----- Original Message ----- 
From: Akhmad Romeli Wijaya 
Sent: Thursday, September 06, 2007 7:37 AM
Subject: FW: Demam Penculikan Anak ( tolong sebarkan !!!)


 

FYI

 

HATI-HATI PENCULIK ANAK

 

Sumber : http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?rubrik=tips&edisi=01028

 

Tentu saja hal ini tidak pernah kita harapkan. Tapi apa salahnya berhati-hati

"Penculikan anak memang harus diwaspadai," ujar Zainoel B. Biran dari Fakultas 
Psikologi UI. Karena, terangnya, si pelaku bukan hanya orang luar tapi juga 
bisa dari dalam seperti pembantu rumahtangga, babysitter, sopir atau tukang 
kebun. Entah dilakukan sendiri olehnya atau bekerja sama dengan orang luar. 

Pada prinsipnya, menurut psikolog sosial ini, penculikan bisa dibagi dalam 4 
motif. Yakni pemerasan (minta uang tebusan atau harta benda lainnya), 
pelampiasan dendam, penyakit kejiwaan, dan sengketa keluarga semisal perebutan 
anak. 

Namun dari semua itu, yang paling sering terjadi adalah karena faktor ekonomi. 
Misalnya, kepepet hutang. Biasanya anak yang jadi korban penculikan kemudian 
dijadikan "alat" untuk memperoleh uang seperti dijadikan pengemis atau malah 
diperjual-belikan. 

MODUS OPERANDI

Penculikan biasanya sudah direncanakan. Pelaku mengamati, keluarga mana saja 
yang akan dijadikan korban. Modus operandinya pun macam-macam. 

Bisa saja pelaku sengaja "masuk" ke dalam keluarga tersebut dengan berpura-pura 
menjadi pembantu, sopir, atau tukang kebun. Dengan demikian ia bisa menyiapkan 
kondisi dan kesempatan untuk menculik. 

Atau ia menjemput korban di sekolah atau tempat lain dengan cara menipu. 
Misalnya dengan mengatakan disuruh oleh orang tua korban. Biasanya dilakukan 
oleh orang yang sudah dikenal korban atau ada kerjasama antara pelaku dengan 
orang yang sudah dikenal korban. Pelaku juga biasanya menggunakan nomor 
kendaraan palsu. 

Setelah berhasil menjemput, korban dibujuk lalu dibawa ke suatu tempat. 
Biasanya korban tak menyadari bahwa dirinya diculik. Dia mau ikut karena 
tertarik oleh bujukan tersebut. Umumnya terjadi pada anak yang masih kecil. 
Meskipun kadang terjadi juga pada anak besar. 

Cara lainnya, korban dihadang/dicegat di jalan lalu dipaksa/diancam dengan 
kekerasan. Atau korban diculik saat orang tuanya lengah. 

Nah, setelah berhasil mendapatkan korban, seperti dituturkan Kol. (Pol). Drs. 
Alex Bambang Riatmodjo, SH, MBA, Ph.D., Kadit Serse Polda Metrojaya, Jakarta, 
pelaku akan menghubungi orang tua/keluarga korban melalui telepon. "Biasanya 
untuk minta tebusan, baik berupa uang tunai ataupun melalui transfer ke nomor 
rekening tertentu yang identitasnya dipalsukan dan cara pengambilan uangnya 
menggunakan ATM."

PENCEGAHAN

Nah, sekarang sudah tahu persis, kan, apa dan bagaimana saja motif serta modus 
operandi penculikan anak. Kini yang terpenting adalah mengetahui tindak 
pencegahannya. Berikut tips dari Zainoel: 

1. Bila terjadi perpisahan/perceraian hendaknya diselesaikan secara baik-baik 
antar pasangan sehingga harmoni tetap dijaga. 

2. Binalah relasi yang baik dengan semua orang, termasuk pembantu dan 
sejenisnya. Sehingga tak ada rasa sakit hati yang bisa membuat orang jadi 
dendam. 

3. Jangan mudah percaya atau menyerahkan anak kepada orang lain yang belum 
dikenal jelas asal usulnya. 

4. Selektif dalam memilih orang yang akan dipekerjakan di rumah. Entah itu 
pembantu, sopir, tukang kebun maupun baby sitter. Harus tahu persis darimana 
asalnya dan siapa saja relasinya. Bersikaplah tegas terhadap yayasan penyalur 
atau orang yang memberikan pembantu tersebut. Bila perlu, terutama pada 
yayasan, buat perjanjian hitam di atas putih bahwa kalau ada sesuatu yang 
terjadi di rumah, maka mereka harus bertanggung jawab. Bila si pembantu datang 
sendiri, tingkatkan kewaspadaan. 

