Saya mengusulkan, Insya Allah kalau kita diberi umur  panjang,  masih akan 
menyelenggarakan acara  santunan/buka puasa bersama dengan yatim dan duafa, 
mungkin (perlu dikaji lagi) tidak digabung dengan acara yang lain, sehingga 
kita bisa lebih concern kepada acara itu saja.

Semoga ada manfaatnya, mohon maaf jika keliru.


  ----- Original Message ----- 
  From: M. Ishak 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, October 11, 2007 10:00 AM
  Subject: Re: [Pertashipmuslim] Renungan dan Hikmah Acara Buka Puasa Bersama 


  Shaddaqta yaa akhi Mubarok!
  Benar sekali ya saudaraku!

  Marilah mohon ampun kepada Allah Yang Maha Pengampun.
  Dan tentunya tidak ada salahnya dan semestinyalah ada semacam pernyataan maaf 
(mungkin surat barangkali atau kartu ucapan hari raya dan mohon maaf atas 
kesalahan acara kemarin?) dari perusahaan (boleh diwakili oleh Layum atau BDI) 
ke yayasan-yayasan yang diundang kemarin. 
  Bukankah kita sedang membangun citra perusahaan? Jangan sampai nila setitik 
ini akan merusak segalanya. 

  Kita berlindung kepada Allah SWT dan memanjatkan doa pada-Nya semata.

  Wassalam/m.i - BDI Bidang UDS


    ----- Original Message ----- 
    From: mubarok 
    To: [email protected] 
    Sent: Thursday, October 11, 2007 8:45 AM
    Subject: [Pertashipmuslim] Renungan dan Hikmah Acara Buka Puasa Bersama 


    Ass Wb Wb


    Berkenaan dengan penyelenggaraan Buka Puasa Bersama kemarin, perkenankanlah 
kami menyampaikan sedikit ungkapan hati kami dan mengawalinya dengan mengutip 
salah satu ayat Al Quran dan Hadits berikut : 

    "Aku adalah sebaik-baiknya penerima tamu" (QS 12 :59)

    "Hormatilah tamu-tamu kalian" (Hadits)

    Dari 2 kutipan tersebut, adalah kewajiban kita semua untuk menerima tamu 
dan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya (terutama kepada tamu yang kita 
undang). 

    Mengambil hikmah dari acara Buka Puasa Bersama kemarin, kami melihat :

    1. Kurangnya penghormatan kita sebagai tuan rumah kepada tamu-tamu yang 
diundang (Para Ketua Yayasan/Anak Yatim/Dhuafa) yang mana Rasulullah sendiri 
telah berpesan dan memberi amanat/tanggung jawab kepada kita untuk memelihara 
dan menyantuni Anak Yatim/Kaum Dhuafa. Kata 'menyantuni' disini tentunya tidak 
hanya terpaku pada hal-hal yang bersifat materi namun juga dalam bentuk 
non-materi seperti penghargaan/penghormatan/kasih sayang kepada mereka.  

    2. Berbekal hal tersebut, apakah kita sebagai tuan rumah telah menunjukkan 
'kesantunan' itu kepada mereka? Apakah kita telah sedikit meluangkan waktu kita 
untuk membaur walaupun hanya untuk sekadar bertegur sapa dengan mereka?

    3. Terlebih lagi, kami mendengar curahan hati (kekecewaan) yang terlontar 
dari kalimat-kalimat para tamu yang merasa kurang mendapat sambutan hangat dan 
'tegur sapa dari kita' sebagai tuan rumah.


    Demikian, Mohon Maaf atas kelancangan kami yang mungkin tidak berkenan di 
akhir Romadhan ini.


    Salam,
    MB

Kirim email ke