika mereka mendesak penurunan bendera Belanda. Sedangkan kamar Sarkies adalah kamar tempat keluarga Sarkies, pendiri Hotel Oranje, selalu tinggal bila datang ke Surabaya. Di kedua kamar yang termasuk kelas suites itu diletakkan foto dan narasi mengenai sejarah yang terkait pada kamar tersebut. *** HOTEL Oranje pertama kali didirikan pada tahun 1910 dengan gaya colonial art nouveau. Arsiteknya, J Afprey, orang Belanda. Pendirinya, Lucas Martin Sarkies, berasal dari keluarga Sarkies yang terkenal sebagai pemilik kerajaan hotel di Asia. Hotel-hotel yang dimilikinya antara lain Raffles Hotel di Singapura, yang hingga kini masih menjadi salah satu hotel bergengsi di negeri jiran itu. Keluarga Sarkies juga merupakan pemilik The Strand Hotel di Myanmar, The Eastern and Oriental Hotel di Penang (Malaysia), dan Hotel Niagara di Lawang (Jawa Timur). Pada pertengahan Perang Dunia II (1942), Hotel Oranje diambil alih penjajah Jepang dan dijadikan barak militer dan kamp tahanan sementara untuk perempuan dan anak-anak yang akan dipindahkan ke Jawa Tengah. Nama hotel pun diganti menjadi Hotel Yamato. Nama ini hanya bertahan tiga setengah tahun, saat penjajahan Jepang. Pada tanggal 19 September 1945 pukul 06.00, tentara Belanda yang tergabung dalam tentara Sekutu menaikkan bendera Belanda berwarna merah-putih-biru di atas puncak Hotel Yamato. Pengibaran bendera ini membuat warga Surabaya marah. Ribuan warga yang sebagian besar pemuda segera berkumpul di depan hotel. Sebagian pemuda memakai seragam hitam, yang biasa dipakai oleh Jibakutai, barisan berani mati. Menurut pengakuan Sudi Suyono, salah seorang pemuda, yang dikutip dari buku Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan (1994), massa terus datang mengalir. Jalan Tunjungan, halaman hotel, serta halaman toko yang berdampingan penuh massa dengan luapan amarah. Agak ke belakang halaman hotel itu, beberapa tentara Jepang tampak tenang berjaga di posnya. Ketika kerumunan semakin memadat, muncullah Residen Sudirman dengan mobil hitamnya. Mobil itu sudah dikenal dan massa pun menyibak memberi jalan. Residen Sudirman masuk ke hotel, diikuti beberapa pemuda, di antaranya Sidik dan Hariyono. Residen Sudirman ditemui Ploegman, yang mengaku sebagai perwakilan Sekutu. Tanpa banyak omong, Residen Sudirman langsung membicarakan masalah inti, meminta supaya bendera Belanda diturunkan. Namun, Ploegman menjawab, "Tentara Sekutu telah menang perang, dan karena Belanda adalah anggota Sekutu, maka sekarang Pemerintah Belanda berhak menegakkan kembali pemerintahan Hindia Belanda. Republik Indonesia? Itu tidak kami akui." Kemudian Ploegman pergi ke belakang dan muncul kembali dengan menggenggam sepucuk pistol. Dia mengancam Pak Dirman dengan bentakan keras. Sidik dan Hariyono yang mendampingi Pak Dirman segera menendang pistol dari tangan Ploegman. Pistol itu meletus dengan laras ke atas. Hariyono cepat membawa Pak Dirman ke luar hotel. Sementara Sidik ber-gulat dengan Ploegman dan mencekiknya hingga tewas. Namun, Sidik pun akhirnya tersungkur kena sabetan kelewang tentara Belanda yang datang karena mendengar bunyi letusan pistol. Di luar hotel, beberapa pemuda memanjat dinding hotel dan naik sampai ke puncak. Hariyono, yang tadi membawa Pak Dirman ke luar, ada di antara pemuda-pemuda itu. Pemuda Kusno Wibowo telah ada di dekat tiang dan menurunkan bendera Merah-Putih-Biru. Dari atas, ia meminta supaya diberikan bendera Merah-Putih, tetapi tidak ada yang bisa memenuhi permintaannya. Kusno Wibowo dan Hariyono tidak kehabisan akal. Bendera Belanda yang sudah diturunkan itu dirobek bagian birunya sehingga tinggal merah dan putihnya. Setelah itu, Kusno Wibowo dan Hariyono mengibarkan kembali bendera Merah-Putih di tiang yang sama. Peristiwa Bendera di Hotel Yamato ini tidak saja merupakan ujian bagi Belanda, tetapi merupakan ketentuan yang harus diperhitungkan pemimpin Indonesia tentang rencana Belanda kembali menjajah Indonesia. *** PERISTIWA perobekan bendera itu selalu dikenang warga Surabaya sebagai bukti tekad warga Surabaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hotel Majapahit, yang 75 persen sahamnya sekarang dimiliki Grup Sekar, sebagai bagian dari Kota Surabaya pun berkali-kali mengadakan acara berkaitan dengan kenangan tersebut. Misalnya, berulang kali Hotel Majapahit mengundang Roeslan Abdul Gani. Sebagai salah seorang tokoh Peristiwa 10 November 1945, Roeslan diminta menceritakan pengalamannya kepada siswa SD atau hadir menyaksikan kegiatan yang berkaitan dengan Hari Pahlawan. Tahun ini, Hotel Majapahit juga mengadakan Open House agar warga Surabaya bisa menikmati suasana bersejarah dengan datang ke Hotel Majapahit. Serangkaian pertunjukan, yang meliputi musisi kelas internasional serta pergelaran seni musik dan tari, ditampilkan di kebun dan bangunan hotel bersejarah ini. Dan, sebagian besar program ini dipersembahkan secara cuma-cuma bagi warga Surabaya. (M Clara Wresti) _________________________________________________________________________ Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com. Share information about yourself, create your own public profile at http://profiles.msn.com.
