Kiriman dari Oom Syafri. Terimakasih.
/w/

---start of fwd msg

Cucu Murid Einstein Itu Kini Pensiun

PADA terbitan 23 Oktober 2002, surat kabar terkemuka The New York Times menyemat 
obituari fisikawan Peter Gabriel Bergmann yang-bersama Albert Einstein di Institute 
for Advanced Study Princeton- lama berusaha membangun Teori Kuantum Gravitasi. Ia 
diberitakan mangkat di Seattle, Amerika Serikat (AS), 19 Oktober dalam usia 87.

Bergmann kondang sebagai pengarang kitab babon relativitas, Introduction to the Theory 
of Relativity, semata wayang buku yang pengantarnya ditulis Einstein. Di tahun 1947, 
saat telaah relativitas menghadapi impase, Bergmann bergabung dengan Syracuse 
University, New York. Di situ ia berhasil membangun pusat studi relativitas pertama 
paling prestisius di dunia.

Roger Penrose, kawan sekaligus lawan debat Stephen Hawking yang sepantar dalam kuantum 
gravitasi, pernah bertahun-tahun meneliti di situ hingga menuai makalah penting 
tentang radiasi gravitasi, yang menjadi rujukan bagi siapa saja yang mau menelisik 
asal-usul alam semesta.

Di sebuah situs tentang Bergmann, raksasa relativitas yang masih bugar, JN Goldberg, 
mengungkapkan hingga pensiun dari Syracuse tahun 1982, Bergmann telah membimbing 32 
mahasiswa PhD dalam Teori Relativitas Umum. Mereka kini menyebar di seluruh dunia. 
Salah satu dari 32 murid itu-dan satu-satunya di Asia Tenggara-adalah Pantur Silaban.

Guru Besar Fisika Teori Departemen Fisika ITB kelahiran Sidikalang, 11 November 1937, 
ini mengisahkan keberangkatannya ke AS tahun 1967 memang dengan satu tujuan. Belajar 
Relativitas Umum! "I go there just for the General Relativity Theory, no other 
things," katanya. "Itu yang ada di benak saya waktu itu."

Hendak ulam, pucuk menjulai. Ia diterima di pusat gravitasi kajian itu di Syracuse, 
langsung dibimbing oleh Bergmann dan Goldberg. Kedua otoritas Relativitas Umum setelah 
Sang Proklamator Albert Einstein itu membekuk Silaban memasuki isu paling hangat: 
mengawinkan Medan Kuantum dan Relativitas Umum untuk meminak Teori Kuantum Gravitasi. 
Itulah impian terkenal Einstein meramu keempat interaksi yang ada di alam semesta 
dalam satu formulasi yang gagal ia peroleh sampai akhir hayatnya: Grand Unified Theory.

BAGI Silaban, ajakan itu memperjelas koordinat akademisnya, sekaligus mengorbitkannya 
dalam lingkaran kecil fisikawan dunia memburu apa yang sekarang dinamakan Theory of 
Everything. Stephen Hawking berada di inti lingkaran ini. Berbulan-bulan menguantisasi 
Relativitas Umum supaya akur dengan Medan Kuantum, Silaban, Goldberg, dan Bergmann 
gagal membidani kelahiran Teori Kuantum Gravitasi. Rekan mereka di Princeton 
mengingatkan, proyek itu adalah pekerjaan kolektif dalam skala besar y sampai 25 tahun.

"Hingga sekarang kita tahu, tak seorang pun yang berhasil membangun Teori Kuantum 
Gravitasi, bahkan Hawking sekalipun," kata Silaban. "Kawan-kawan di Princeton bilang 
for the whole of your life, Anda tak akan berhasil."

Akhirnya Silaban mengikuti saran Goldberg, mengamputasi prinsip Relativitas Umum 
dengan menggunakan Grup Poincare untuk menemukan kuantitas fisis yang kekal dalam 
radiasi gravitasi. Temuan ini mengukuhkan keberpihakannya kepada Dentuman Besar (Big 
Bang) sebagai model pembentukan alam semesta dibandingkan dengan model lain.

Pekerjaan itu selesai pada tahun 1971 dengan disertasi Null Tetrad, Formulation of the 
Equation of Motion in General Relativity. "Kami menyeimbangkan sedikit pekerjaan Roger 
Penrose di Syracuse," katanya. "Big man dia itu, saya kenal dia."

