05/09/07 16:21

3,5 Miliar Manusia Kekurangan Air pada 2025

Yogyakarta (ANTARA News) - Sedikitnya 3,5 miliar manusia di seluruh dunia 
diperkirakan mengalami kekurangan air pada 2025 dan 2,5 miliar lainnya akan 
hidup tanpa sanitasi yang layak.

Prof Dr Ir Budi Santoso Wignyosukarto dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru 
Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, Rabu, 
menyatakan bahwa semakin intensifnya penggunaan air, pencemaran air, dan 
perubahan iklim global menimbulkan ketidakseimbangan antara ketersediaan dan 
kebutuhan air.

Menurut dia, ketidakseimbangan tersebut memicu terjadinya krisis air di hampir 
seluruh dunia sehingga sebagian penduduk dunia di negara-negara berkembang 
menderita penyakit yang diakibatkan oleh air yang tercemar atau karena 
kekurangan air.

Bahkan, saat ini sekira 2 miliar orang menyandang risiko menderita penyakit 
diare yang disebabkan oleh air dan makanan. Penyakit ini merupakan penyebab 
utama kematian, di mana setiap tahun terdapat 5 juta anak yang meninggal dunia 
karenanya.

Pertanian sebagai usaha penyedia bahan pangan dipandang sebagai pemakai air 
terbesar yaitu sekitar 70 persen dari jumlah air dunia. Dengan adanya 
peningkatan jumlah penduduk sebesar 2 miliar pada 2030, diperlukan peningkatan 
daerah irigasi sebesar 40 juta hektare atau 20 persen. 

"Ketidakmerataan ketersediaan air merupakan masalah utama dalam penyediaan dan 
distribusi air dunia, ada wilayah-wilayah tertentu yang kelebihan air dan ada 
yang kekurangan," katanya.

Ia mengatakan pengelolaan sumberdaya air di Indonesia menghadapi persoalan yang 
kompleks, mengingat air mempunyai beberapa fungsi baik fungsi sosial budaya, 
ekonomi, dan lingkungan yang masing-masing dapat saling bertentangan.

"Pembukaan lahan untuk perluasan daerah pertanian, permukiman, dan industri 
yang tidak terkoordinasi dengan baik, telah mengakibatkan degradasi lahan, 
erosi, tanah longsor, dan banjir," katanya.

Pada 2020, diperkirakan akan terjadi kenaikan kebutuhan air untuk rumah tangga 
dan industri sebesar 25-30 persen. Selain itu, beberapa daerah aliran sungai di 
Pulau Jawa telah mengalami degradasi dan erosi berlebihan yang mengakibatkan 
terjadinya sedimentasi di beberapa waduk di Pulau Jawa.

Menurut Budi, sedimentasi tersebut akan mengurangi usia tampung waduk sehingga 
diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan air baku hingga 2010 saja.

"Untuk mengatasi permasalahan ini diperlukan kebijakan alokasi air yang 
mengedepankan pendekatan kemanusiaan dibanding pendekatan ekonomi semata," 
katanya.(*)




Copyright © 2007 ANTARA

www.antara.co.id

Kirim email ke