Pilkada Ala Pertandingan Sepakbola
Betapa tak mudah untuk berharap agar tak terjadi pelanggaran dalam Pilkada. 
Kita telah menyaksikan, hampir setiap Pilkada yang helat selalui diwarnai oleh 
kabar tentang perbuatan curang dari calon yang bersaing. Sekalipun Pilkada itu 
dihelat di DKI Jakarta - dimana semua kamera media massa mengarah ke sana - 
kecurangan tetap tak bisa ditepiskan. Dalam Pilkada yang digelar di jantung 
negeri kita itu, aroma politik uang terasa menyengat ketika sejumlah kandidat 
gagal memperoleh dukungan partai.

Seorang kandidat bupati Banyumas pernah mengatakan, Pilkada - dan politik pada 
umumnya - adalah permainan layaknya pertandingan sepakbola. Das sein-nya memang 
ia tidak keliru. Dalam bentuk kata-kata, setiap tim sepakbola selalu menyatakan 
akan mengangkat tinggi-tinggi sportivitas. Namun kita tahu, di atas lapangan 
tak ada permainan yang bersih dari pelanggaran. Bahkan dalam sessi latihan, 
pelatihpun akan mengajarkan bagaimana melakukan sliding tackle yang terbebas 
dari kartu wasit. Pelanggaran adalah bagian yang tak terpisahkan dan bahkan 
dipelajari dalam permainan paling populer di muka bumi ini.

Persoalannya, tentu keliru besar jika sang kandidat berpikiran, das sollen-nya 
Pilkada sama dengan sepakbola. Bagaimanapun, pelanggaran tak pernah diakui 
sebagai bagian yang niscaya dalam Pilkada. Bukankah menurut para pintar, 
Pilkada adalah instrumen dari proses politik demokratis yang akan menentukan 
hajat paling mendasar setiap warga. Oleh karena itu, seperti slogan KPU, 
Pilkada dan Pemilu lainnya semestinya digelar dengan kesadaran untuk 
melaksanakannya secara jujur dan adil.

Kita tahu, laku culas dalam Pilkada tak bisa dihilangkan karena memang ada 
peluang yang begitu lapang untuk melakukannya. Peluang pelanggaran itu terutama 
karena hukum dan aturan main tak pernah benar-benar tegak dalam perhelatan 
demokrasi lokal ini. Hampir semua Pilkada yang digelar selalu diakhiri dengan 
setumpuk laporan tentang kecurangan. Namun sangat jarang kita dengar, 
pelanggaran tersebut berlanjut hingga ke ruang pengadilan. Fakta ini membukakan 
pikiran para calon bahwa hukum terlampau mudah untuk dinego dalam hajatan 
demokrasi ini.

Jika laporan LSM Bina Alam Lestari, Jumat (31/8), tentang politik uang di 
Dayeuhluhur-Cilacap memang terjadi, kita tahu, sesungguhnya itu hanya salahsatu 
modus di antara sekian banyak cara untuk 'bermain kayu'. Modus lain misalnya, 
di banyak daerah yang diikuti calon incumbent, netralitas aparat dan instansi 
pemerintah adalah hal yang sulit untuk ditegakkan. Biasanya kita pun akan sulit 
membedakan, antara program pemerintah yang dibiayai APBD dengan program kampaye 
sang juara bertahan. Sementara bagi yang tidak bisa memanfaatkan 'mesin 
birokrasi', uang adalah alat yang paling sering digunakan untuk mempengaruhi 
pemilik suara.

Namun begitulah, jikapun ada laporan pelanggaran, biasanya hanya akan berhenti 
di rak arsip. Kita mahfum, ini bukan hanya kecurangan Pilkada memang sulit 
dibuktikan, namun juga karena aparatnya yang enggan untuk serius 
membuktikannya.(**)

Diterbitkan di harian Radar Banyumas pada hari Senin, 03 September 2007.

