Senin, 16 Oktober 2006

NU-Muhammadiyah Mungkin Idul Fitri Secara Bersamaan




SURABAYA -- Di kalender-kalender, telah tertulis bahwa Idul Fitri jatuh pada 24-25 Oktober. Tapi ada kemungkinan dua organisasi massa terbesar di Tanah Air, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, menetapkan tanggal Lebaran berbeda: 23 Oktober.

Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur, Sholeh Hayat, mengatakan bila mengacu pada hasil hisab, Lebaran kemungkinan besar jatuh 23 Oktober. Dan hasil itu, kata dia, kemungkinan besar sama dengan NU bila pada tanggal 22 Oktober nanti Tim Rukyatul Hilal bisa melihat hilal (bulan muda). ''Kecuali ada mendung saat kami melakukan rukyatul hilal,'' katanya.

Bila kelak NU dan Muhammadiyah menetapkan Lebaran pada tanggal yang sama, Sholeh Hayat yang juga koordinator Tim Rukyatul Hilal PWNU Jawa Timur, itu, menilai masyarakat bisa tetap bingung. Pasalnya kalender sudah telanjur mencantumkan Lebaran 24-25 Oktober. Liburan pun sudah mengacu pada tanggal ini.

''Kalau hasil hisab yang kami lakukan dengan sistem ittifaq dzatil bainy mencantumkan ketinggian hilal dua derajat lebih selama 11 menit 14 detik pada 22 Oktober pukul 12.09 WIB, rukyatul hilal kemungkinan besar akan sukses, apalagi saat ini masih musim kemarau,'' kata Sholeh Hayat.

Sementara itu, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Nadjib Hamid, mengatakan, ahli hisab Majelis Tarjih PWM Jatim telah menetapkan tanggal 1 Syawal 1427 H pada hari Senin (23/10). ''Sesuai dengan perhitungan ahli hisab pada 17 Juni lalu, ijtimak akhir bulan Ramadhan 1427 H terjadi pada Ahad (22/10) yang bertepatan dengan 29 Ramadhan 1427 pukul 12.14 WIB, sehingga Lebaran jatuh pada tanggal 23 Oktober,'' katanya.

Pada saat matahari terbenam pada senja hari itu, kata Nadjib, hilal (rembulan usia muda) sudah mewujud untuk wilayah barat Indonesia. Di wilayah bagian tengah dan timur Indonesia, dia memprediksi hilal belum akan mewujud. ''Kalau ternyata hari raya berbeda, kami mengingatkan agar semua pihak saling memahami dan menghargai pendapat dan keyakinan masing-masing. Ukhuwah harus dikedepankan sehingga perbedaan tidak mengganggu kekhusyukan ibadah, apalagi keragaman pendapat adalah lumrah,'' katanya. ant
( )



© 2006 Hak Cipta oleh Republika Online


At 08:50 18/10/2006 +0700, Andik Harjono wrote:
Kesimpulannya mau LEBARAN SELASA ya :-D
-----Original Message-----
From: [email protected] [ mailto:[email protected]] On Behalf Of Abbas, Riansah (ID - Jakarta)
Sent: 18 Oktober 2006 8:42
To: [email protected]
Subject: [pirus] Mari kita dukung Kampanye BERSAMA BERLEBARAN BERSAMA .

Sorry kalo dah pernah terima.....dari milis sebelah...

Mari kita dukung Kampanye BERSAMA BERLEBARAN BERSAMA .


Sehabis shalat Tarawih kemarin malam saya dihentikan oleh Fadli di serambi masjid. Saya diajak duduk
bersila bersama Uun dan Kang Ngalwi. Rupanya mereka sudah mulai terlibat dalam suatu pembicaraan dan
saya diminta bergabung.


''Kang Ngalwi punya pertanyaan dan kita diminta menjawabnya,'' kata Fadli setelah saya duduk.
''Katanya, kita ini hidup sekampung, seagama, sekitab suci, senabi; tapi nanti kita akan berlebaran
pada hari yang berbeda. Di kampung ini sebagian akan berlebaran hari Senin, sebagian lagi hari
Selasa. Kenapa? Apakah ini nalar? Apakah ini patut?''


