Nah kalau kenaikan BBM akan menambah jumlah orang miskin tidak perlu
dikuatirkan
Selama ini kebijakan menaikkan BBM selalu membuat orang miskin semakin
susah
Allah SWT Maha Adil dan tahu rakyat menginginkan keadilan.
Allah SWT akan memberikan keadilan yang sangat adil bagi semua orang di
atas tanah Jawa.
Badai halilintar yang membakar kota-kota, angin kencang dalam beberapa hari
yang sial yang membuat semua yang dilewati jadi debu dan bumi belah yang
menghasilkan gempa 14 Scala Richter disusul gigan tsunami akan membuat
semua orang di atas tanah Jawa menjadi miskin semuanya. He..he..he...

alamat email: [EMAIL PROTECTED]


                                                                       
             "jaerony"                                                 
             <[EMAIL PROTECTED]                                         
             a.co.id>                                                   To
                                       <[EMAIL PROTECTED]>        
             05/09/2008 10:32                                           cc
             AM                                                        
                                                                   Subject
                                       [porsenipar] Ada Apa di Balik   
             Please respond to         Rencana Menaikkan Harga BBM?    
             [EMAIL PROTECTED]                                         
                   eb.id                                               
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       





[IMAGE]

Selasa, 06/05/2008 10:22 WIB

Ada apa di balik rencana menaikkan harga BBM?

oleh : Iman Sugema (Senior Economist, InterCAFE, Institut  Pertanian Bogor)

Masih ingat polemik mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak pada 2005,
di  mana sekelompok ekonom menyatakan jika harga BBM dinaikkan, jumlah
orang miskin  akan turun? Pendapat mereka ternyata salah, karena jumlah
orang miskin justru  meningkat.

Skenario dan argumentasi yang hampir mirip saat ini dikembangkan oleh tim
ekonomi Kabinet Ekonomi Bersatu untuk mendesak Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono  agar segera memutuskan kenaikan harga BBM. Mereka tentu tidak
menunjukkan lagi  bahwa kemiskinan akan berkurang dengan kenaikan harga
BBM.

Yang ditunjukkan adalah jika harga BBM tidak dinaikkan, pertumbuhan ekonomi
akan jeblok, defisit APBN akan membengkak, inflasi tidak terkendali, suku
bunga  harus dinaikkan, dan rupiah akan terdepresiasi. Apabila harga BBM
dinaikkan,  kondisi sebaliknya yang terjadi. Aneh, bukan?

Sebagaimana berita utama Bisnis Indonesia (Rabu, 30 April), skenario tanpa
kenaikan harga BBM adalah inflasi menjadi 13,2%, SBI 3 bulan 12%,
pertumbuhan  ekonomi 5,8%, defisit anggaran 2,5%, dan nilai tukar menjadi
Rp9.600 per dolar  AS.

Apabila harga BBM dinaikkan, indikator ekonomi diskenariokan akan membaik,
yakni inflasi turun menjadi 11,1%, SBI 3 bulan juga turun menjadi 8,5%,
pertumbuhan ekonomi me-ningkat ke 6%, defisit turun menjadi 1,9%, dan nilai
tukar menguat ke Rp9.000/dolar AS. Kok bisa ya? Dari mana angka-angka itu
diambil?

Beberapa komentar

Ada beberapa komentar mengenai hal ini. Pertama, kenapa angka yang diungkap
menjadi begitu jauh dengan angka dalam APBN-P 2008? Padahal, APBN-P 2008
baru  saja disetujui beberapa minggu lalu.

Sudah banyak hal tentu yang mengalami perubahan, terutama mengenai inflasi
yang disebabkan oleh kenaikan harga berbagai komoditas, khususnya pangan.

Namun, itu juga menunjukkan bahwa APBN tidak pernah dibuat serealistis
mungkin. Angka-angka APBN selama tiga tahun terakhir ini cenderung terlalu
optimistis.

Kedua, yang paling mengherankan adalah angka inflasi, di mana dalam
skenario  kenaikan harga BBM akan lebih rendah 2,1% dibandingkan dengan
skenario tanpa  kenaikan harga. Boleh Anda tanya kepada ekonom mana pun
yang bukan ekonom  pemerintah mengenai hal ini.

