Jurus Baru Berhenti Merokok
**

Tanyalah kepada para perokok, pernahkah mereka berniat berhenti merokok?
Mudah ditebak, umumnya akan menjawab ya. Tanyakan pula, sadarkah mereka
bahwa merokok dapat mengakibatkan berbagai jenis penyakit? Jawaban hampir
pasti, mereka pun menyadarinya. Lalu, mengapa tidak banyak perokok yang bisa
menghentikan kebiasan buruknya?

Lihatlah laporan seri riset yang dilakukan oleh National Institute on Drug
Abuse 2006. Riset itu menyebutkan, kebanyakan perokok mengetahui risiko
buruk terhadap kesehatan yang ditimbulkan dari merokok. Sebanyak 70 persen
perokok ingin berhenti untuk menghindari memburuknya kondisi kesehatan,
namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, hanya kurang dari lima
persen perokok yang mencoba berhenti tanpa bantuan yang akhirnya berhasil
tidak merokok selama setahun.

Diperkirakan, mereka yang kembali merokok sebetulnya bukan karena pilihan
mereka sendiri, melainkan karena sifat nikotin yang menimbulkan
ketergantungan. Dan ketergantungan akan nikotin yang disebabkan oleh merokok
ini merupakan masalah kesehatan kronik yang berulang.

Seperti diutarakan dr Irawan Rustandi, *medical director* PT Pfizer
Indonesia, informasi mengenai asap rokok dengan ribuan zat kimia berbahaya
yang terkandung di dalamnya sudah sering disampaikan kepada masyarakat.
Tetapi, jumlah perokok di Indonesia tidak juga berkurang. Hal ini, kata
Irawan, salah satunya karena efek adiksi dari nikotin, suatu zat yang
terdapat pada tembakau.

Memang, banyak penyebab yang membuat banyak perokok gagal menghentikan
kebiasaan merokok. Namun di antara banyak penyebab itu, faktor adiksi
nikotin memainkan peranan yang besar. Nikotin yang terhirup bersama asap
rokok akan diterima oleh reseptor otak yang kemudian melepaskan dopamin.
Dopamin sendiri memberikan efek nikmat dan menenangkan. Pada saat tidak
merokok, kadar dopamin juga menurun sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman
serta stres. Nah, untuk menghilangkan rasa tidak nyaman itu, perokok pun
akan kembali merokok. Begitulah seterusnya.

Proses tersebut memperlihatkan bahwa merokok bukanlah sekadar kebiasaan
buruk. Lebih dari itu, rokok memiliki sifat candu seperti halnya narkotika
dan obat-obat terlarang lainnya. ''Karena itu, dalam menangani masalah
merokok dibutuhkan intervensi klinis jangka panjang seperti yang dilakukan
pada kasus-kasus kecanduan lainnya,'' tutur Irawan pada acara peluncuran
Varenicline, obat yang khusus diciptakan untuk membantu menghentikan
kebiasaan merokok, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Berhenti merokok memang bukan upaya mudah. Penelitian menunjukkan, perlu
usaha berkali-kali agar seorang perokok benar-benar lepas dari belenggu
rokok. Sebuah studi di Amerika Serikat memperlihatkan, lebih dari 70 persen
perokok di negeri ini telah berusaha menghentikan kebiasaan tak sehat itu.
Dari jumlah itu, sekitar 46 persen mencoba berhenti setiap tahun dan kurang
dari lima persen yang mencoba berhenti merokok satu tahun kemudian.
Persentase yang sama terjadi di negara-negara dengan program kontrol
tembakau yang lebih mapan seperti Australia, Kanada, dan Inggris. ''Sebanyak
30-50 persen mencoba berhenti, namun tak sampai lima persen yang berhasil
berhenti merokok dalam jangka panjang.''

*Memutus siklus*
Jika ingin berhenti merokok, maka siklus adiksi nikotin harus diputus.
Motivasi diri saja, kerap kali tidak cukup. Karena itu, diperlukan terapi
agar tidak ketagihan. Terapi yang dapat dilakukan berupa terapi
nonfarmakologis dengan konseling, dan terapi farmakologis berupa
obat-obatan.

Untuk obat, kini ada Varenicline. Ini adalah obat non-nikotin yang secara
spesifik diciptakan untuk membantu berhenti merokok. Obat ini bekerja dengan
cara menghalangi menempelnya nikotin pada reseptor di otak sehingga dapat
mengurangi rasa nikmat dan nyaman yang ditimbulkan karena merokok.
Varenicline tidak dijual secara bebas, melainkan harus dengan resep dokter.
''Kita hanya membantu orang yang mau berhenti merokok,'' tutur Irawan.

Selain bantuan obat, upaya untuk melepaskan ketergantungan terhadap nikotin
juga harus dibarengi dengan motivasi yang kuat dari si perokok dan dukungan
penuh oleh lingkungan terdekatnya. Bukan rahasia lagi, orang yang sudah
berhenti merokok bisa kembali lagi merokok jika lingkungan tidak mendukung.

Anda juga ingin berhenti merokok? Jika begitu, selamat berjuang. Yakinlah,
Anda pasti berhasil.
(bur )

Kirim email ke