----- Original Message -----
From: Sjamsir Sjarif
Date: Fri, 07 Mar 2003 18:48:11 -0800
Subject: Pengalaman Registrasi

> Dari Riau Pos kita baca salah satu cerita melapor.
> -- Sjamsir Sjarif

> ============================================
>
> RUBRIK / BERITA UTAMA
>
> Wawancara di Bawah Sumpah
> Pengalaman Saat Registrasi INS di Washington DC
> oleh redaksi
> Sabtu, 08-Maret-2003, 14:21:08 WIB 11 klik
>
> Selasa pagi-pagi sekali saya naik kereta subway ke kantor INS Arlington
> Virginia. Saya tidak mau dipusingkan urusan cari parkir mobil atau secara
> periodik memasukkan koin supaya mobil kita tidak didenda atau ditarik
> (towing). Di rumah saya sudah tinggalkan satu halaman nomor telepon dan
> alamat-alamat siapa saja yang perlu dihubungi jika saya ditahan di INS
> sewaktu registrasi. Baik kantor JPNN di Surabaya dan kolega di Washington DC.
>
>
>
> Ramadhan Pohan, Washington DC
>
> Heboh? Nggak juga. Ini sekadar jaga-jaga, supaya keluarga kita tahu siapa
> yang perlu diberitahu dan tidak panik atau bingung ketika terjadi apa-apa
> saat registrasi. Pukul 08.00 waktu setempat saya sudah masuk di barisan
> antre sekitar 50 orang yang meluber sampai ke luar gedung dan trototoar
> jalan.
>
> Wajah Asia, Timur Tengah, Eropa ada di situ. Orang bule ikut diregistrasi?
> Oops tunggu dulu. Yang antre sampai ke trotoar jalan ini bukan cuma urusan
> registrasi, tapi juga bagi mereka yang mengurus ijin kerja, green card,
> paspor, dan pelbagai urusan keimigrasian lainnya.
>
> Pukul 08.22 saya sudah berdiri di depan, dan siap diperiksa dengan metal
> detector. Ada empat polisi, kulit hitam semua, kepala plontos dan
> tegap-tegap berdiri mengawasi setiap gerak kita dan tas kita. Kamera tidak
> boleh masuk.
>
> Di tahap pemeriksaan awal ini, lancar. Saya hanya membawa tas berisi
> dokumen-dokumen seperti paspor lama dan baru, I-94 (kartu yang
> memperlihatkan status dan berapa lama kita diizinkan di AS, red).
>
> Surat-surat mengenai status, keberadaan, jati diri saya yang dengan kepala
> surat resmi dari JPNN, State Department (Deplu-AS, red), dan KBRI
> Washington DC. Juga saya bawa kartu pers JPNN dan yang dikeluarkan oleh
> Foreign Press nya State Department (Deplu-AS, red). Tidak kurang, surat
> lawyer buat saya pribadi tentang tetek-bengek juga ada. Istilahnya,
> dokumen-dokumen yang saya miliki sudah diperiksa dan teruji lewat pengacara.
>
> Pukul 08:25 saya memasuki antrean kedua, dan mendapatkan formulir yang
> harus diisi.
>
> ��Pergi lah ke lantai 5,��kata petugas, sembari menyerahkan formulir dan
> nomor panggilan. Di lantai 5 ada banyak ruangan. Feeling saya tertuju ke
> pojok kanan.
>
> ��Pak, sudah pernah ke sini sebelumnya. Sudah pernah registrasi? �� Tanya
> seorang petugas, sedang duduk berbicara dengan seseorang, yang belakangan
> saya tahu rupanya WNI registran.
>
> Saya katakan bahwa ini kali pertama saya ke kantor INS untuk memenuhi
> kewajiban registrasi. Kertas hijau bertuliskan nama dan nomor panggil saya
> diambil, dan saya diminta mengisi formulir. Dari mulai identitas diri,
> pekerjaan, jenis visa sampai data kedua orang tua kita ditanyakan di
> formulir ini, dan harus diisi. Sambil duduk mengisi formulir, sayup-sayup
> saya mendengar interogasi petugas pada registran.
>
> Saya baru sadar bahwa saya sudah langsung berada di ruang registrasi.
> Tampak tak begitu istimewa. Sangat tidak eksklusif. Terlihat ada TV 36
> inci, yang tidak dinyalakan dan sebuah bendera Amerika yang ditempatkan
> tidak begitu resmi. Di situ ada meja-meja yang disusun sejajar. Ada empat
> komputer bermerk Dell warna gelap. Suasana hening sekali. Empat kursi
> petugas hanya terisi satu saja. Petugas berpakaian dinas putih yang menyapa
> saya ketika masuk ruang ini rupanya aparat INS yang bertugas memeriksa
> orang registrasi.
