Menyemai Benih Keberhasilan
Oleh Muhammad Rizqon

Pagi itu, suasana kantor di Jalan Demang Lebar Daun masih sepi. Jam sudah 
menunjukkan pukul 09.00 WIB, tetapi belum banyak pegawai yang berdatangan hadir 
ke kantor.

Ahmad dan saya, adalah pegawai yang baru dimutasi ke kantor ini dari kantor 
pusat di Jakarta. Kami datang sendiri, sementara keluarga kami tinggal di 
Jakarta. Status kami yang bujang lokal ini, menjadikan kami tanpa hambatan 
untuk datang pagi-pagi ke kantor. Lain halnya dengan teman-teman lokal atau 
teman yang telah memboyong keluarganya di sini, mempersiapkan anak untuk 
berangkat sekolah dan mengantarkannya, adalah kesibukan rutin yang sering 
menjadi alasan untuk terlambat datang ke kantor.

Di tengah kondisi kantor yang terancam pembubaran dan ketidakpastian, kehadiran 
pegawai memang tidak terkendali. Bahkan untuk urusan absen pagi dan sore saja, 
telah dijadwal orang-orang tertentu secara bergiliran (dalam satu pekan) untuk 
melakukannya. Hari Senin, yang datang dan mengabsenkan pegawai lainnya (yang 
tergabung dalam sindikasi) adalah si A. Hari Selasa, oleh si B. Hari Rabu oleh 
si C, dan seterusnya. Sehingga bisa terjadi, dalam sepekan, seorang pegawai 
tidak perlu datang ke kantor, atau datang ke kantor bilamana perlu saja.

Saya tidak menyalahkan mereka. Ada yang terjadi adalah efek dari suatu realitas 
yang boleh jadi bersifat sementara saja. Jika kondisi telah stabil, mereka pun 
akan masuk kantor secara normal seperti sedia kala. Di antara mereka ada yang 
memanfaatkan waktu dengan menyambi bekerja di kantor lain, atau menekuni bisnis 
tertentu, mengunjungi keluarga, atau sekedar menikmati hari-hari bersama isteri 
dan anak-anak di rumah.

Bagi kami yang jauh dari keluarga, situasi kantor yang seperti itu jelas sangat 
tidak kondusif. Satu sisi kami memiliki banyak kelebihan waktu, namun pada sisi 
lain, isteri kami begitu padat dengan berbagai kegiatan kerumah-tanggaan dan 
sosial di Jakarta.

Suatu ketika, sepulang dari Jakarta, kami memiliki ide mencoba membawa barang 
dagangan berupa jilbab untuk ditawarkan pada rekan-rekan di kantor. Andaikan 
barang-barang itu tidak diminati, kami telah memiliki beberapa nama dan alamat 
yang sanggup menjualkan barang-barang itu di kota ini.

Suatu pagi menjelang pukul 10.00 WIB, satu per satu rekan-rekan muslimah mulai 
berdatangan di kantor. Ahmad, sahabat saya yang cepat akrab dengan orang pun 
langsung menyodorkan beberapa jilbab, 

"Mba, ada jilbab nih. Silahkan dilihat, bagus-bagus kok!"

Beberapa rekan muslimah mulai berkerumun dan mulai mengajukan berbagai 
pertanyaan seputar produk jilbab itu. Dari masalah kualitas bordiran, harga, 
jenis barang, dan lain-lain. Dan Ahmad dengan sabar melayani dan menjawab semua 
pertanyaan rekan-rekan muslimah yang mengerumuninya itu.

Saat semua rekan muslimah sedang berkerumun mengelilingi Ahmad sahabat saya, 
tiba-tiba Bu Zainul, yang terkenal ramai (suka berceloteh dan tertawa-tawa), 
datang dengan senyum simpul khasnya.

"Wah ada apaan nih, kok ramai kali?" 
"Ini Bu, ada jilbab-jilbab bagus." Seorang rekan muslimah menimpali. 
"Siapa yang bawa?" 
"Ahmad." Ahmad pun diam tersenyum-senyum di belakang meja. 
"Bener kamu yang bawa?" Bu Zainul bertanya sambil tertawa lebar kemudian 
berkomentar. 
"Belajar dagang ya!" Ahmad diam tanpa komentar. Bu Zainul kembali tertawa, 
seakan merasa lucu dan janggal bahwa seorang Ahmad, laki-laki dan akuntan itu, 
datang membawa dagangan berupa jilbab dari Jakarta. Tetapi Ahmad memang sudah 
membulatkan tekad bahwa tindakan mencoba berwirausaha itu bukanlah hal yang 
tabu. Segala kemungkinan perlu dicoba untuk mengantisipasi berbagai kondisi 
yang penuh dengan ketidakpastian.

