Diplomasi
Vatikan dan Tiongkok Makin Mendekat?
Josef P Widyatmadja
KEHADIRAN Chen Suibian, pemimpin Taiwan, dalam upacara pemakaman
almarhum Paus Yohanes Paulus II tidak mengganggu upaya Vatikan untuk
menormalkan hubungan dengan pemerintah Tiongkok. Pemimpin Tiongkok
hanya mengirimkan pernyataan duka cita atas meninggalnya Paus Paulus
Yohanes II dan tidak mengirim utusan resmi ke upacara pemakaman Paus
sebagai protes atas kehadiran pemimpin Taiwan dalam upacara tersebut.
Ada dua kendala yang menyebabkan hubungan Vatikan dan Tiongkok belum
pulih. Pertama, soal hubungan diplomatik antara Vatikan dan Taiwan.
Kendala kedua, pemerintah Tiongkok menuntut agar Vatikan tidak
mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok, termasuk soal pengangkatan
Uskup di Tiongkok.
Saat ini di Tiongkok ada dua macam gereja Katolik. Yang satu Gereja
Katolik Patriotik yang diakui oleh pemerintah Tiongkok. Mereka
mengangkat uskup tanpa harus dengan persetujuan Vatikan. Yang kedua
adalah Gereja Katolik tak resmi yang tetap patuh pada kekuasaan Paus
di Vatikan.
Baik Gereja Katolik di bawah tanah maupun Gereja Katolik Patriotik
sama-sama berkembang. Kekristenan di Tiongkok mempunyai sejarah
panjang. Dimulai dengan kehadiran kelompok Nestorian pada abad
tujuh. Tahun 1234, Giovanni de Montecorvino dari ordo Franciscan
Italia mendirikan kantornya di Beijing. Disusul kemudian orde
Jesuit, Dominican juga aktif bekerja di Tiongkok.
Kebanyakan misionaris, terutama Jesuit tidak datang dengan tangan
kosong. Mereka membawa ilmu pengetahuan, astronomi, dan teknologi
sehingga tak kecil sumbangannya terhadap kemajuan Tiongkok pada
waktu itu.
Selama beberapa abad, hubungan Gereja dan pemerintah Tiongkok
mengalami pasang surut. Bulan madu dan pertumpahan darah silih
berganti. Di bawah kaisar Kangsi (1654-1722), agama Kristen
mengalami kebebasan agama. Tapi Perang candu, di mana Inggris
mengalahkan Tiongkok, membuat reputasi gereja cacat karena
kebanyakan misionaris berpihak dan membantu tentara Inggris.
Sering kali pemerintah Tiongkok terpaksa memberikan hak-hak istimewa
kepada gereja karena perjanjian yang dipaksakan oleh pemerintah
Barat. Pada zaman pemberontakan Boxer sebuah serikat rahasia, banyak
missionary dibunuh karena kebencian rakyat terhadap kerja sama
missionary dengan pihak penjajah dalam memperoleh kemudahan bagi
pekerjaan gereja.
Perbaikan
Upaya Vatikan untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Beijing
sudah dilakukan oleh Paus Yohanes Paulus II dan sekarang masih
dilanjutkan oleh Paus Benediktus XVI. Pesan Paus Yohanes Paulus II
kepada pemerintah Beijing pernah diterbitkan oleh Gregorian
University di Roma.
Dalam surat tersebut, Yohanes Paulus II mengajak pemerintah Tiongkok
untuk membicarakan pemulihan hubungan diplomatik kedua negara. Tapi
ajakan itu ditolak oleh Tiongkok karena pihak Vatikan mengangkat 120
martir menjadi orang suci, di mana menurut mata pihak Tiongkok,
beberapa orang yang diangkat merupakan orang-orang yang dianggap
punya masalah dalam melukai hati rakyat Tiongkok
Dalam rangka memperingati karya Matteo Ricci seorang Jesuit abad ke-
16, Paus mengajak pemerintah Tiongkok untuk berdialog dan
bersahabat. Selanjutnya Paus dalam suratnya minta maaf atas
kesalahan Gereja Katolik di masa lalu.
