Apa yang Telah Kuberikan Padamu, Anakku?

Kubisikkan kalimat adzan ke telingamu saat kau dilahirkan, agar kelak kau 
terjaga dari suara-suara
dzalim
Kusematkan nama terindah, agar kelak kepribadianmu berpendar cahaya keelokan
Kulantunkan syair-syair keilahian, agar kelak kau mahir memilah kebajikan
Kuajak berteriak ci-luk-ba, agar kelak kau tak kaget menyaksikan keganjilan 
ulah manusia
Kujaga kau sepenuh jiwa, karena kau adalah amanat dari yang memiliki jiwa kita

Namun anakku, tatkala kesibukan menderu dari depan beranda, kasih sayang 
memburai dari jendela
belakang rumah kita
Hari demi hari aku sibuk memburu bayang-bayang kemuliaan, di antara riuh 
rendahnya persaingan dan
pertikaian
Kebersamaan kita terpenggal oleh karier dan ambisi
Kukayuh satu kewajiban, dengan melepas kewajiban lainnya
Segala awal manis kehadiranmu kini meredup tinggal cerita
Betapa lama kubiarkan kau sendirian
Kusisakan ruang kecil dalam batin untukmu, lantaran begitu banyak hal lain yang 
kuanggap besar
Kujawab sekenanya celoteh pertanyaanmu yang sarat keingintahuan
Padahal kutahu benar bahwa jawabanku sangat berarti dan akan tersemat dalam 
kalbumu

Mengapa harus menyorongmu ke baby sitter bila kau rewel, dan membelaimu hanya 
ketika kau tampil
manis?
Menghardikmu dengan kasar jika kau lambat mengenakan kaus kakimu?
Menjejalimu dengan nasehat, yang hanya pantas untuk orang dewasa, yang bahkan 
aku sendiri tak
pernah menjalankannya?
Terbayang kembali wajahmu yang pucat menyaksikanku mengaum, lantaran robot dan 
boneka mainanmu
mengotori meja kerjaku
Dengan langkah tertatih kau seret kaki mungilmu, tanpa daya kau sembunyikan 
rasa takutmu di balik
pintu
Kau tak pernah protes, sekalipun tak pernah...
Mengapa tak kuraih tubuhmu rebah dalam pelukanku, anakku...dan kujelaskan 
takzim apa-apa yang
ingin kau rekam dalam benakmu?
Bukankah dalam keluhmu, aku harus sedekat urat nadimu...
Kucoba menghitung detik demi detik, kapan gerangan aku sungguh-sungguh bersamamu



Ya Rabbi...ternyata aku kikir memberimu cinta, sementara tuntutanku seluas 
samudera
Kujebloskan kau ke sekolah mahal, agar gurunya mengambil peranku menyulapmu 
menjadi insan dambaan
orang tua, nusa, dan bangsa
Kucoba bersembunyi di balik  alasan sibuk mencari nafkah-sesuatu yang aku 
agung-agungkan selama
ini
Namun, aku tak sanggup menatap cermin muka beningmu, anakku, karena di sana 
terpantul kerut-kerut
hitamku

Aku terkejut ketika mendapatimu sudah begitu besar
Kau telah bisa berdebat dan menyodorkan pendapat yang masuk  akal
Tak ada lagi ’Winnie The Pooh’, ’Simba’ atau ’Kancil Nyolong Timun’
Bibirmu begitu fasih mengikuti Peterpan dan lagu-lagu Rap
Tawamu kini lepas terurai mendengar humor orang dewasa
Aku terhenyak merasakan kisaran waktu yang memburu
Menggebu hasrat ingin memelukmu, namun kau terlanjur besar untuk kupeluk

Kuniatkan untuk kembali pulang kepadamu, anakku…dengan segenap rasa bersalah
Akan kucoba memilin kembali pertalian kita yang telah terburai
Akan kubangun kembali peranku sebagai orang tua, betapapun karier 
mengharuskanku bergelimang dalam
jelaga
Telah kusiapkan sejuta kasih, tentang lebah dan rama-rama…tentang kebajikan, 
padang-padang hijau
dan sungai-sungai susu yang mengalir di bawahnya
Buah hatiku…semoga engkau masih mau mendengarnya.

Dari Jalan Tikus Menuju Kekuasaan, Joko Santoso HP


"Pergerakan Indonesia, Maju dan Berjayalah!"

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Lihat Arsip Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Kirim email : [email protected]
Website : ---dream works project---
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke