Agama Islam tidak mengenal 'pusat kebenaran'. Otoritas kebenaran dalam Islam lebih longgar berada di tangan para ulama dan ummat yang bersandarkan Kitab Suci Al-Qur�an dan hadist (yg jelas riwayatnya).
Dalam Islam, kemerdekaan berpikir (hifz al-'aql) Menjadi salah satu dari lima pilar (dharuriyyat al-khams) yang dilindungi agama. Di samping kemerdekaan beragama (hifz al-din), hak untuk hidup (hifz al-nafs), hak untuk memunyai keturunan (hifz al-nasl), dan hak untuk mempunyai harta (hifz al-mal). Islam sebagai agama yang sangat menghargai akal dituntut untuk mengimplementasikan dan melindungi kemerdekaan tersebut. Kebesaran sebuah agama sangat ditentukan oleh sejauh mana pemeluk agama memaksimalkan akal budinya dalam menatap kehidupan. Memagari agama dari pikiran-pikiran kritis hanya akan menyeret kita pada pola keberagamaan yang pura-pura. Berpikir kritis tidak selalu akan merendahkan agama, tapi justru mengagungkan. Agama yang menghalangi kemerdekaan berpikir adalah agama kerdil. Islam membiarkan umatnya berpikir dan mengekspresikan secara merdeka. Tidak ada yang lebih berharga kecuali kemerdekaan berpikir. Toleransi antar ummat beragama memang harus dijalankan, karena Al Qur�an sendiri mengatakan tidak ada paksaan dalam beragama. �Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.� [Al Baqoroh:256]. �Katakanlah: Hai orang-orang yang ingkar. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak akan menyembah apa yang kami sembah�Bagimu agamamu dan bagiku agamaku� Kalau kita tidak mengambil ayat Al Qur�an sepotong-sepotong, niscaya kita dapat lebih memahami maksud ayat yang sebenarnya. Ibarat puzzle, satu potong saja tidak bisa memperlihatkan keseluruhan gambar yang sebenarnya. Salam, Abubakar __________________________________________________ Do you Yahoo!? Yahoo! Mail Plus - Powerful. Affordable. Sign up now. http://mailplus.yahoo.com
