Selamat Natal temanku, semoga damai selalu besertamu.

+++++++++++

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0112/24/UTAMA/kese01.htm


Senin, 24 Desember 2001
Renungan Natal
Keselamatan dari yang Kumuh

Oleh BS Mardiatmadja


Kompas/danu kusworo

TINA, perempuan muda, tamat S-1, nekat. Ia meninggalkan rumah. Ia mencari
teman baru. Terdampar di daerah kumuh Senen, Jakarta Pusat. Tunawisma dan
penjual asongan curiga. Tina pantang mundur. Lama-kelamaan mereka akrab.

Suatu kali serombongan petugas mengadakan razia, yakni menggaruk pelacur
dan mencari pencuri. Teman-teman Tina, kebanyakan penjual koran dan tukang
semir sepatu, ikut digaruk. Alat-alat kerja mereka dirampas, dan uang yang
sedikit direbut. Tina maju membela mereka. Minta surat tugas para polisi.
Tidak ada. Menanyakan kesalahan anak-anak. Tidak kena. Menuntut kembali
koran dan alat semir sepatu. Sesudah seminggu, harta anak-anak itu
dikembalikan.

Tina tidak berhenti. Ia meminta ganti rugi karena seminggu teman-temannya
tidak kerja dan tidak mendapat uang. Hakim mengabulkan. Lambat laun Tina,
gadis Manggarai itu, diterima sebagai bagian kaum duafa. Anak-anak kecil
sayang padanya dan preman-preman segan kepadanya. Mereka mau diajak tinggal
di suatu rumah yang mereka sewa. Anak-anak belajar dan sekolah lagi. Pernah
rumah mereka hampir dibakar oleh tetangga.

Difitnah seakan-akan mengganggu ketenangan lingkungan. Mereka berhasil
mencegah pembongkaran paksa. Karena komunitas mereka memang tidak
mengganggu tetangga, bahkan menciptakan suasana belajar. Tina merasa
berjasa? Tidak. Baginya, "Saya menemukan kembali hidup sejati saya justru
melalui teman-teman di pinggir rel Pasar Senen." Hidupnya terasa lebih
berarti. Ada cahaya baru yang menyegarkan kebahagiaannya. Komunitas mereka
ternyata merupakan basis bagi aneka kegiatan anak-anak yang penuh
solidaritas. Mereka itulah pembawa keselamatan bagi Tina.

Juga Mona, gadis yang tinggal di kawasan Kramat. Ia tamatan S-2 Universitas
Indonesia, dan dosen di suatu perguruan tinggi. Hatinya dan hati
teman-teman sekomunitasnya tersentuh menjumpai anak-anak usia 4-12 tahun di
kampungnya: sudah kelas tiga belum mampu menulis dengan lancar dan
matematika. Anak kelas 1-2 belum mampu membaca. Mona mengundang para
orangtua untuk mengirimkan anak-anaknya tiap hari Minggu ke rumahnya.

Mereka menambah pelajaran membaca, menulis, matematika, dan bahasa Inggris.
Gratis. Tak pernah menyentuh urusan agama dan iman. Setelah enam bulan,
tiap minggu sore, hampir seratus anak tekun belajar
di pendapa rumahnya. Para orangtua gembira. Kenakalan anak-anak berkurang,
bahkan mereka tambah pintar. Secercah cahaya bersinar di kampung itu.

Namun, Ketua RW yang semula mengizinkan pelayanan itu dihasut satu dua
orang yang kalah pamor. Mereka melarangnya. Padahal, lurah mengizinkan.
Para orangtua anak-anak itu berdemo ke rumah RW, membela Mona, namun Ketua
RW bersikeras. Mona menutup pelayanannya. Ia mau ikut menjaga
lingkungannya. Hasilnya, kini anak-anak berkeliaran lagi. Kampung itu
kembali suram karena anak-anak tidak belajar, berkeliaran lagi, dengan masa
depan gelap.


***


DUA perempuan itu memperoleh dan membawa terang pada lingkungannya, karena
itu memperoleh keselamatan. Mereka mau membawa pembebasan dari keliaran dan
kebodohan bagi anak-anak; bersama orang sekampung. Di situ mereka menemukan
pembebasan bagi dirinya sendiri dari keterbatasan yang semula mereka miliki
di tengah lautan rakyat miskin di Ibu Kota. Mereka menemukan harkat manusia
yang tidak terlampau dibungkus dengan pelbagai topeng. Mereka datang ke
tengah saudara-saudara sendiri.

Namun, lingkungannya tidak begitu saja menerima. Terdengar gema dari nas
Yohannes, yang dulu sering dikutip dalam akhir ibadat, "Ia datang kepada
milik-Nya, namun milik-Nya tidak menerimanya."

Ucapan itu tidak sepenuhnya tepat. Sebab, ada juga yang menyambutnya, yaitu
orang-orang dan anak-anak seperti yang dilayani Tina dan Mona, yaitu para
gembala domba, pengembara, orang kecil dari desa seperti Yusup dan Maria
yang mencari Tuhan. Lalu orang-orang ini menjadi pewarta perdana Kabar Baik
yang datang dari Allah kepada Tina, Mona, dan lain-lain.

