Banyaknya Hadiah Lebaran Tidak Dilandasi Pola Pikir Efiensi/ Efektivitas Storyby Nasrullah Idris 29/11/2000 (18:00) BANDUNG (SuratkabarCom) - Sayang, banyak Hadiah Lebaran yang tidak dilandasi pola berpikir efisiensi/efektivitas. Sehingga manfaatnya bersifat spekulatif : sulit ditebak sejak penyerahannya. Maka itu tidak perlu heran bila banyak Hadiah Lebaran menjadi tidak/kurang bermanfaat bagi si penerima. Terkadang bak memberi garam kepada para nelayan. Sehingga terpaksa dijadikan Hadiah Lebaran lagi. Padahal pemberi pertama tentu berharap agar pemberiannya bisa dipakai. Di sinilah pentingnya perhitungan. Yaitu mencari data berupa kebutuhan penerima dan kemampuan pemberi. Interaksi keduanya menghasilkan keputusan bernilai selektif dan rasional. Yakinlah peluang untuk bisa terpakai pun akan bertambah besar. Logika ilustrasinya : memberi Hadiah Lebaran berupa kemeja kepada penjual cendol keliling tentu akan lebih kena ketimbang pengecer kemeja trotoar. Hadiah Lebaran hasil perhitungan sesungguhnya menunjukkan adanya kasih sayang dan tanggung jawab dari pemberi. Ia berobsesi adanya perubahan positif pada penerima dalam jangka waktu tertentu akibat penggunaannya. Sedangkan besarnya manfaat Hadiah Lebaran dari aspek psikologis menggambarkan luasnya wawasan si pemberi dalam hal pengambilan keputusan. Memang mulanya dirasakan kurang efisien. Terlebih untuk produk berharga murah. Tetapi justru tanpa itulah banyak Hadiah Lebaran menjadi tidak efektif dan tidak efisien. Tetapi bila sudah dicoba serta bertepat guna mungkin akan merangsang kita untuk melakukannya lagi. Soalnya kebanyakan pemberi tidak melakukannya karena belum dicoba. Apalagi bila tidak merasa terdemami apresiasi/terdorong berbuat gituan. Media massa selaku apresiatornya pun sampai kini tampak belum bicara banyak. Minimal dalam bentuk iklan layanan masyarakat. Apa memang pernah TV kita menayangkan slogannya. Dengan perhitungan berarti penerima akan menikmati. Siapa tahu mengubah nasib ke arah lebih baik. Ini terlepas harga barangnya. Coba kita pikir apakah memberi hadiah kepada ulama serta berkecukupan lebih efektif dengan buku agama atau sarung sholat? Secara statistika jelas yang pertama. Karena sama saja dengan menyampaikan pengetahuan baru. Sedangkan sarung sholat jelas tidak. Berdasarkan pengalaman pun rasanya susah mencari ulama seperti itu sampai tidak mempunyai sarung sholat satu pun. Produk eksklusif bernilai tambah terhadap syiar Islam rasanya lebih pantas diberikan kepada mereka. Bagaimana pun kayanya ulama tetap tidak akan memiliki semua sarana bagi kegiatannya itu. Kini berpulang pada kita : apakah jeli melihat kekosongannya kemudian diantisipasi dengan pemberian Hadiah Lebaran terkait? Langkah Irfan bisa dijadikan contoh. Tiga hari menjelang lebaran ia memberi Hadiah Lebaran kepada Paman Sidik berupa buku seputar penulisan teks khutbah Idul Fitri. Ini dengan asumsi bahwa pamannya berstatus kiai itu tidak mempunyai buku tersebut. Ya memang benar! Pucuk Cinta ulam tiba. Buku itulah justru yang sedang dicari. Akhirnya dengan penuh semangat Paman Sidik bisa membuat teks khutbah dengan mutu/bahasa semakin baik. HIKMAHNYA Cukup banyak hikmah kesadaran intelektual semacam itu. Di antaranya meningkatkan kesejahteraan. Sebab dengan perhitungan sama saja dengan meningkatkan kesetiakawanan. Juga menekan resiko pemborosan ekonomi akibat produk : tidak terpakai atau banyak bersisa. Pada saat lebaran banyak rumah tangga mengalaminya. Yang cukup menonjol misalkan makanan terpaksa masuk tong sampah karena sudah basi. Ketupat, tapai ketan, dan sayur sering menjadi korban. Padahal modal pembuatannya mungkin saja masih ngutang karena gaji kantor suami sudah habis untuk membeli sarana lebaran lainnya. Untuk kalangan atas biaya penyambutan lebaran bisa puluhan juta rupiah. Mendingan bila efektif/efisien semuanya. Tetapi kenyataan tidak! Taroklah 5% terbuang percuma karena kurang perhitungan. Berarti ratusan ribu rupiah terbuang percuma. Dari segi pendidikan berarti kegiatan perhitungan seperti itu bisa meningkatkan ketajaman intelektual pemberi dalam mengambil keputusan. Efek positifnya tidak lagi terbatas pada masalah Hadiah Lebaran. Juga bidang lainnya. Berhasilnya para industriawan pun umumnya karena kepiawaiannya dalam perhitungan. Mereka mampu membuat produk dengan biaya sangat murah namun nilai jualnya sampai beberapa kali lipat. Akhirnya memberi kesadaran