Terima kasih Pak Al atas milis nya, tapi nikmat....banget deh saat menghisap 
rokok ......
  ----- Original Message ----- 
  From: Almasdi Rahman 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Monday, December 17, 2007 12:57 PM
  Subject: [porsenipar] Cara baru unt MERHENTI MEROKOK OM-OM?.......


  Jurus Baru Berhenti Merokok 




  Tanyalah kepada para perokok, pernahkah mereka berniat berhenti merokok? 
Mudah ditebak, umumnya akan menjawab ya. Tanyakan pula, sadarkah mereka bahwa 
merokok dapat mengakibatkan berbagai jenis penyakit? Jawaban hampir pasti, 
mereka pun menyadarinya. Lalu, mengapa tidak banyak perokok yang bisa 
menghentikan kebiasan buruknya? 

  Lihatlah laporan seri riset yang dilakukan oleh National Institute on Drug 
Abuse 2006. Riset itu menyebutkan, kebanyakan perokok mengetahui risiko buruk 
terhadap kesehatan yang ditimbulkan dari merokok. Sebanyak 70 persen perokok 
ingin berhenti untuk menghindari memburuknya kondisi kesehatan, namun 
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, hanya kurang dari lima persen 
perokok yang mencoba berhenti tanpa bantuan yang akhirnya berhasil tidak 
merokok selama setahun. 

  Diperkirakan, mereka yang kembali merokok sebetulnya bukan karena pilihan 
mereka sendiri, melainkan karena sifat nikotin yang menimbulkan ketergantungan. 
Dan ketergantungan akan nikotin yang disebabkan oleh merokok ini merupakan 
masalah kesehatan kronik yang berulang. 

  Seperti diutarakan dr Irawan Rustandi, medical director PT Pfizer Indonesia, 
informasi mengenai asap rokok dengan ribuan zat kimia berbahaya yang terkandung 
di dalamnya sudah sering disampaikan kepada masyarakat. Tetapi, jumlah perokok 
di Indonesia tidak juga berkurang. Hal ini, kata Irawan, salah satunya karena 
efek adiksi dari nikotin, suatu zat yang terdapat pada tembakau. 

  Memang, banyak penyebab yang membuat banyak perokok gagal menghentikan 
kebiasaan merokok. Namun di antara banyak penyebab itu, faktor adiksi nikotin 
memainkan peranan yang besar. Nikotin yang terhirup bersama asap rokok akan 
diterima oleh reseptor otak yang kemudian melepaskan dopamin. Dopamin sendiri 
memberikan efek nikmat dan menenangkan. Pada saat tidak merokok, kadar dopamin 
juga menurun sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman serta stres. Nah, untuk 
menghilangkan rasa tidak nyaman itu, perokok pun akan kembali merokok. 
Begitulah seterusnya. 

  Proses tersebut memperlihatkan bahwa merokok bukanlah sekadar kebiasaan 
buruk. Lebih dari itu, rokok memiliki sifat candu seperti halnya narkotika dan 
obat-obat terlarang lainnya. ''Karena itu, dalam menangani masalah merokok 
dibutuhkan intervensi klinis jangka panjang seperti yang dilakukan pada 
kasus-kasus kecanduan lainnya,'' tutur Irawan pada acara peluncuran 
Varenicline, obat yang khusus diciptakan untuk membantu menghentikan kebiasaan 
merokok, di Jakarta, beberapa waktu lalu. 

  Berhenti merokok memang bukan upaya mudah. Penelitian menunjukkan, perlu 
usaha berkali-kali agar seorang perokok benar-benar lepas dari belenggu rokok. 
Sebuah studi di Amerika Serikat memperlihatkan, lebih dari 70 persen perokok di 
negeri ini telah berusaha menghentikan kebiasaan tak sehat itu. Dari jumlah 
itu, sekitar 46 persen mencoba berhenti setiap tahun dan kurang dari lima 
persen yang mencoba berhenti merokok satu tahun kemudian. Persentase yang sama 
terjadi di negara-negara dengan program kontrol tembakau yang lebih mapan 
seperti Australia, Kanada, dan Inggris. ''Sebanyak 30-50 persen mencoba 
berhenti, namun tak sampai lima persen yang berhasil berhenti merokok dalam 
jangka panjang.'' 

  Memutus siklus
  Jika ingin berhenti merokok, maka siklus adiksi nikotin harus diputus. 
Motivasi diri saja, kerap kali tidak cukup. Karena itu, diperlukan terapi agar 
tidak ketagihan. Terapi yang dapat dilakukan berupa terapi nonfarmakologis 
dengan konseling, dan terapi farmakologis berupa obat-obatan. 

  Untuk obat, kini ada Varenicline. Ini adalah obat non-nikotin yang secara 
spesifik diciptakan untuk membantu berhenti merokok. Obat ini bekerja dengan 
cara menghalangi menempelnya nikotin pada reseptor di otak sehingga dapat 
mengurangi rasa nikmat dan nyaman yang ditimbulkan karena merokok. Varenicline 
tidak dijual secara bebas, melainkan harus dengan resep dokter. ''Kita hanya 
membantu orang yang mau berhenti merokok,'' tutur Irawan. 

  Selain bantuan obat, upaya untuk melepaskan ketergantungan terhadap nikotin 
juga harus dibarengi dengan motivasi yang kuat dari si perokok dan dukungan 
penuh oleh lingkungan terdekatnya. Bukan rahasia lagi, orang yang sudah 
berhenti merokok bisa kembali lagi merokok jika lingkungan tidak mendukung. 

  Anda juga ingin berhenti merokok? Jika begitu, selamat berjuang. Yakinlah, 
Anda pasti berhasil. 

  (bur ) 

Kirim email ke