06/03/2008 09:22 WIB
Ibu Hamil Tewas Kelaparan (1)
Satu Liang untuk Berdua
Deden Gunawan - detikcom

    Jakarta - Daeng Basse  dan Bahir, terpaksa dikubur bersama
dalam satu liang lahat. Ibu yang sedang hamil tujuh bulan dan
anaknya yang berusia lima tahun itu, dimakamkan di tanah garapan,
di Bantaeng, Sulawesi Selatan.

    "Saya kuburkan di kebun karena saya tidak punya biaya.
Seandainya saya punya uang, jangankan pekuburan, saat masih hidup
saja saya pasti bawa ke rumah sakit," ujar suami Basse, Bahri
kepada Gunawan Mashar kontributor detikcom Makassar.

    Basse dan Bahir adalah korban meninggal dunia akibat
kelaparan. Sudah tiga hari Basse dan anak-anaknya, Bahir dan Aco
tidak makan. Beruntung Aco, bungsu  yang berusia empat tahun
lolos dari maut. Ia masih bisa diselamatkan meski kondisinya
memprihatinkan.

    Kabar kematian ibu dan anak, warga Jalan Dg Tata I Blok 4 D,
Makassar, ini langsung bikin geger. Warga, ketua RT, lurah, camat
dan pejabat dinas setempat  kelabakan. Mereka mengaku kaget
dengan kejadian yang menimpa warganya. Mereka pun kompak berkilah
tidak mengetahui kondisi yang dialami keluarga Bahri, lantaran
keluarga itu tertutup dan tidak pernah mengeluh soal
kekurangannya.

    Basse oleh tetangga dikenal sebagai penyabar. Sebab sekalipun
hidup kekurangan mereka tidak mengeluh. Keluarga ini tinggal di
Kelurahan Parang Tambung, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar,
lima bulan lalu. Bahri dan Basse tinggal di rumah panggung yang
terbuat dari kayu berukuran 3x5 meter bersama empat anaknya,
Salma, Baha, Bahir, dan Aco.

    Untung saja mereka dibebaskan biaya sewa oleh Daeng Dudding,
pemilik kontrakan. Sebagai gantinya Basse mencuci dan menjaga
anak-anak pasangan Mina dan Daeng Dudding.

    Sekalipun hidup  jauh dari cukup, nama mereka tidak masuk
dalam daftar rumah  tangga miskin (RTM) yang mendapat bantuan
dari pemerintah. Misalnya Program Keluarga Harapan (PKH), yang
diluncurkan Departemen Sosial pertengahan tahun silam. Dana yang
digelontorkan untuk program ini sebesar Rp 1 triliun.

    Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah saat dihubungi detikcom
melalui selulernya tidak diangkat. Begitupun dengan Chazali
Situmorang, Sekjen Depsos.

    Tapi saat program ini diluncurkan Juli 2007, Chazali
mengatakan, bantuan PKH ditujukan untuk meningkatkan jangkauan
atau aksesibilitas masyarakat yang tidak mampu terhadap pelayanan
publik, khususnya pendidikan dan kesehatan. Sasaran PKH ditujukan
untuk 500 ribu rumah tangga sangat miskin (RTSM).

    Bantuan uang tunai ini diharapkan dapat mengurangi beban
pengeluaran keluarga sangat miskin. Bantuan yang diberikan
terdiri dari bantuan tetap sebesar Rp200 ribu, bantuan pendidikan
untuk SD sebesar Rp 400 ribu dan SMP sebesar Rp 800 ribu dan
bantuan kesehatan sebesar Rp 800 ribu untuk balita, dan Rp 800
ribu untuk ibu hamil/menyusui.

    Besaran bantuan seluruhnya minimal Rp 600 ribu per tahun,
bila hanya memiliki satu anak. Jika lebih, bantuan yang diterima
Rp 2,2 juta per tahun. Jaminan untuk anak ini ditetapkan maksimal
tiga anak. Dan program ini bergulir selama enam tahun.

    Soal Penentuan RTSM penerima PKH ditentukan BPS. Sayangnya
program ini hanya ada di tujuh provinsi yakni DKI Jakarta, Jabar,
Jatim, Sumbar, Sulut, Gorontalo, dan NTT dan 49 kabupaten/kota
serta 348 kecamatan. Semetara Sulawesi Selatan, tidak termasuk
dalam daerah sasaran.

    Soal ini, Biro Humas Depsos, Herri Krisritanto mengatakan,
penentuan tujuh provinsi tersebut, berdasarkan kesediaan daerah
yang disampaikan saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan
(Musrenbang). "Semuanya tergantung kesiapan daerah. Depsos hanya
mungucurkan anggaran," jelas Herri kepada detikcom.

    Bukan hanya tidak masuk dalam program Depsos, keluarga Bahri
juga tidak tercatat di wilayah itu. "Dia bukan warga kita," kilah
Lurah Parang Tambung, Firnandar.

    Alasan Firnandar, Basse dan keluarganya hidup
berpindah-pindah. "Memang di lingkungan saya rata-rata dihuni
oleh keluarga yang hidupnya berpindah. Umumnya penduduk di sini
kerjanya sebagai tukang becak, tukang batu dan penjual sayur,"
ujar Firnandar di Rumah Sakit Haji.

    Firnandar mengaku, Petugas kelurahan baru mengetahui masalah
ini ketika Aco, anak keempat Basse dibawa ke rumah sakit karena
kelaparan. Karena tidak tercatat, Basse sekeluarga tidak mendapat
jatah beras miskin (raskin). ( ddg / iy )


http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/06/time/092230/idnews/904672/idkanal/10

--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007 
-=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-

| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------

Kirim email ke