Selanjutnya ia berkata : " The Catholic Church is not asking for any
privilege from China or from her political authorities, but only the
chance to engage in dialogue, to work toward a relationship marked
by mutual respect and deeper understanding"
Yang Berperan
Sejak tahun 2004 sudah ada beberapa kali pembicaraan rahasia antara
pemerintah Tiongkok dan Vatikan untuk menormalisasi hubungan mereka
yang terputus pada tahun 1951. Dalam pembicaraan itu, kabarnya
Vatikan setuju untuk memindahkan kantor kedutaannya dari Taipei ke
Beijing.
Sebaliknya, Tiongkok juga telah setuju hak Vatikan untuk mencalonkan
beberapa nama uskup dan pemerintah Tiongkok akan memilih calon
tersebut. Hak pengangkatan uskup di Tiongkok akan tetap di tangan
Vatican setelah mendapat persetujuan dari pemerintah Tiongkok.
Perundingan ini tidak dilakukan secara langsung dan tatap muka
tetapi melalui pihak ketiga. Pertukaran pikiran kedua pihak
dilakukan melalui pemimpin Community of Sant' Egidio' suatu lembaga
internasional Katolik yang mempunyai hubungan dekat dengan pihak
Vatikan maupun dengan Sekolah Partai Komunis Tiongkok yang menjadi
basis kekuatan Presiden Hu Jinto.
Menurut Andrea Ricarrdi, pendiri dari Sant Egidio pada Agustus 2004,
delegasi gereja Katolik Tiongkok yang diterima Yohanes Paulus II
pernah berkata: "Kami menunggu bapa suci datang ke Tiongkok." Dan
Yohanes Paulus II menjawab, "Oh, I wish that God will allow me to go
to China". Tapi sayang Paus meninggal bulan April 2005, sebelum
almarhum menginjakkan kakinya di Tiongkok.
Saling Membutuhkan
Pada bulan Maret 2005, Kardinal Godfried Danneels dari Belgia
terkesan dengan perkembangan Gereja Katolik di Tiongkok setelah ia
mengunjungi tempat pelatihan pastor, bertemu dengan wakil kantor
agama dan uskup setempat untuk bertukar pikiran. Kunjungan itu
dipersingkat karena Yohanes Paulus II tiba-tiba wafat.
Kunjungan itu merupakan kunjungan pejabat tertinggi Vatikan ke
Tiongkok. Di samping itu, Vatikan juga sudah menyiapkan Gereja
Katolik Taiwan secara psikologis. Pada tahun 1999, Sekretaris Luar
Negeri Vatikan, Kardinal Angelo Sodano mengeluarkan pernyataan
kontroversial bahwa Vatikan akan memindahkan kantornya ke Beijing.
Jika pembicaraan Vatikan dan Tiongkok akan berlanjut dengan
dibukanya hubungan diplomatik kedua belah pihak, hubungan itu akan
saling memberikan manfaat dan dialog peradaban dunia. Kedua
institusi (Gereja Katolik dan pemerintah Tiongkok) adalah pewaris
dua peradaban yang sudah tua usianya.
Pembukaan hubungan diplomatik akan menaikkan pamor Hu Jinto maupun
Paus Benediktus XVI. Kedua pemimpin itu saling membutuhkan dalam
mengukir sejarah dan peradaban abad dua puluh satu.
Di satu pihak dugaan orang bahwa Paus Benediktus XVI adalah seorang
dogmatik yang keras dan kaku akan meleset dan di lain pihak undang-
undang perlindungan agama di Tiongkok, yang dikhawatirkan oleh
banyak orang ternyata tidak menghalangi dibukanya hubungan
diplomatik antara Vatican dan Tiongkok.
Kardinal Jean-Louis Tauran, seorang mantan diplomat Vatikan berkata
pada press di Roma, "Apabila Tiongkok memberikan kita kemungkinan,
besok pagi kami siap untuk menormalkan hubungan dengan Beijing."
Kita tunggu saja perkembangannya. *
Penulis adalah pemerhati masalah internasional dan pembangunan
SUARA PEMBARUAN DAILY
Last modified: 22/6/05
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Politik_Tionghoa/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/