http://anakserayu.wordpress.com/2007/09/05/pilkada-ala-pertandingan-sepakbola/

      Pilkada dan Sepakbola  
      Senin, 23 Juni 2008  
      Oleh : Maulid Hariri Gani, Ketua Panwaslu Pilkada Kota Padang 2008
      Saat ini masyarakat Kota Padang sedang demam sepakbola piala eropa. Demi 
pesta bola ini, kita mau dan rela mengorbankan segala hal baik itu waktu, biaya 
maupun tenaga. Hal ini bisa kita lihat dengan relanya kita untuk mengorbankan 
waktu tidur, mengeluarkan biaya untuk menambah cemilan-cemilan, maupun tenaga 
yang terkuras karena kurang tidur, semua ini hanya untuk pesta sepakbola 
tersebut. 
      Pesta bola saat ini terasa nikmat. Kita menyaksikan bagaimana tim-tim 
yang bertanding adu strategi, taktik maupun teknik. Selama 2 x 45 menit, semua 
strategi, taktik maupun teknik tadi dikeluarkan dengan sekuat tenaga dan 
pikiran, bahkan tidak jarang tekling-tekling keras menghiasi permainan 
tersebut, namun wasit bertindak tegas maka yang salah akan diganjar kartu 
kuning bahkan mungkin kartu merah, siapapun pemain yang melanggar tersebut, 
tidak terkecuali pemain bintang sekalipun. Setelah 2 x 45 menit berlalu, maka 
pestapun usai. Semua pemain bersalam-salaman, bahkan berangkulan satu dengan 
lainnya seolah-olah tidak pernah terjadi adu strategi, taktik maupun teknik di 
antara kedua tim, semua selesai dan kita yang menyaksikan akan tidur dengan 
nyenyak karena kita telah menyaksikan sebuah permainan yang sangat menghibur 
dan menyenangkan. 

      Apabila kita menganalogikan sepakbola dengan Pilkada, maka pada dasarnya 
tidak jauh berbeda satu dengan lainnya. Dalam Pilkada, semua kandidat pada 
saatnya nanti akan mengeluarkan semua strategi, taktik maupun teknik dengan 
sekuat tenaga dan pikiran agar kemenangan dapat diraih seperti halnya dalam 
sepak bola. Pelanggaran-pelanggaran pada saatnya nanti mungkin saja terjadi, 
namun bagaimana pelanggaran-pelanggaran yang terjadi tersebut diminimalisir 
bahkan mungkin dihilangkan, tidak saja oleh semua pasangan kandidat calon, tapi 
kita semua juga berkewajiban untuk itu, karena apabila hal tersbut dilanggar 
sudah sewajarnyalah wasit (dalam hal ini Panwaslu) akan menindak dengan tegas, 
tanpa memandang latar belakang kandidat, seperti halnya wasit dalam sepakbola 
tadi. 

      Pemain-pemain sepakbola bertindak professional dan berjiwa besar dalam 
bermain, maka kita juga berharap calon-calon pemimpin yang akan mengajukan diri 
untuk memimpin warga kota Padang juga bertindak profesional dan berjiwa besar 
seperti halnya pemain sepakbola tersebut. Mengapa kita menuntut calon peminpin 
Kota Padang dalam Pilkada 23 Oktober 2008 nanti bersikap profesional dan 
berjiwa besar dikedepankan? Bagaimana sikap professional dimaksud? Tentunya 
mematuhi semua aturan main dalam berkampanye seperti yang diamanatkan oleh UU 
No. 32 Tahun 2004, serta PP No. 6 Tahun 2005. 

      Ini semua dituntut tidak lain agar akhir dari permainan Pilkada nantinya 
berakhir seperti permainan sepakbola, saling bersalam-salaman, bahkan 
berangkulan satu dengan lainnya seolah-olah tidak pernah terjadi adu strategi, 
taktik maupun teknik di antara kandidat, semua selesai dan pada akhirnya kita 
yang menyaksikan lagi-lagi akan tidur dengan nyenyak seperti halnya kita 
menyaksikan pertandingan sepak bola, karena kita telah mendapatkan seorang 
pemimpin yang profesional. Van Baal mengatakan, seorang pemimpin dapat 
digambarkan sebagai individu yang mendapat wewenang dari persekutuan dalam 
suatu daerah tertentu. Wewenang yang didapat seperti yang dikatakan oleh Van 
Baal tentunya wewenang yang didapat dengan cara-cara yang profesional, tidak 
dengan menghalalkan segala cara dan bertindak tanpa menghiraukan tatanan yang 
sudah ada. Apabila wewenang tersebut didapat dengan profesional maka dia dapat 
bertindak atas nama persekutuannya dan memimpin warganya menurut cara yang 
dianggapnya bermanfaat. 