5. Miliki foto si pembantu (baby sitter/sopir/tukang kebun). Foto ia kala 
bermain bersama anak. Biasanya mereka senang difoto. Jika mereka menolak, patut 
dicurigai, apakah memang sangat pemalu atau punya niat untuk menyembunyikan 
identitas dirinya. 

6. Amati apakah ia asyik dengan dirinya sendiri, senang sekali mengobrol 
berjam-jam dengan teman-temannya sesama pembantu tanpa mempedulikan jam dan 
tanggung jawab pekerjaannya. Bila demikian, berarti ia potensial untuk lengah, 
sehingga bisa dimanfaatkan oleh orang yang punya niat buruk semisal penculik. 

7. Tumbuhkan rasa tanggung jawab pada si pembantu.isalnya, "Saya 'titipkan' 
anak saya sama kamu. Tolong jaga dan asuh dia baik-baik." Dengan begitu, ia 
akan merasa dihargai sehingga ia punya tanggung jawab untuk memenuhi "amanah" 
tersebut. 

8. Sebaiknya pembantu juga diberi tahu tentang kemungkinan terjadi penculikan 
anak dan bagaimana modus operandinya. Sehingga ia jadi lebih waspada dan tak 
sembarang percaya pada orang yang baru dikenalnya. 

9. Kepada anak, terutama yang sudah besar, ajari ia agar tak bicara dengan 
orang baru atau asing. Tekankan bahwa kalau diajak bicara oleh orang yang tak 
dikenal, jawab seperlunya saja. Jangan meladeninya lebih jauh. Apalagi sampai 
menerima ajakan-ajakannya. 

10. Si anak juga harus diajarkan cara menghadapi situasi bila ada yang 
mencurigakan. Misalnya, ada orang asing masuk ke rumah. Nah, beri tahu ke mana 
ia harus minta bantuan. Entah dengan menghubungi pos polisi terdekat, pos 
satpam/siskamling atau tetangga. Tentunya dengan syarat, hubungan antar 
tetangga juga baik. Kemudian bila si anak diikuti, minta ia agar pergi ke 
tempat orang yang dikenal. 

11. Diskusikan dengan anak tentang kasus penculikan yang terjadi. Entah yang 
dimuat di koran atau ditayangkan teve. Misalnya, "Menurut kamu, kenapa 
penculikan itu bisa terjadi?" Jadi anak diajak untuk memikirkan sebab-sebabnya, 
sehingga ia bisa belajar dari pengalaman orang lain. Dengan demikian, kalau 
orang tua melarangnya untuk tak bicara sembarangan dengan orang asing itu tak 
mengada-ada. 

12. Tumbuhkan keyakinan diri yang kuat pada anak. Caranya dengan menciptakan 
lingkungan yang aman. Bila ia melakukan sesuatu yang bagus, berilah pujian 
sehingga ada kebanggaan pada dirinya. Ia sadar bahwa penghargaan itu muncul 
karena apa yang ia lakukan sehingga ia yakin akan kemampuannya. Dengan memiliki 
keyakinan yang kuat, ia tak akan mudah dipengaruhi oleh orang lain. 

TINDAK MENGATASI 

Bila ternyata penculikan itu terjadi juga, berikut saran dari Zainoel dan Alex: 

1. Jangan larut dalam kepanikan. Jangan pula saling menyalahkan di antara 
pasangan, karena hanya akan menimbulkan pertengkaran. Anda berdua tak akan bisa 
berpikir jernih. Pasangan harus saling menenteramkan. 

2. Hubungi tetangga, terutama ketua RT/RW. Barangkali ada yang melihat si anak. 
Karena mungkin si anak bukannya diculik tapi pergi ke mana dan kesasar. Bisa 
jadi para tetangga lebih mengetahui hal ini. 

3. Telepon polisi. Lakukan secara rahasia, terutama bila ada ancaman agar tak 
menghubungi polisi sehingga tak akan membuat celaka si anak. Sebaiknya jangan 
pakai telepon rumah karena takut sudah disadap. Lebih baik gunakan handphone 
atau pinjam telepon tetangga. 

4. Berikan informasi/data sebanyak-banyaknya kepada polisi tentang segala 
sesuatu yang berkaitan dengan kasus penculikan itu. Terutama data diri korban 
dan si pelaku. Sebaiknya pertemuan dengan polisi dilakukan di suatu tempat. 
Misalnya, di kantor Anda. Sehingga terkesan seperti hendak pergi ke kantor 
padahal polisi sudah menunggu di sana. 

5. Bila si pelaku adalah pembantu, hubungi kontak personnya. Ada baiknya 
memanfaatkan media cetak maupun elektronik untuk menelusuri jejaknya. Di 
sinilah pentingnya memiliki foto si pembantu. 