>
> Saya merupakan registran nomor 3, dan di belakang saya ada 5 registran
> lainnya. Wajah-wajah di ruang ini hanya dua tipe saja: Asia Selatan dan
> Timur Tengah dengan kuning langsat atau Asia Timur.
>
> ��Raja,��panggil petugas.
>
> Seorang anak muda bertampang Bangladesh atau Pakistan bangkit dari
> duduknya. Anak muda 30-an tahun ini persis di depan nomor saya. Artinya,
> habis dia diregistrasi ya saya lah.
>
> Pukul 09:25 masuk seorang petugas, muda dan sekitar 30-an, yang dibadgenya
> tertera nama V. McDonald. Seorang wanita kulit putih juga mengiringinya.
> McDonald meminta paspor saya dan memeriksa I-94 saya.
>
> ��Kamu masih dengan media? Apakah ini dengan media yang sama?��tanyanya,
> yang saya iyakan dua-duanya.
>
> Saya masih belum jelas kenapa paspor dan I-94 saya dilihat sebentar dan
> dikembalikan.
>
> ��Hasan? Ali? Husin?,��terdengar suara petugas memanggil nama-nama pemuda
> bertampang Arab dan dijawab ��yes�� masing-masing yang dipanggil.
>
> Pukul 09:35, ruangan di lantai 5 ini sudah dipenuhi 20 registran atau calon
> registran. Saya belum melihat ada WNI lain, kecuali dua WNI keturunan
> Tionghoa di depan nomor saya tadi.
>
> Saya lihat gelagat petugas memeriksa pemuda bernama Raja tadi, kelihatannya
> sebentar lagi berakhir. Petugas kelihatan ramah, lembut dan sama sekali tak
> bertampang atau bersuara sangar. Mendadak nama keluarga saya dipanggil
> McDonald. Rupanya saya diminta menunggu McDonald di depan pintu lift,
> karena saya akan dibawa ke lantai 3. Saya heran namun tak berjawab. Di
> ruang tunggu di lantai 3 ini saya lihat orang-orang lebih pluralis, dari
> mulai hitam African-American hingga yang bule-bule.
>
> Jam 09:48 petugas datang memanggil nama keluarga saya. Dia menyebut
> ruangannya dan saya pun beranjak. Sesampai di depan ruang yang pintunya
> tertutup, saya berdiri saja. McDonald mempersilahkan saya masuk. Sampai di
> situ saya belum tahu bahwa McDonald lah yang akan menginterogasi saya. Saya
> sempat menduga bahwa ia hanya mengantar saya saja dan selanjutnya bakal ada
> petugas lain.
>
> Dugaan saya keliru total. Sambil menuju kursinya, McDonald yang menyilahkan
> saya duduk. Ruangan ini kecil dan hanya berisi meja kerja dan tanpa sofa
> atau ruang duduk tamu. Di sinilah akhirnya saya tahu bahwa registrasi
> dilakukan terhadap saya.
>
> McDonald bertanya kabar dan keadaan saya. Ia kelihatan sangat ramah, sopan,
> sabar dan santun sekali. Saya tahu ini, lebih-lebih ketika tadi sebelumnya
> di lantai 5 saya lihat dia meladeni seorang dari Asia Selatan atau Timur
> Tengah yang banyak bicara bertele-tele, tapi McDonald sabar meladeni. Ada
> nilai plus dia: air mukanya teduh menghanyutkan dan wajahnya ganteng. Kaum
> wanita pasti sangat mengagumi dan mengidolakan pria seperti McDonald.
>
> Pakaiannya McDonald sama dengan petugas di lantai 5 sebelumnya: putih. Di
> pinggangnya ada pistol dan semacam rantai, layaknya kita melihat polisi
> imigrasi di bandara.
>
> Saya lirik jam, pukul 10:00. Sebelum interogasi saya diingatkan bahwa
> wawancara ini di bawah sumpah dan bila melanggarnya maka terkena �perjury�
> (sumpah palsu). Ini ada hukumannya sendiri. Ditanyakan juga apakah kita
> mengerti apa yang telah diucapkannya. Selanjutnya, pertanyaan demi
> pertanyaan mengalir cepat. Tak ada pertanyaan politik tak ada soal
> terorisme dan tak ada pula pertanyaan yang berelasi dengan agama.
>
> Saya ditanya alamat kantor Koran ini di Indonesia dan Amerika. Khusus untuk
> di Washington DC, saya katakan bahwa tempat kerja saya itu beragam dan luas
> sekali. Kadang saya mengirim laporan dari Gedung Putih, Capitol Hill
> (Gedung Kongres AS), State Department, kantor-kantor LSM, kampus-kampus,
> kantor Foreign Press Center atau malah di apartemen sendiri. Sebagai
> reporter kita memang bisa mengirim berita dari mana saja. Tergantung
> situasi. McDonald bilang dia mengerti tugas saya sebagai reporter koran
> Indonesia di negerinya George Walker Bush ini.