Di Kali Code, Yogyakarta, ada Mangun, di Senen ada Tina, di Kramat ada
Mona, di jutaan tempat kumuh ada ladang, tempat teman-teman si gembala
hadir. Orang sering keliru memandang mereka. Seolah mereka anak-anak yang
terutama memerlukan sumbangan pakaian bekas, yang bila dikumpulkan
sekaligus membantu membersihkan gudang orang kaya.

Ribuan kelompok orang baik berhasil menjaring berton-ton mi dan beras, yang
memang pada waktunya diperlukan oleh perut yang lapar. Namun, anak-anak di
sepanjang rel kereta api atau bantaran sungai kota besar membutuhkan
sesuatu yang lain. Sebab, mereka sudah mempunyai harta dan tugas amat
berharga, yakni solidaritas. Justru merekalah pembawa Kabar Baik bagi
egois-egois kota besar.

Mereka memerlukan peluang untuk meningkatkan rasa harga diri, dengan tahu
bahwa pengetahuan mereka bertambah, keterampilan mereka berkembang,
pandangan mata orang tidak merendahkan. Sangat mengagumkan, betapa orang
dan anak-anak, penggosok sepatu dan pemulung itu, memiliki jauh lebih besar
kesetiakawanan daripada gerombolan ABG yang berkumpul di mal dan
sekolah-sekolah bagus.

Amat mempesonakan, betapa anak-anak itu kerap mempunyai rasa tanggung jawab
yang jauh melampaui anak-anak manja gedongan. Mereka bekerja teliti dan
bersungguh-sungguh. Pemuda-pemudi tekun memilah-milah barang-barang sebagai
pemulung di tempat sampah. Sering lebih teliti daripada mungkin banyak
anak-anak yang terdaftar di sekolah, namun pekerjaannya tawuran dan
mencontek di kelas. Atau banyak pegawai-pegawai yang membuang waktu dengan
membaca koran. Atau sejumlah anggota DPR yang mengisi daftar hadir lalu
membolos. Atau puluhan anggota MPR yang tidur di depan kamera televisi.
Atau sekelompok tentara dan polisi yang bertempur di Madiun tempo hari.
Atau penegak hukum yang gagal menemukan argumen dan bukti meyakinkan untuk
menghukum penjahat di Trisakti, Semanggi, Timor Timur, maupun 27 Juli
kelabu.


***


MELALUI anak-anak pemulung dan penyeka sepatu serta relawan-relawan
kemanusiaan, dari yang paling kumuh di rel kereta api sampai yang prominen
seperti Mangunwijaya, Wardah Hafidz, dan Esther Jusuf atau Tina dan Mona,
secercah cahaya kemanusiaan bersinar kembali di pangkuan Pertiwi.
Diperlukan Tina, Mona, Wardah Hafidz, Esther Yusuf, Mangunwijaya, dan
kawan-kawan yang rela menyelami nasib rakyat tertindas, untuk mengangkat
martabat manusia. Di balik tindakan dan komitmen mereka itu tersimpan Roh
Cinta Kasih, yang juga telah sudi mendatangi gadis desa, Miryam, untuk
menunjukkan bahwa Allah yang Mahabesar sudi menjadi kecil di tengah umat
manusia. Sebab, lingkaran setan kejahatan tidak dapat dipecahkan oleh
filsuf Yunani dan Orang Bijak lain dari Timur.

Marx dan Nietzsche yang filsuf, maupun Adler yang psikolog, tidak juga
mampu menguraikan benang kusut jahatnya kekuasaan. Allah yang "sudi
merendahkan diri menjadi sama dengan manusia dalam segala hal, kecuali
dalam hal dosa" sajalah yang telah mampu mengangkat martabat manusia, yakni
menjadikan kita semua sadar bahwa semua manusia memiliki harkat sama,
sebagai anak-anak Yang Maha Berharga.

Ternyata orang kecil itu bukan bagian terbawah struktur bangsa kita. Mereka
itu ada di atas piramid baru bangsa kita. Sebab, mereka itulah pewarta
Kabar Baik bahwa martabat manusia tidak terletak pada ijazah, lembar cek,
surat keputusan menjadi anggota MPR/DPR atau menteri. Dari dirinya, manusia
sudah berharga. Manusia juga bukan Sumber Daya bagi industri, seperti
sampai sekarang kerap disebut (Sumber Daya Manusia). Mereka itu berharga
karena dirinya bermartabat. Itulah arti embrio dan bayi kecil sekalipun.
Juga bila dibungkus kumuh. Pun kalau rumahnya reyot. Bahkan, kalau habis
dipukuli oleh orang yang katanya menjaga keamanan. Malah di saat ajal
manusia disempurnakan menjadi satu dengan Yang Mahabesar. Itulah pesan
Natal yang terdalam. Yang terkait dengan Pesan Salib dan Kebangkitan.
Selamat Natal!


* BS Mardiatmadja SJ, rohaniwan, pemerhati masalah sosial.

Kirim email ke