Sekedar renungan...
> ______________________________________________ 
> 
> Solilokui 
> Kaca Pecah Busway 
> 
> Orang-orang yang bertanggung jawab atas pengelolaan busway di Jakarta
> telah mempermalukan diri pekan ini. Mereka mencoba menerapkan
> kebijakan bus melawan arus (contra-flow) untuk mengatasi kemacetan
> gara-gara banyaknya kendaraan lain turut memanfaatkan jalur busway.
> Rencana uji coba telah diumumkan. Petugas-petugas disiapkan. Namun,
> pada detik-detik terakhir, uji coba bus melawan arus itu batal. Tidak
> ada alasan yang jelas. Kabar yang mencuat kemudian adalah bahwa uji
> coba itu terlalu berisiko dan Pak Gubernur tak pernah diberi tahu
> tentang kebijakan itu.
> Setelah Jakarta ganti gubernur, pamor busway memang merosot. Apalagi
> setelah orang-orang di Pondok Indah menekan gubernur baru atas
> pengembangan busway di permukiman mereka. Kemacetan lalu lintas di
> jalan umum ditimpakan pada kebijakan busway.
> Sementara, pengelola busway mengeluh. Jumlah penumpang telah melorot
> jauh dibandingkan saat awal sistem angkutan umum diberlakukan.
> Sebagian orang tak sudi lagi menggunakan angkutan ini karena tetap
> saja terhadang macet. Tak ada bedanya dengan kendaraan pribadi yang
> lebih nyaman.
> Mari lihat kasus tahun lalu, saat petugas dinas lalu lintas DKI
> bentrok dengan warga. Mereka sedang bertugas; dan yang mereka lakukan
> adalah melarang kendaraan pribadi memasuki jalur busway. Warga
> pengguna kendaraan pribadi marah karena sudah mendapatkan izin dari
> polisi untuk memasuki area busway. Polisi meminta mereka memasuki
> jalur itu agar tidak terjadi kemacetan kendaraan non-busway.
> Itulah inti persoalan. Kebijakan busway tak mendapatkan dukungan dari
> polisi. Sekali saja polisi memberikan jalur busway kepada kendaraan
> pribadi, maka saat itulah polisi telah ''memecahkan kaca busway''.
> Hasilnya? Ketiadaan aturan. Ada polisi atau tidak, diminta atau tidak,
> kini para pengendara menyerobot jalur busway. Maka, tak ada lagi nilai
> lebih busway. Sama-sama kena macet. Uang miliaran rupiah yang
> ditanamkan pada proyek kebanggaan Sutiyoso ini melayang tanpa makna.
> Bagaimana ke depannya? Jika kebijakan bus melawan arus dianggap
> terlalu berisiko bagi keselamatan pengendara yang suka menyerobot
> jalur busway, maka hanya polisi lagilah yang dapat memperbaiki kaca
> pecah busway itu. Caranya dengan tak pernah lagi mengizinkan para
> pengendara memasuki jalur busway. Para pengendara akan tahu,
> menyerobot busway bukanlah hal yang benar dan akan ada yang hukuman
> jika mereka melanggarnya.
> Teori kaca pecah (the broken windows theory) pertama kali muncul pada
> Maret 1982. Dua kriminolog, James Q Wilson dan George Kelling,
> memublikasikannya melalui The Atlantic Monthly. Menurut teori ini,
> jika sebuah kaca jendela pecah di suatu jalan, lalu dibiarkan tanpa
> perbaikan, maka orang-orang yang lewat akan memandang tak ada yang
> peduli soal ketidakwajaran itu.
> Berdasarkan teori ini, kaca pecah yang dibiarkan itu akan melahirkan
> kaca-kaca pecah lainnya. Akan muncul pula corat-coret (grafiti) dan
> perilaku seenaknya yang lain, lalu kota pun akan segera berhiaskan
> sampah. Suasana akan tampak seperti tanpa hukum dan kejahatan akan
> tumbuh.
> Orang pertama yang memanfaatkan teori itu adalah William C Bratton.
> Sebagai kepada polisi transit New York, ia gemas atas tingginya angka
> kriminalitas di subway. Hal pertama yang ia lakukan bukanlah memerangi
> para pelaku perampokan, pemerkosaan, dan pencurian di subway,
> melainkan memperbaiki ''kaca pecah'', hal yang kecil, yaitu menahan
> orang-orang yang naik kereta tanpa tiket dan mempertontonkan mereka di
> stasiun. Ia juga membuat pos polisi di subway untuk menunjukkan bahwa
> hukum hadir di tempat itu.
> Sepuluh persen penumpang tanpa tiket ternyata membawa narkoba dan
> senjata. Sembilan puluh persen lagi, walau bukan kriminal, malu karena
> dipertontonkan di depan umum sebagai pelanggar aturan. Hasil kerja
> Bratton bukan cuma pendapatan kereta subway naik, melainkan juga
> anjloknya angka kejahatan di subway.
> Ketika menjadi komisioner polisi New York, Bratton kembali
> memanfaatkan teori kaca pecah itu. Paling awal yang ia lakukan dalah
> memperbaiki ''kaca pecah'' berupa para pemabuk, gelandangan, dan
> orang-orang yang membuang sampah sembarangan. Hasilnya adalah turunnya
> kriminalitas New York pada 1990-an.
> Bratton berhasil menjadikan New York sebagai kota besar teraman di
> Amerika Serikat. Lalu, pada 3 Oktober 2002, ia menjadi kepala
> Departemen Polisi Los Angeles (LAPD). Dan, dalam waktu kurang dari
> empat tahun, dengan membenahi ''kaca-kaca pecah'', ia berhasil
> menjadikan Los Angeles lebih aman. Angka pencurian merosot 25,1
> persen, angka kekerasan turun 28,5 persen.
> PT Kereta Api mulai menangani kaca pecah berupa orang-orang yang naik
> ke atap KRL dengan menyemprot mereka dengan zat pewarna makanan. Kalau
> tindakan ini konsisten, orang-orang akan sadar bahwa naik kereta ada
> aturannya. Mereka harus beli tiket, mereka tak boleh menaiki atap.
> Mereka juga harus diyakinkan bahwa tak ada petugas KA yang bisa
> disuap.
> Banyak kaca pecah di sekitar kita. Bukan cuma pengendara yang
> menyerobot jalur busway. Ada pula orang-orang yang tak mau antre di
> bank atau stasiun, sepeda motor yang naik ke trotoar, pelanggar lampu
> merah, perokok di tempat umum, dan sejenisnya. Kita bisa membenahi
> kaca-kaca pecah itu. Kalau polisi atau pemprov tak mau, mari mulai
> dari diri kita. 
> (Arys Hilman ) 
> 

Kirim email ke