bahwa memberi Hadiah Lebaran tidak harus terpaku oleh produk trendi saja. Makanan, pakaian, dan sepatu misalnya. Ada peribahasa bernuansa statistika : "Sekali Perhitungan Seribu Keuntungan". Meskipun imajinatif serta belum tentu bisa diterapkan di lapangan namun sedikit-banyak memberikan motivasi bahwa perhitungan itu memang membawa keuntungan berupa penghematan dan fungsional. PENGENTASAN KEMISKINAN Coba bila hal itu diaplikasikan untuk memperdayakan Hadiah Lebaran dengan omset puluhan trilyun rupiah itu di seluruh pelosok tanah air. Sehingga kesejahteraan akibat kemanfaatannya tidak sekedar berupa puas makan ikan juga punya kail ikan. Maksud tamsil ini ialah hendaknya dari omset Hadiah Lebaran hendaknya diarahkan pula untuk meningkatkan SDM masyarakat. Cerita berikut ini kiranya bisa dijadikan model. Pak Sudin pada Idul Fitri tahun kemarin tidak saja memberi makanan dan pakaian kepada Didi. Tetapi juga mesin ketik. Kemenakannya dari keluarga miskin itu ia anggap mempunyai kemampuan mengetik sangat tinggi : cepat dan akurat. Dalam surat singkatnya ia berharap : semoga alat tulis tersebut tidak lagi membuat Didi menganggur serta sekaligus titik awal dalam usaha mencari nafkah. Memang benar. Tiga minggu kemudian Didi mulai menerima jasa mengetik di rumahnya. Ia membuat slogan Menerima Ketikan pada papan triplek. Lalu ditempelkan di tempat strategis. Tarif minimalnya seribu rupiah per lembar. Barulah dua minggu lagi ia menghasilkan setiap. Mulanya tiga ribu rupiah. Lalu meningkat menjadi tujuh rupiah. Akhirnya karena sudah dikenal ia bisa mengantongi sampai sepuluh ribu rupiah. Jadi tidak perlu lagi mengompas ibunya untuk ini-itu. Alangkah besar pengaruhnya terhadap upaya pengentasan kemiskinan bila pemberian Hadiah Lebaran ala Pak Sudin menjadi tradisi setiap menjelang Idul Fitri sebagaimana sepatu, tapai ketan, sampai pakaian. Dalam skop nasional yakinlah akan ditandai melonjaknya SDM dalam substansial fantastis. Gilirannya meningkatkan identitas bangsa kita juga. Mesin ketik bisa saja murah. Apalagi kini harganya cukup jatuh di pasaran berhubung semakin maraknya komputer. Tetapi keputusan Pak Sudin tersebut menggambarkan sosok kesadaran intelektual maupun perasaan peduli terhadap masa depan seseorang. Jelas tidak bisa dinilai dengan uang. Apalagi dipadankan dengan harga produk itu sendiri. Sang dermawan itu bisa kita ibaratkan dengan upaya seorang ilmuwan mengeringkan arang basah agar bisa terpakai untuk bahan bakar. Ia sadar bahwa barang ini tidak bisa dituntut untuk menghasilkan api dengan cara apa dan frekwensi berapa pun tanpa memperhatikan kendala pokoknya : mengurangi kadar air. Sikap realistis ini membuatnya merasa perlu berkorban dengan menjemurnya sampai suhu tertentu serta mencapai kelayakan. Entah berapa banyak lagi nasib seperti Didi lainnya dari semua tingkatan pendidikan. Mereka menganggur karena banyak sebab. Di antaranya belum ditemukannya lubang jarum untuk memperdayakan dan mengembangkan potensi pada dirinya. PENUTUP Budaya memang bisa mengubah bangsa dari suatu kondisi tertentu menjadi kondisi semakin baik. Nah, mengingat mayoritas orang miskin di Indonesia adalah ummat Islam maka kiranya tidaklah berlebihan bila Hadiah Lebaran dengan perhitungan seperti langkah Pak Sudin bisa dijadikan salah satu solusinya. Bukan berarti Hadiah Lebaran selama ini tanpa perhitungan. Saya tidak menganggap demikian sama sekali. Hanya saja mutu dan apresiasinya perlu ditingkatkan. Tidaklah berlebihan bila pemerintah bersama berbagai tokoh Islam menjadikannya sebagai salah satu solusi pengentasan kemiskinan. Kemudian diapresiasikan seperti melalui pidato dalam acara berbuka puasa bersama. Adanya kemampuan kuat ke arah sana gilirannya kelak akan menjadi kegiatan rutin masyarakat muslim di tanah air setiap menjelang 1 Syawal. Malah mungkin saja kelak akan berlanjut dengan keterlibatan lembaga : zakat, infak, dan sedekah. Misalkan sebagai konsultan di mana para dermawan bisa menanyakan masalah kelayakan/ kemanfaatan dari barangnya bila dijadikan Hadiah Lebaran untuk anu. Sejarah telah mencatat bahwa kapan dan di mana pun pemerintah mempunyai andil besar terhadap pembentukan tradisi pada bangsanya. Mereka memobilisasi rakyat untuk terdemami hasil pemikiran hingga kelak sedikit-banyak mengkristal pada dirinya masing-masing. Selanjutnya diwariskan dari generasi ke generasi melalui proses dinamisasi dan modifikasi.