Bu Zainul lalu mengamati dan memegang jilbab-jilbab itu. Sesekali ia menyambi 
ngobrol dengan ibu-ibu lainnya dengan melepas tawa renyah yang menggema ke 
seluruh ruangan. Nampaknya, Bu Zainul hanya sekedar melihat-lihat dan tidak 
menaruh minat terhadap jilbab itu. Jilbab yang kami bawa itu memang bagus dan 
memenuhi standar syar'i. Tetapi sayangnya, jilbab yang banyak dikenakan 
kebanyakan wanita di kantor ini adalah jilbab segi empat pendek yang ketika 
dipakai masih menampakkan lekukan tubuh di bagian dada. Ya, kesadaran akan 
jilbab yang syar'i memang masih sangat kurang di kalangan mereka, karena mereka 
belum memahami apa esensi dari jilbab itu sebenarnya.

Untuk menutupi ketidaknyamanan karena tidak membeli, Bu Zainul melontarkan 
beberapa pertanyaan pengelakan, 
"Kalau jilbab seperti yang kupakai ada ngga? Tapi jangan yang lebar-lebar?" 
Ahmad menimpali, "Sebenarnya ada banyak Bu, tetapi kami tidak menjual jilbab 
yang seperti itu."

Kemudian Bu Zainul kembali meletakkan jilbab-jilbab di depan meja Ahmad dan 
kembali melanjutkan ngerumpi dengan ibu-ibu yang lain. Fragmen tersebut 
berakhir dengan sebuah kebisuan. Tanpa ada appresiasi, kritik maupun saran.

Keesokan harinya, ketika kami datang, beliau tertawa-tawa sambil berkomentar, 
"Bagaimana dagangnya? Laku banyak?" Sejak kedatangan kami yang membawa dan 
menawarkan jilbab, Bu Zainul memang banyak mencandai kami, bahkan terkesan 
melecehkan. Bahkan pernah suatu ketika, kami muncul di kantor menjelang waktu 
Ashar, kami dicandain, 
"Dari mana aja? Habis gelaran di mana?" Dia bertanya sambil tertawa-tawa 
menyeringai ringan tanpa ada rasa bersalah. Kemudian di berceloteh, 
"Kasihan-kasihan. Jauh-jauh dari Jakarta kok jualan jilbab. Di sekolahin 
tinggi-tinggi kok jualan jilbab." Hati kami menjadi miris, sementara beliau 
masih belum selesai dengan tertawa cekikikannya.

Ahmad hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia tidak berpikir kenapa orang seperti 
Bu Zainul bisa berpikiran kekanakan seperti itu. seharusnya upaya menumbuhkan 
jiwa kewirausahaannya itu dihargai. Lha ini kok malah dimatikan.

***

Kejadian tersebut barangkali adalah satu dari banyak kejadian di mana orang 
tidak menghargai dan memandang rendah profesi berdagang. Padahal dalam 
pandangan Islam, berdagang adalah profesi yang mulia, dengan syarat bahwa 
perdagangan itu tidak melalaikan manusia dari mengingat Allah SWT. (QS 62: 
9-10).

Kemuliaan berdagang juga bisa kita simak dari sebuah hadits yang menyatakan 
bahwa ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah SWT pada hari di 
mana tiada naungan selain dari naungan-Nya. Salah satu dari tujuh golongan itu 
adalah pedagang yang jujur. Hadits ini memberi pelajaran bahwa profesi 
berdagang itu ternyata mampu menghantarkan pelakunya pada suatu kemulian di 
sisi Allah SWT.

Penghargaan terhadap profesi tersebut juga dapat kita lihat pada kehidupan 
Rasulullah SAW dan para sahabat. Rasulullah SAW (sebelum di angkat menjadi 
Rasul) dan beberapa sahabat beliau, adalah pedagang-pedagang yang handal. Dan 
dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga oleh Allah SWT, sebagian besarnya 
adalah pedagang (pengusaha) yang sukses.