Jawabannya inflasi pasti akan lebih tinggi jika harga BBM dinaikkan.
Bahkan,  teman saya, yang lulusan IAIN Jurusan Fiqih sekalipun, memandang
angka skenario  itu tidak masuk akal.

Inflasi dihitung berdasarkan perkembangan harga di tingkat konsumen akhir,
yaitu indeks harga konsumen. Tidak masuk akal ketika kenaikan harga minyak
mentah dunia tidak dibebankan kepada konsumen secara langsung kemudian akan
tercipta inflasi yang lebih tinggi. Lantas dari mana sumber inflasinya?

Dari data yang sama, diskenariokan pula bahwa suku bunga akan dinaikkan
menjadi 12%. Ini sama sekali tidak konsisten dengan angka inflasi.

Teorinya, kalau suku bunga dinaikkan, inflasi akan turun, bukan! Setiap
kenaikan suku bunga akan memberikan efek kontraksi terhadap perekonomian
yang  pada gilirannya meredam inflasi.

Namun, itu pun harus dilakukan secara hati-hati. Hal ini karena suku bunga
tidak bisa digunakan untuk meredam kenaikan harga yang didorong dari sisi
supply.

Kalau minyak tanah langka dan pangan hilang dari pasaran, suku bunga tidak
akan mampu mencegah kenaikan harga di tingkat konsumen.

Dalam situasi seperti sekarang, saya cenderung menyarankan agar tidak
menggunakan suku bunga sebagai alat untuk meredam inflasi. Kebijakan
moneter  sama sekali tidak relevan karena inflasi tidak tertangani,
sedangkan efek  kontraksinya berpotensi memperparah situasi.

Ketiga, tidak masuk akal mengasumsikan depresiasi nilai tukar kalau harga
BBM  tidak dinaikkan. Keadaan sekarang sudah jauh lebih berbeda
dibandingkan dengan  pada 2005.

Walaupun akan melambat, ekspor masih akan lebih tinggi dibandingkan dengan
impor. Neraca pembayaran dan cadangan devisa masih pada posisi jauh lebih
baik  dibandingkan dengan pada pertengahan 2005.

Lagi pula, saat ini suku bunga dunia cenderung turun. Kondisi ini berbeda
dibandingkan dengan pada 2005, di mana suku bunga dunia sedang mengalami
tren  kenaikan.

Posisi baik

Singkatnya, kita sedang memiliki posisi yang lebih baik untuk bisa
melakukan  stabilisasi nilai tukar. Terkecuali ada upaya terkoordinasi
antara pelaku pasar  dan tim ekonomi untuk menjerembapkan nilai tukar
supaya ada justifikasi untuk  menaikkan harga BBM.

Gonjang-ganjing nilai tukar dan pasar modal sering dijadikan sebagai alasan
untuk melakukan langkah radikal yang merugikan rakyat kecil.

Keempat, mengapa diasumsikan pertumbuhan ekonomi akan lebih baik jika harga
BBM dinaikkan? Bukankah kenaikan harga BBM akan mengurangi daya beli
masyarakat  yang pada gilirannya menggerus permintaan agregat?

Lagi pula, biaya transportasi umum akan meningkat yang secara langsung
mengakibatkan harga di tingkat konsumen akhir melonjak. Artinya, ekonomi
akan  mengalami kontraksi, baik dari sisi permintaan maupun penawaran.
Adalah tidak  konsisten untuk mengasumsikan bahwa pertumbuhan akan membaik.

Kelima, mungkin yang paling bisa menjelaskan kejanggalan angka-angka dalam
skenario itu adalah kenyataan bahwa tim ekonomi ingin memaksakan kenaikan
harga  BBM kepada Presiden Yudhoyono.

Namun, bagaimana sebuah keputusan yang sangat penting bisa dibuat dengan
benar kalau angka-angka yang disodorkan tidak dibuat dengan penuh kejujuran
profesi.

Kita masih ingat betul mengenai kejahatan intelektual pada 2005 yang
menyatakan bahwa kenaikan harga BBM akan menyebabkan kemiskinan menurun.
Akankah  hal yang sama terulang kembali?

bisnis.com

URL : http://web.bisnis.com/artikel/2id1150.html


© Copyright 1996-2008 PT Jurnalindo Aksara  Grafika
(Embedded image moved to file: pic15724.jpg)

<<attachment: pic15724.jpg>>

--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007 
-=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-

| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------

Kirim email ke