Kembali ke Bandung tahun berikutnya, Silaban menjadi orang pertama di Indonesia yang 
mempelajari Relativitas Einstein sampai tingkat doktor. Beberapa risetnya diterbitkan 
Journal of General Relativity and Gravitation. Sekian banyak makalahnya dimuat 
berbagai proceedings.

Seniornya, Prof Achmad Baiquni (almarhum), selalu menyebut nama Silaban sebagai 
otoritas bila menyinggung nama Einstein.

Beberapa kali diundang sebagai pembicara di International Centre for Theoretical 
Physics (ICTP), Trieste, Italia, yang didirikan Nobelis Fisika, Abdus Salam, Silaban 
selalu mencermati indikasi akan keberhasilan Teori Kuantum Gravitasi. Katanya, dengan 
menganggap partikel sebagai titik, upaya menguantumkan Relativitas Umum berhadapan 
dengan singularitas yang tak bisa dihilangkan.

Dengan memandang partikel sebagai string, timbul pula masalah yang tak kalah besarnya. 
Sebab, katanya, "Kita berhadapan dengan perumusan grup simeteri yang paramaternya 
sampai 496. Waduh, payah ini."

Tidak mau terjebak kepada dogma bahwa Teori Relativitas adalah kebenaran final, 
Silaban mengatakan, pangkal persoalannya justru terletak pada prinsip Einstein dalam 
Relativitas Umum. Hanya saja, kelihatannya orang belum punya keberanian yang luar 
biasa untuk merombaknya.

"Saya sedang berpikir, siapa sih, nanti yang berani menjatuhkan prinsip Einstein ini? 
Soalnya, nama Einstein ini beken sampai ke Papua," katanya dengan gurauan khasnya. " 
Tapi, jangan lupa sebetulnya tak ada satu pun teori fisika yang bertahan 
selama-lamanya. Paling seratus tahun, dua ratus tahun, begitu."

SEPERTI ada koinsidensi kosmik, kurang dari satu bulan Bergmann ke alam baka, Prof 
Pantur Silaban memasuki masa pensiun November lalu di usia 65. Sebagai ikram kepada 
ikon dalam jagad fisika teori di Indonesia ini, mantan mahasiswa dan koleganya di 
Departemen Fisika dan Departemen Astronomi mengadakan Seminar Sehari A Tribute to Prof 
P Silaban, 20 Februari lalu.

"Sulit membayangkan kehadiran fisika teori di Indonesia tanpa Pak Silaban," kata 
Triyanta PhD, Ketua Departemen Fisika ITB, salah satu mantan mahasiswa bimbingannya.

"Bila suasana akademis di ITB dan Indonesia memadai, bukan tak mungkin Pak Silaban 
menghasilkan kontribusi yang sangat berarti dalam fisika," kata Prof Dr M Ansyar dari 
Departemen Matematika, yang dibacakan Dr Freddy P Zen.

"Yang selalu saya ingat dari Pak Silaban adalah pernyataannya bahwa segala sesuatu, 
termasuk ruang dan waktu, akan berakhir," kata Prof The Houw Liong PhD dari Departemen 
Fisika ITB. "Yang tidak berakhir adalah hukum alam."

"Pak Silaban pernah menghitung bahwa temperatur neraka beberapa derajat lebih rendah 
daripada temperatur surga. Itu sebabnya orang lebih banyak berbuat jahat karena neraka 
ternyata lebih sejuk," kata Prof Bambang Hidayat PhD dari Departemen Astronomi.

Tentang ini Silaban berkomentar, "Sebenarnya bukan saya yang menghitung. Itu saya baca 
di Physics Today, beberapa fisikawan suka berpikir aneh-aneh dan mencoba menghitung 
suhu surga dan neraka dengan menggunakan statistik Boltzmann, Bose-Einstein, dan 
Fermi-Dirac."

Sehari menjelang seminar sehari itu, Silaban menerima kami dalam percakapan lima jam 
menyenangkan di kediamannya di bilangan Sangkuriang, Bandung. Tinggal istrinya, Rugun 
Lumbantoruan, yang menemaninya di situ. Keempat putrinya-Anna, Ruth, Sarah, dan 
Mary-semuanya sarjana dari perguruan tinggi negeri mandiri. Tiga sudah menikah dan 
memberinya dua cucu, Jeremy dan Joshua. (SALOMO SIMANUNGKALIT)



--
__________________________________________________________
Sign-up for your own FREE Personalized E-mail at Mail.com
http://www.mail.com/?sr=signup

Kirim email ke