Ada beberapa hikmah yang bisa kita peroleh. Salah satunya adalah bahwa jiwa 
berdagang, ternyata mampu menghantarkan diri mereka pada kesuksesan dunia dan 
akhirat. Mereka sukses di dunia karena memiliki karakter jujur, terpercaya, dan 
kredible sehingga orang banyak menaruh kepercayaan dengan banyak menjalin 
hubungan (bisnis) dengan mereka. Terlebih bagi mereka yang beriman, maka 
sebagian dari hasil perniagaan pun ditunaikan dengan sempurna dalam bentuk 
zakat, infaq, dan sedekah. Sebagai dampaknya, Allah SWT menjadikan keuntungan 
mereka di dunia menjadi berlipat-lipat dan Allah SWT menyediakan balasan dari 
apa yang diinfaqkan mereka itu dengan pahala surga di akhirat. Perilaku seperti 
inilah yang di contohkan oleh beberapa sahabat utama Rasulullah SAW.

Berdagang mengajarkan kita untuk mandiri. Dan kebanyakan pedagang memiliki 
karakter yang cukup mengagumkan, seperti kerja keras, ulet, hemat, sabar, 
hati-hati, cermat, jujur, berani, memiliki wawasan yang luas, dan komunikatif. 
Tak salah jika ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa karakter seseorang 
diketahui melalui tiga hal, salah satunya melalui transaksi perniagaan yang 
pernah dilakukannya. Dari sanalah diketahui apakah seseorang itu jujur pada 
janjinya dan benar dengan perkataannya, karena kita mengetahui bahwa berawal 
dari kejujuran janji dan perkataan itulah, lahir berbagai akhlak yang mulia 
yang bisa menghantarkan seseorang kepada surga.

Substansi berdagang yang mampu menumbuhkan akhlak-akhlak mulia inilah yang 
seharusnya kita perhatikan, tanpa melihat besar-kecilnya perniagaan yang 
dilakukan. Jika Bu Zainul menyadari hal ini, tentu ia akan memberikan 
appresiasi positif kepada Ahmad sahabat saya itu.

*** 
Apa yang terjadi pada Ahmad, menemukan pembenarannya tiga tahun kemudian. Dia 
berhasil diterima di perusahaan minyak dunia karena pengalaman manajerial yang 
peroleh di perusahaan sebelumnya. Selama tiga tahun ia memang bekerja di 
perusahaan sahabatnya. Dan dengan penuh amanah dia kelola perusahaan itu dengan 
sentuhan jiwa kewirausahaannya. Dan selama tiga tahun itu, ia memang 
mempersiapkan diri dengan mempertajam kompetensi dan kemampuan bahasa Inggris. 
Jika bukan karena sabar dan kerja keras yang menjadi mentalitas utama para 
wirausahawan, boleh jadi, dia tidak menduduki posisi bagus seperti saat ini.

Saya mengambil hikmah bahwa keberhasilan dia, salah satunya dipicu oleh 
sifat-sifat yang dibentuk oleh semangat kewirausahaannya itu. Wirausaha memang 
sering diidentikkan dengan bisnis sendiri, namun mentalitas wirausaha itu bisa 
dimiliki oleh siapa saja, baik yang memiliki bisnis sendiri atau yang 
menjalankan bisnis orang lain. Jika kita cermati, Ahmad pun sebenarnya memiliki 
"bisnis sendiri", yaitu profesionalisme dia sebagai seorang akuntan.

Seringkali, potensi sifat baik pada diri kita, tidak tumbuh karena kita 
memiliki persepsi yang tidak tepat. Jika kita berpersepsi bahwa kita adalah 
hanya seorang buruh, maka mentalitas kita pun akan seperti buruh kebanyakan. 
Namun jika mentalitas kita adalah profesional, maka kita akan senantiasa 
terpacu meningkatkan profesionalitas atau keahlian yang kita miliki.

Ada satu hal menarik dari apa yang diwasiatkan oleh Ustadz Hasan Al-Bana. 
Beliau menganjurkan agar kita memiliki usaha sendiri walau kecil-kecilan. Boleh 
jadi, di samping beliau mengisyaratkan untuk selalu waspada terhadap kondisi 
(ekonomi) yang senantiasa berubah, beliau sebenarnya ingin memberi jalan bagi 
penumbuhan potensi-potensi kebaikan dan keberhasilan.

Waallahua'lam bishshawaab. 
(rizqon_ak at eramuslim dot com)

Kirim email ke