      Malam ini dan malam-malam yang akan datang kita akan terus menyaksikan 
pertandingan-pertandingan yang bermutu dan menyenangkan. Kita tidak pernah 
bosan dan lelah untuk melaksanakan ritual ini, karena kita dapat menyaksikan 
pertandingan-pertandingan yang bermutu dan menyenangkan, serta berakhir dengan 
baik. Bulan Oktober, tepatnya tanggal 6 sampai tanggal 19 para kandidat calon 
pemimpin warga Kota Padang akan bertarung dalam mengkampanyekan program-program 
yang akan mereka usung. Di sini sikap profesional para kandidat beserta tim 
kampanyenya sangat dituntut, karena sedikit saja tidak bersikap professional 
maka gesekan-gesekan akan terjadi, dan yang dirugikan adalah warga Kota Padang 
itu sendiri, bahkan nama Sumatera Barat juga akan terkena imbasnya. 

      Puncak dari pertandingan Pilkada Kota Padang adalah tanggal 23 Oktober 
2008. Setelah kita mau dan rela mengorbankan segala hal baik itu waktu, biaya 
maupun tenaga untuk menyukseskan Pilkada, kita tentunya ingin tidur dengan 
nyenyak kembali seperti halnya setelah kita menyaksikan pertandingan sepakbola. 
 Namun demikian, kita bisa tidak tidur dengan nyenyak karena 
ketidakprofesionalannya para kandidat nantinya. Maukah kita? Mari kita 
sama-sama awasi para kandidat dan para pendukungnya, laporkan ke Panwaslu 
apabila ditemui pelanggaran-pelanggaran seperti yang diamanatkan UU No. 32 
Tahun 2004 dan PP No. 6 Tahun 2005, agar kita kembali tidur dengan nyenyak. 
Bermimpikah kita?  (***) 
     


http://www.padangekspres.co.id/content/view/10165/114/

Saturday, June 7, 2008
Fenomena Politik dalam Kacamata Sepak Bola 
Pembukaan Piala Euro 2008 di station TV RCTI memang menjadi acara yang 
ditunggu-tunggu oleh para penggemar sepak bola. Namun yang bikin saya terkejut 
adalah kemunculan Jusuf Kalla Wakil Presiden RI menjadi salah satu komentator 
pertandingan perdana antara Swiss melawan Cekoslovakia. Lagi-lagi ada saja 
manuver politisi negeri kita untuk mendongkrak popularitasnya menjelang Pemilu 
2009. Memanfaatkan persitiwa sepakbola yang ditunggu jutaan manusia di 
Indonesia yang ingin disuguhkan pertandingan sepakbola bermutu, bukan sepakbola 
versi Indonesia yang barbarian dengan tontonan pengeroyokan wasit atau tawuran 
antar supporter. 

Komentar Jusuf Kalla mengenai pertandingan perdana Piala Euro 2008 ada yang 
menarik perhatian saya. Saat menjawab pertanyaan Ricky Jo presenter 
pertandingan tersebut mengenai bagaimana perkiraan pertandingan sepakbola di 
Piala Euro 2008 ini Jusuf Kalla menjawab, "Piala Euro ini menjadi menarik 
karena ini merupakan pertandingan antar negara, dan ada saatnya seorang pemain 
dari suatu negara menjadi lawan temannya sendiri dalam satu tim di klub 
sepakbolanya untuk membela negaranya masing-masing." Pernyataan ini seperti 
menjadi sebuah isyarat, saat ini memang SBY dan Jusuf Kalla satu tim dalam 
Kabinet Indonesia Bersatu, tapi saat Pemilu 2009 bisa saja menjadi rivalnya 
untuk meraih kursi nomor satu di negeri ini dengan membawa bendera partainya 
masing-masing. Bukan begitu Pak Jusuf Kalla?