Saya tersenyum dan merasa naif. Tapi nanti dulu. Sekilas pertanyaan itu memang terasa tidak bermutu,
bahkan bodoh. Apalagi bagi mereka yang merasa pakar di bidang agama. Oleh para alim, pertanyaan Kang
Ngalwi pasti akan digilas dengan jawaban: ''Sudahlah, pokoknya kita hormati keyakinan masing-masing.
Tahun ini, yang mau Lebaran hari Senin maupun Selasa, semua baik-baik saja karena keduanya berpegang
dengan keyakinan masing-masing, dan keduanya punya dalil segudang untuk membenarkan keputusan yang
mereka ambil.''


Itulah kearifan tertinggi yang selama ini bisa dicapai oleh umat Islam. Namun sebenarnya kearifan
tertinggi itu masih menyisakan perasaan tidak nyaman dalam kenyataan hidup sehari-hari, terutama di
lapisan bawah. Jadi pertanyaan Kang Ngalwi itu tidak mengada-ada, bahkan mungkin mewakili perasaan
umum masyarakat awam.


Jelasnya, masyarakat awam merasa tidak nyaman bila ada Lebaran yang berbeda hari.


Ya, bagaimana bisa nyaman (terasa konyol) ketika masjid di sebelah sudah bertakbir dan masjid kita
masih melakukan shalat Tarawih.


Bagaimana silaturahmi tidak menjadi janggal ketika kita sudah menyantap gulai kambing, berpakaian
bagus, bergembira ria karena hari Lebaran sudah tiba tetapi tetangga masih berpuasa.


Bagaimana hati tidak terasa buntu ketika salaman kita belum bisa diterima oleh teman yang Lebarannya
baru besok hari.


''Lho, sampeyan ini diminta bergabung dengan harapan mau menjawab pertanyaan Kang Ngalwi. Kok malah
merenung,'' Fadli mengingatkan saya.


''Wah, jawaban saya pasti sudah kalian ketahui karena kita sama-sama sering mendengar ceramah yang
menyinggung masalah perbedaan hari Lebaran,'' jawab saya.


''Baik. Kalau begitu saya ingin tanya. Kalau boleh memilih, sampeyan lebih suka Lebaran bareng atau
Lebaran sendiri-sendiri?'' kejar Fadli.


''Saya lebih suka Lebaran bareng.''
''Kenapa?''
''Rasanya, itu lebih patut, lebih enak. Bahkan andaikata Kanjeng Nabi masih ada di tengah kita, saya
yakin beliau tidak berkenan dengan Lebaran yang tidak kompak ini.''


''Ya, betul. Jadi kenapa para alim yang memimpin umat tidak bisa kompak dalam menentukan hari
Lebaran?''


Terus terang saya malas menjawab pertanyaan ini sebab khawatir akan ditertawakan oleh para alim.
Maka saya senang ketika Uun mengambil alih dan mencoba menjawab pertanyaan Fadli.


''Begini, Fad,'' kata Uun. ''Perbedaan keyakinan di antara para pemimpin memang punya dasar berupa
dalil-dalil. Yang jadi masalah, saya kira, adalah sikap memutlakkan keyakinan masing-masing.''


''Memutlakkan bagaimana?''
''Memutlakkan, ya tidak bisa ditawar meski sikap itu melanggar ruh Islam yang amat menjunjung tinggi
kebersamaan. Dan membuat umat di bawah menjadi tidak nyaman.''
''Tapi Kanjeng Nabi pernah bersabda, perbedaan di antara umat Islam adalah rahmat.''
''Ah, kamu sendiri tahu, penerapan sabda itu tidak boleh sembarangan. Dan saya sangat yakin Kanjeng
Nabi merasa sedih dengan perbedaan hari Lebaran ini.''
''Kalau begitu kamu punya gasasan apa?''


''Demi kemuliaan Kanjeng Nabi maka saya sampaikan gagasan ini. Tapi, Fad, kamu jangan kaget: Mari
kita putuskan jatuhnya hari Lebaran melalui keputusan politik. Ada beberapa opsi yang ingin saya
tawarkan, tapi saya kemukakan satu saja yang paling sederhana.''
''Lebaran dengan keputusan politik?'' tanya Fadli dengan mata melebar. Terus terang saya dan yang
lain juga terkejut.


''Nah, betul kan, kalian kaget? Sebab kalian lupa Umar bin Khatab RA pernah mengambil keputusan
politik untuk mengatur suatu ritus ibadah, dalam hal ini adalah shalat Tarawih. Bukankan shalat
Tarawih berjamaah dan dilakukan sebulan penuh merupakan pengaturan Umar bin Khatab? Apakah itu bukan
keputusan politik setelah Umar bin Khatab melihat umat Islam waktu itu melaksanakan shalat Tarawih
sendiri-sendiri sehingga di mata beliau kurang enak dipandang?''


Kecuali Uun yang tertawa-tawa, selainnya jadi memasang wajah serius karena merasa tersodok oleh
pemikiran anak yang tidak lulus STAIN itu. Dan, masih dengan tertawa-tawa, Uun melanjutkan
omongannya.


''Bagaimana kalau umat Islam Indonesia dalam menentukan hari Lebaran kompak saja makmum ke Makkah?
Maka kita akan melaksanakan shalat Id bareng pada hari yang sama dengan orang Makkah, hanya
pelaksanaannya kita lebih cepat empat jam. Jadi tak usah lagi ada orang yang mengaku paling jago
dalam ilmu hisab, atau paling jago dalam mengintip hilal. Dan yang penting kita jadi lebih patut
karena sebagai umat yang mengaku paling baik, bisa berlebaran bareng.''


Uun mengakhiri omongannya dengan tertawa. Kami tak bisa berkomentar. Dan Kang Ngalwi amat-sangat
setuju. Tapi entah para alim karena Uun, itu tadi, STAIN saja tidak tamat. (Harian republika. Tgl
9/10/2006 / http://www.mualaf.com )

Riansah Abbas

Osman Ramli Satrio & Rekan
Member of Deloitte Touche Tohmatsu
Wisma Antara 4th Floor
Jl. Medan Merdeka Selatan No. 17
Jakarta 10110, Indonesia
T: +62 21 231-2879; 231-2955; 231-2381 Ext 3247
F: +62 21 231-3325; 384-0387
E: [EMAIL PROTECTED] < mailto:[EMAIL PROTECTED] >
www.deloitte.com < http://www.deloitte.com>

Deloitte. ____________________________________________________________________
ABOUT DELOITTE: Deloitte refers to one or more of Deloitte Touche Tohmatsu, a Swiss Verein, its member firms and their respective subsidiaries and affiliates. As a Swiss Verein (association), neither Deloitte Touche Tohmatsu nor any of its member firms has any liability for each other's acts or omissions. Each of the member firms is a separate and independent legal entity operating under the names "Deloitte," "Deloitte & Touche," "Deloitte Touche Tohmatsu," or other related names. Services are provided by the member firms or their subsidiaries or affiliates and not by the Deloitte Touche Tohmatsu Verein. In Indonesia, services are provided by Osman Ramli Satrio & Rekan, or Deloitte Tax Solutions, or PT Deloitte Konsultan Indonesia.

CONFIDENTIALITY: The information contained in or attached to this electronic transmission is confidential and may be legally privileged. It is intended only for the person or entity to which it is addressed. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any distribution, copying, review, retransmission, dissemination or other use of this electronic transmission or the information contained in it is strictly prohibited. If you have received this electronic transmission in error, please immediately contact the sender to arrange for the return of the original documents.

 
This message (including any attachments) contains confidential information intended for a specific individual and purpose, and is protected by law. If you are not the intended recipient, you should delete this message and are hereby notified that any disclosure, copying, or distribution of this message, or the taking of any action based on it, is strictly prohibited.




=================================
scanned by Indosat TM-IMSS System





=================================
scanned by Indosat TM-IMSS System

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Arsip Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Album Foto : http://pirus.fotopic.net
MultiplyWeb : http://www.pirusers.multiply.com
Friendster : http://www.friendster.com/9379274
Administrator email : [EMAIL PROTECTED]
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke