14/05/2008 08:33 WIB 

Kolom 
Wong Cilik Nangis Darah
Djoko Su'ud Sukahar – detikcom 


Jakarta - Di Jawa Tengah, seorang tukang becak yang miskin meracun dua anaknya 
yang masih kecil-kecil. Satu anak terselamatkan, sedang yang paling kecil 
nyawanya tak tertolong. Sang bapak berbuat nekaT bukan karena tak sayang anak. 
Justru sebaliknya. Ia tak tega melihat anaknya yang lucu-lucu itu menderita 
akibat kemiskinan ayahnya.

Di Bogor, seorang ibu nekad bunuh diri. Ia terhimpit masalah ekonomi, dan tak 
mampu membayangkan bagaimana periuk keluarganya jika kabar bakal naiknya Bahan 
Bakar Minyak (BBM) benar-benar direalisasi pemerintah. Dengan seutas tali ibu 
ini mengakhiri hidupnya di tiang gantungan.

Di tengah kabar yang menyayat hati itu, berita penyelundupan dan penimbunan BBM 
marak dimana-mana. Dari beberapa daerah dikabarkan, kebutuhan pokok di pasaran 
ramai-ramai beralih harga. Ditambah riuhnya aksi protes mahasiswa yang meminta 
pemerintah membatalkan 'niat buruknya', maka lengkap sudah indikator negeri ini 
menuju chaostis . 

Berbagai peristiwa itu perlu menjadi perhatian pemerintah. Ini merupakan sinyal 
kongkret, bahwa kenaikan BBM sama dengan membuat semuanya susah. Itu belum jika 
BBM benar-benar naik. Tak terbayangkan jerit tangis yang bakal terjadi di 
seantero negeri ini.

BBM memang segalanya. Itu urat nadi perekonomian. Jika digoyang, maka akan 
terjadi kegoncangan. Efek domino dari BBM tak terelakkan. Ia hanya pemicu. 
Sumbu dinamit untuk meledakkan semua yang terkait.

Sebenarnya kalau mau, pemerintah bisa melakukan langkah lain. Ada banyak cara 
untuk mengatasi defisit akibat kenaikan harga minyak dunia. Semboyan ‘Kita 
Bisa’ jangan hanya dipakai sebagai slogan. Itu bisa direalisasi, tergantung 
political will pemerintah. Sebab kita ini tidak miskin-miskin amat.

Kita sebut bisa, karena itu sudah dibuktikan tetangga kita yang juga miskin, 
Negara Srilanka. Negeri yang terus perang itu mampu memberi pengobatan dan 
pendidikan gratis bagi rakyatnya. Negeri itu juga bisa memberi subsidi tambahan 
bagi keluarga yang anaknya masuk perguruan tinggi.

Tapi kita, hanya dengar-dengar kabar saja ada sekolah gratis. Juga pengobatan 
free, itu hanya dilakukan 'oknum' tertentu di Puskesmas terbatas. Disebut 
oknum, karena mayoritas tidak mengenakan bayaran pada pasien miskin, tetapi 
memungut sumbangan. Sami mawon.

Kalau pemerintah terpaksa harus melakukan terobosan, sita aset para koruptor. 
Naikkan cukai rokok sampai lima ratus persen, karena rakyat tidak bakalan mati 
karena tidak merokok. Naikkan fiskal agar tidak banyak orang kaya 
menghambur-hamburka n uang di luar negeri. 

Buka perjudian legal untuk menghindari capital flight dan mengeruk uang para 
penjudi asing. Dan jika amat-amat terpaksa, jual beberapa pulau yang tak mampu 
diurusi. Toh diawasi pun Sipadan dan Ligitan migrasi ke Malaysia. Sedang Timor 
Timur dan Ambeno memerdekakan diri. 

Rakyat kita sudah capek miskin. Dan buat apa kita miskin di tengah kekayaan 
yang digembar-gemborkan melimpah itu. Ini seperti ayam yang mati di lumbung 
padi. Adakah pemerintah memang sedang mempraktekkan ironi itu?

Para pemimpin, sudahlah ngurus negara jangan sulit-sulit. Ini bukan soal 
matematika. Niatkan untuk membahagiakan rakyat. Niatkan untuk menyenangkan 
rakyat, dan lakukan itu.

Jangan buat wong cilik nangis darah. Jangan menyusahkan rakyat dengan membuat 
kebijakan yang tidak bijak. Sebab kita sendiri belum tahu, adakah Indonesia 
masih ada di seratus tahun ke depan. Nihilis? Mungkin !

Keterangan Penulis:
Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail [EMAIL 
PROTECTED] com. ( iy / iy ) 

http://www.detiknew s.com/index. php/detik. read/tahun/ 2008/bulan/ 05/tgl/14/ 
time/083303/ idnews/939067/ idkanal/10 
__._,_.___ 

Kirim email ke