Dan ketika niat untuk membahagiakan rakyat tidak ada, maka sudah
sepantasnya jika Alah SWT turun tangan.
62 tahun bercita-cita mencapai masyarakat adil dan makmur, apa yang dicapai
jauh panggang daripada api.
Masyarakat yang tercipta hanyalah masyarakat tidak adil dan tidak makmur.
Sebuah gambaran bahwa para penguasa negeri ini hanya bermain-main dalam
menerima amanah dalam mengelola bumi Nusantara ini.
Masyarakat adil dan makmur terlalu susah diciptakan tetapi Allah SWT Maha
Pemurah dan untuk menghibur agar salah satu cita-citanya tercapai akan
diciptakan masyarakat adil dan tidak makmur alias miskin. Dengan bantuan
gempa 14 Scala Richter, anda akan menyaksikan terciptanya masyarakat adil
dan miskin dalam beberapa bulan ke depan ini di atas tanah Jawa.
alamat email: [EMAIL PROTECTED]
"jaerony"
<[EMAIL PROTECTED]
a.co.id> To
<[EMAIL PROTECTED]>
05/14/2008 12:05 cc
PM
Subject
[porsenipar] Wong Cilik Nangis
Please respond to Darah
[EMAIL PROTECTED]
eb.id
14/05/2008 08:33 WIB
Kolom
Wong Cilik Nangis Darah
Djoko Su'ud Sukahar – detikcom
Jakarta - Di Jawa Tengah, seorang tukang becak yang miskin meracun dua
anaknya yang masih kecil-kecil. Satu anak terselamatkan, sedang yang
paling kecil nyawanya tak tertolong. Sang bapak berbuat nekaT bukan karena
tak sayang anak. Justru sebaliknya. Ia tak tega melihat anaknya yang
lucu-lucu itu menderita akibat kemiskinan ayahnya.
Di Bogor, seorang ibu nekad bunuh diri. Ia terhimpit masalah ekonomi, dan
tak mampu membayangkan bagaimana periuk keluarganya jika kabar bakal
naiknya Bahan Bakar Minyak (BBM) benar-benar direalisasi pemerintah.
Dengan seutas tali ibu ini mengakhiri hidupnya di tiang gantungan.
Di tengah kabar yang menyayat hati itu, berita penyelundupan dan
penimbunan BBM marak dimana-mana. Dari beberapa daerah dikabarkan,
kebutuhan pokok di pasaran ramai-ramai beralih harga. Ditambah riuhnya
aksi protes mahasiswa yang meminta pemerintah membatalkan 'niat buruknya',
maka lengkap sudah indikator negeri ini menuju chaostis .
Berbagai peristiwa itu perlu menjadi perhatian pemerintah. Ini merupakan
sinyal kongkret, bahwa kenaikan BBM sama dengan membuat semuanya susah.
Itu belum jika BBM benar-benar naik. Tak terbayangkan jerit tangis yang
bakal terjadi di seantero negeri ini.
BBM memang segalanya. Itu urat nadi perekonomian. Jika digoyang, maka akan
terjadi kegoncangan. Efek domino dari BBM tak terelakkan. Ia hanya pemicu.
Sumbu dinamit untuk meledakkan semua yang terkait.
Sebenarnya kalau mau, pemerintah bisa melakukan langkah lain. Ada banyak
cara untuk mengatasi defisit akibat kenaikan harga minyak dunia. Semboyan
‘Kita Bisa’ jangan hanya dipakai sebagai slogan. Itu bisa direalisasi,
tergantung political will pemerintah. Sebab kita ini tidak miskin-miskin
amat.
Kita sebut bisa, karena itu sudah dibuktikan tetangga kita yang juga
miskin, Negara Srilanka. Negeri yang terus perang itu mampu memberi
pengobatan dan pendidikan gratis bagi rakyatnya. Negeri itu juga bisa
memberi subsidi tambahan bagi keluarga yang anaknya masuk perguruan
tinggi.
Tapi kita, hanya dengar-dengar kabar saja ada sekolah gratis. Juga
pengobatan free, itu hanya dilakukan 'oknum' tertentu di Puskesmas
terbatas. Disebut oknum, karena mayoritas tidak mengenakan bayaran pada
pasien miskin, tetapi memungut sumbangan. Sami mawon.
Kalau pemerintah terpaksa harus melakukan terobosan, sita aset para
koruptor. Naikkan cukai rokok sampai lima ratus persen, karena rakyat
tidak bakalan mati karena tidak merokok. Naikkan fiskal agar tidak banyak
orang kaya menghambur-hamburka n uang di luar negeri.
Buka perjudian legal untuk menghindari capital flight dan mengeruk uang
para penjudi asing. Dan jika amat-amat terpaksa, jual beberapa pulau yang
tak mampu diurusi. Toh diawasi pun Sipadan dan Ligitan migrasi ke
Malaysia. Sedang Timor Timur dan Ambeno memerdekakan diri.
Rakyat kita sudah capek miskin. Dan buat apa kita miskin di tengah
kekayaan yang digembar-gemborkan melimpah itu. Ini seperti ayam yang mati
di lumbung padi. Adakah pemerintah memang sedang mempraktekkan ironi itu?
Para pemimpin, sudahlah ngurus negara jangan sulit-sulit. Ini bukan soal
matematika. Niatkan untuk membahagiakan rakyat. Niatkan untuk menyenangkan
rakyat, dan lakukan itu.
Jangan buat wong cilik nangis darah. Jangan menyusahkan rakyat dengan
membuat kebijakan yang tidak bijak. Sebab kita sendiri belum tahu, adakah
Indonesia masih ada di seratus tahun ke depan. Nihilis? Mungkin !
Keterangan Penulis:
Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail
[EMAIL PROTECTED] com. ( iy / iy )
http://www.detiknew s.com/index. php/detik. read/tahun/ 2008/bulan/
05/tgl/14/ time/083303/ idnews/939067/ idkanal/10
__._,_.___