>
> Kendati bertampang 30-an tahun, McDonald nyata sekali cukup professional,
> cekatan dan tertib. Setiap kata yang meluncur dari mulutnya atau gerak
> tangan dan tubuhnya, serba terukur, jelas, sopan namun tetap tegas. Ketika
> saya lihat dia dengan satu tangan membolak-balik visa, saya mencoba
> bercerita apa saja yang mungkin berkait dengan sesuatu yang dicarinya.
>
> Dia mengangguk-angguk mendengarkan saksama penjelasan saya, dan sorot
> matanya sama sekali tidak pindah dari pandangan mata saya. Berhadapan dan
> bertatapan dalam jarak kira-kira 1,5 meter, orang awampun pasti tahu mana
> mata yang berdusta dan bukan. Apalagi untuk seorang petugas terlatih,
> terdidik dan cakap seperti McDonald, tidaklah terlalu sukar baginya
> mengetahui kejujuran dari setiap kata yang keluar dari mulut kita.
>
> McDonald memang santun namun sama sekali tidak mengurangi kewaspadaan dan
> ketelitiannya. Cara dia menatap, bertanya dan mendengarkan, membuktikan
> semua itu.
>
> Saya sama sekali tidak tegang ketika ditanyai ini-itu olehnya. Walau, jujur
> saja, ketika sidik jari, terpaksa diulang.
>
> ��Jari Anda berkeringat. Tolong sidik jari lagi, jangan terlalu ditekan,
> biasa saja,��pintanya, yang kemudian disusul foto.
>
> Peralatan foto dan sidik jari, ada di dekat kita duduk. Sidik jari yang
> diambil adalah jari telunjuk kiri dan kanan, dengan menggunakan peralatan
> elektronik. Tanya jawab antara petugas dan saya terus berlangsung.
> Berkas-berkas dokumen dan perlengkapan saya letakkan di kursi sebelah saya.
> Sehingga apa saja dokumen atau keterangan yang diperlukan petugas, saya
> sudah siap. Tinggal mencomotnya saja.
>
> Tidak terasa waktu bergulir cepat. Saya lihat jam, pukul 10:14 ketika
> McDonald mengatakan pemeriksaan dan registrasi sudah berakhir. Jadi, saya
> diwawancarai hanya sekitar 15 menit. Lalu saya diberitahunya mendaftar lagi
> tahun depan 4 Maret 2003, yakni 10 hari sebelum atau 10 hari sesudah
> tanggal itu.
>
> Wawancara memang berjalan cepat, tidak bertele-tele. Dia mengingatkan saya
> jangan lupa registrasi lagi tahun depan. Jika saya tidak pindah
> kemana-mana, yah di INS Virginia ini lagi lah. Kesan saya, ketika dia
> mewawancarai, McDonald sudah paham hampir semua record saya. Sebab banyak
> pertanyaan dia yang mengesankan �sekadar minta konfirmasi� dari saya saja.
> Asal tahu saja, formulir isian saya saja baru belakangan dimintanya.
> Pertanyaan-pertanyaan dia mungkin sekadar men-test kejujuran. Jika keseleo
> lidah atau gugup, pasti merepotkan diri sendiri.
>
> Petugas pasti curiga kenapa registrant ini gugup, berbohong, keseleo lidah
> atau menutup-nutupi. Ada beberapa pertanyaan yang mengesankan ia sudah
> mengetahui data saya. Saya tidak bisa mendetilkannya di sini. Dari mana
> data itu? Entah dari kiriman atau dari komputernya yang bisa mengakses
> kemana-mana untuk mengetahui kemungkinan rekor kriminal atau apa saja
> aktivitas saya yang pernah tercatat oleh pemerintah AS.
>
> Berdasarkan pengalaman sendiri JPNN, kunci mengikuti registrasi adalah
> kooperatif, jujur, bicara apa adanya, tidak berbelit-belit dan lengkapi
> semua dokumen di tangan. Saya memang bersyukur melakukan semua persyaratan
> itu, di samping ekstra-terbantu karena McDonald yang ramah, santun dan enak
> tutur katanya ini.
>
> Perlu ditegaskan di sini, apa yang diurai merupakan kejadian langsung yang
> dialami JPNN. Artinya, ini belum tentu bisa jadi patokan bahwa semua aparat
> dan kantor INS persis seperti dialami JPNN ini. Lebih tepat laporan
> langsung ini dijadikan sekadar bayangan atau gambaran kasar saja. Tidak lebih dan 
> tidak kurang ***




--
__________________________________________________________
Sign-up for your own FREE Personalized E-mail at Mail.com
http://www.mail.com/?sr=signup

Kirim email ke