6. Memperhatikan dan jika perlu merekam pembicaraan permintaan pelaku melalui 
telepon. 

7. Binalah kerjasama yang baik dengan pihak polisi dan tetangga, sehingga upaya 
pencarian si anak bisa dilakukan maksimal. Misalnya, mengikuti 
petunjuk-petunjuk dari polisi demi keselamatan si anak. 

Menangani Anak Korban Penculikan

Jika anak sudah ditemukan, "Jangan langsung interogasi anak karena ia masih 
trauma," begitu saran . Cukup peluk anak. "Kalau nanti anak sudah merasa 
nyaman, barulah ditanyai." Apalagi yang harus kita lakukan? Ikuti langkah 
berikut: 

1. Orang tua jangan larut dalam kecemasan karena bisa menular pada anak. Jangan 
sampai orang tua sebentar-sebentar mengingatkan, "Awas, hati-hati kamu, jangan 
pergi ke mana-mana!" Karena si anak akan merasa dunia tertutup, setiap 
langkahnya seperti diawasi. Hal ini tak baik untuk perkembangannya. 

2. Jangan mengulang-ulang membicarakan peristiwa tersebut. Yang sudah berlalu 
biarlah berlalu. Yang penting, jangan sampai peristiwa itu terulang lagi. 

3. Jangan sekali-kali menyalahkan anak. Misalnya, "Makanya, jangan main terlalu 
jauh." Ingat, ia sudah mengalami trauma. Ia sendiri tak mengerti harus 
bagaimana. Bisa jadi ia pun sebenarnya merasa bersalah luar biasa. Kalau ia 
ditekan terus, akibatnya ia akan minder, menarik diri atau malah marah, "Kok, 
kenapa aku yang disalahkan?" Hal ini akan menimbulkan pemberontakan. 

4. Sebaiknya doronglah anak untuk mempunyai keberanian keluar dari situasi. 
Semangati agar ia mempunyai kesiapan lebih kuat untuk menghadapi hal-hal 
seperti penculikan tersebut karena satu ketika nanti, setelah dewasa, ia harus 
mandiri. 

5. Yakinlah bahwa anak akan mampu melindungi dirinya sendiri. Biarkan anak 
melakukan kegiatan sehari-hari dengan wajar. Orang tua cukup mengawasinya dari 
jauh. Misalnya, dengan menanyakan kegiatannya, main ke mana, dan sebagainya. 
Bila perlu, tak ada salahnya si anak diikutkan latihan bela diri untuk menambah 
bekal kemampuannya melindungi diri. 

6. Untuk mengurangi stres atau kecemasan orang tua, kembalikanlah semua 
persoalan kepada Yang Di Atas. Doa yang khusuk akan membuat batin kita jadi 
tenang. 

7. Yang tak kalah penting ialah pahami keinginan/kesenangan anak. Karena, tak 
jarang terjadi pengalaman penculikan justru menyenangkan buat si anak. 
Misalnya, ia diculik oleh pamannya sendiri, lalu diajak berkeliling kota, 
dibelikan jajanan kesukaannya. Sehingga ia tak merasa dirinya diculik tapi 
diajak piknik yang menyenangkan. Nah, dengan orang tua mengetahui 
keinginan/kesenangan anak, maka orang tua bisa memenuhinya. Kalau tidak, 
keinginan/kesenangan yang tak tersalurkan ini bisa dimanfaatkan orang lain 
untuk menculiknya. Jika memang orang tua belum punya waktu dan uang untuk 
memenuhi keinginan tersebut, ajari si anak untuk bisa menunda keinginannya itu. 
Dengan demikian ia tak gampang tergoda bujukan atau iming-iming orang lain. 

8. Selanjutnya tindakan preventif lainnya ialah: 
* Menitipkan anak ke TPA (Tempat Penitipan Anak) atau orang yang dipercaya bila 
orang tua hendak pergi dan harus meninggalkan anak. 
* Membangun hubungan baik dengan banyak orang, terutama lingkungan sekitar. 
Berbaik-baiklah dengan para tetangga, satpam kompleks maupun tukang ojek yang 
biasa mangkal di depan kompleks. Begitu juga dengan orang-orang di sekolah anak 
seperti guru, satpam, orang tua teman anak, dan sebagainya. Sehingga kalau ada 
apa-apa mereka bisa memberi informasi atau pencegahan yang diperlukan. Mereka 
dengan suka rela akan ikut menjaga anak kita. 

Indah 

( Tabloid Nakita ) - nrl-falishadam



--------------------------------------------------------------------------------


Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.446 / Virus Database: 269.0.0/756 - Release Date: 4/6/2007 12:00 AM

Kirim email ke