|
Bung Michael yang terhormat,
Masalah perseteruan antar golongan itu menarik untuk ditinjau lebih jauh.
Di Indonesia, segala hal yang berbau kepentingan golongan itu sudah ditabukan.
Seakan semua golongan harus bebas kepentingan dan hanya ada kepentingan nasional
atau kepentingan bersama. Akibatnya, kepentingan golongan tidak dibicarakan
secara transparan dan terus terang tapi dengan kasak-kusuk dan telikung
sana-sini. Anjuran untuk tidak membicarakan kepentingan golongan itu bagian
dari politik Orde Baru, yang boleh dibicarakan adalah kepentingan nasional dan
kepentingan nasional itu sendiri didefinisikan oleh "negara". Padahal,
kepentingan golongan itu eksis dan merupakan bagian dari realita sosial politik.
Karena itu mengapa harus disembunyikan?
Hal ini terkait dengan tulisan Bung Michael yang bertujuan "menyerang
mereka
yang merusak nama Islam". Rasanya tulisan anda perlu ditelaah lebih jauh. Dan, sesuai anjuran anda, saya baca tulisan itu sekali lagi. Anda menulis, "The more dangerous element of
Islamic Fundamental is actually the ones that sit on Indonesian parlement.
Some of them on Indonesian current cabinet, even as high as Speaker of the
House, and no. 2 spot in the current government. These type of people are
to whom US should really pay attention to."
Anda sebut mereka sebagai orang berbahaya. Mengapa? Lalu anda jelaskan
alasan keberbahayaan mereka yaitu:
"It is widely suspected that the ultimate goal of these people
are, in the following order: to replace the out-of-shape and out-of-idea
the current head of state, to overhaul the current shabby government, to
replace the constitution with so called Piagam Jakarta, and to install
restrictive Moslem syariah rules across all over Indonesia."
Dari penjelasan itu nampak jelas bahwa kekhawatiran anda bukan pada
macetnya proses demokrasi tapi pada menangnya aspirasi kelompok pro piagam
jakarta.
Penulis yang obyektif dan bebas kepentingan golongan tentu akan menilai
perjuangan sebuah aspirasi, apapun aspirasi itu, adalah bagian dari kegiatan
politik yang wajar dan lumrah. Selama aspirasi diproses melalui institusi
demokrasi, maka aspirasi itu sah-sah saja. Justru kegiatan extra-institutional
democracy yang menggunakan kekerasan itulah yang berbahaya. Sementara semua
kegiatan institutional demokrasi adalah kegiatan yang legitimate.
Penulis yang bermuatan kepentingan, misalnya penulis yang tidak setuju
dengan aspirasi kelompok pro piagam Jakarta tentu akan memandang dan
menganggap aspirasi pro piagam jakarta sebagai aspirasi yang berbahaya, seperti
tulisan yang anda buat. Tapi jangan khawatir, anda tidak sendirian. Ada banyak
kelompok yang tidak setuju. Dan, aspirasi kelompok penentang piagam Jakarta
inipun adalah aspirasi yang sah dan legitimate.
Masing-masing aspirasi atau kepentingan itu silahkan berkompetisi dalam
arena demokrasi. Bukankah demokrasi itu pada dasarnya sebuah sistem untuk (1)
mendialogkan kepentingan dan (2) mengelola konflik kepentingan dimana hasilnya
ditentukan sepenuhnya oleh para pelakunya.
Jadi kalau anda punya aspirasi yang berseberangan dengan kelompok
pro-piagam Jakarta maka aktiflah menentangnya. Demikian pula mereka yang
mempromosikan piagam jakarta. Silahkan aktif memperjuangkan. Lalu, masing-masing
pihak harus sportif. Bila setelah melalui proses demokrasi salah satu gagal maka
diterima saja kegagalannya , bukankah itu hasil proses demokrasi.
Dari paparan ini terlihat anda sudah menempatkan diri sebagai penentang
aspirasi pro-piagam Jakarta, dan menyebutnya sebagai aspirasi berbahaya. Bahkan
anda menyebut pejuang aspirasi itu sebagai "perusak nama Islam". Lebih jauh
lagi, anda telah menganjurkan pemerintah asing -Amerika Serikat- supaya
ikut campur proses politik dalam negeri agar proses demokrasinya sesuai
dengan aspirasi anda.
Tulisan macam itu bukan sekedar masalah, mengutip tulisan anda,
"penggunaan bahasa yang kurang tepat, walaupun saya berusaha untuk secara
cermat memilih kata yang sesuai" tapi jelas-jelas mencerminkan cara
berfikir dan berujar yang partisan dan penuh muatan kepentingan golongan. Sekali
lagi hal itu sah-sah saja karena dalam realitanya kepentingan golongan itu
memang jelas-jelas eksis.
Dalam milis ini jadi bermasalah karena anda pernah menganjurkan agar milis
ini bebas dari perseteruan antar golongan, sebuah anjuran yang selalu digalakkan
dalam politik orde baru. Karena itu, seperti kata Mas Syamil, tulisan anda
yang partisan dan bermuatan kepentingan golongan itu jadi bukti otentik bahwa
anda telah melanggar anjuran anda sendiri.
Kalau saja kita mau jujur dan transparan, membicarakan perbedaan
kepentingan itu jauh lebih baik daripada selalu menggunakan topeng universalist
seakan steril kepentingan golongan untuk menggolkan agenda-agenda
yang sarat muatan kepentingan golongan.
Terima kasih,
Anies Baswedan
|
- Re: Lain dulu dan sekarang Michael Tjiptaputra
- Anies Baswedan - YHO