Nah kemudian, lagi-lagi Jusuf Kalla berkomentar seputar negara mana yang 
kemungkinan menjadi pemenang Piala Euro 2008 ini. Kalla berkomentar, 
"Pertandingan sepakbola ini seperti halnya Pilkada, pemenangnya bisa saja yang 
tidak disangka-sangka, yang diunggulkan dan diusung-usung berpeluang besar 
meraih kemenangan bisa saja pada akhirnya kalah." Hmm mungkin Pak Jusuf Kalla 
saat itu sedang curhat colongan karena jagoan partainya kalah di Pilkada Jabar 
dan Sumatera Utara baru-baru ini, padahal di wilayah yang merupakan basis 
Partai Golkar yang sangat besar tersebut jagoannya justru malah mengalami 
kekalahan.

Ternyata fenomena politik di negeri ini banyak bisa ditafsirkan secara mudah 
melalui sepakbola..Bukan begitu Pak Jusuf Kalla?

http://gaffari-ramadhan.blogspot.com/2008/06/fenomena-politik-dalam-kacamata-sepak_07.html

Sportivitas
June 19, 2008 at 10:20 am 

"Lebih baik belajar dari satu orang yang telah menjalankan sportivitas daripada 
belajar ke seratus orang yang hanya bisa omong belaka." - Knute Rockne, pelatih 
sepakbola Amerika

JANGAN salahkan sepak bola bila dalam bulan ini banyak karyawan yang datang ke 
kantor dengan mata sembap, kekurangan darah seperti vampir yang sedang diet. 
Sudah banyak yang paham, ini adalah buah dari turnamen sepak bola Piala Eropa 
yang tengah digelar di Austria dan Swiss hingga akhir bulan ini. Di sana para 
bintang dunia di lapangan hijau tengah beraksi. Teramat sayang untuk dilewatkan.

Meski hasilnya banyak deadline yang ketabrak, termasuk message of monday yang 
sedang Anda baca ini. Beruntunglah publik penggila sepak bola di negeri ini. 
Semua tontonan gratis, kecuali tentu saja tagihan listrik yang harus dibayar. 
Tontonan gratis ini sungguh bernas. Penonton setia tidak hanya disuguhi 
permainan atraktif, pergerakan bola yang fantastis, tetapi juga ini yang 
penting, sikap teladan dari para aktor di lapangan.

Semua tunduk pada aturan permainan. Ingat penyerang ganteng Italia, Luca Toni, 
yang golnya dianulir wasit saat melawan Rumania? Dalam tayang ulang terlihat 
jelas bahwa Toni tidak berada dalam posisi off-side. Artinya, gol itu sah. Coba 
andai saja Toni berlaku seperti konstituen yang kalah dalam Pilkada di berbagai 
daerah. Dapat diperkirakan, jidat sang wasit benjol kena kepruk. Namun nyatanya 
tidak, ia menghormati keputusan wasit meski dengan hati yang dongkol sebesar 
telor bebek. Nah, inilah nilai luhur dari olahraga. Setiap atlet yang bertarung 
dengan sendirinya menyerap semangat ini. Mereka menerima kekalahan, juga 
menerima kemenangan. Semua sudah terwadahi dalam aturan permainan. Andai hal 
itu tak mereka punyai, sangat mungkin pertandingan sepak bola memakan waktu 
berjam-jam atau bahkan sehari penuh, karena tim yang satu tak mau menerima 
kekalahan. Sepak bola adalah salah satu warisan besar yang ditemukan manusia. 
Walau keras, toh semangat sportivitas adalah segalanya. Sportivitas pada 
mulanya memang lebih akrab untuk terminologi olah raga. Pada hakekatnya, 
sportif adalah suatu sifat kesatria, mau mengakui keunggulan pihak lain, 
menerima kegagalan dan kekalahan, memahami dan mengerti perbedaan yang muncul, 
serta menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan. Namun kini, kata 'sportif' 
digunakan secara umum, termasuk dalam dunia politik dan juga bisnis.

Tanggal 8 Juni 2008, Museum Gedung Nasional, Amerika, sebuah acara penting 
berlangsung. Hillary Clinton, calon presiden dari Partai Demokrat melakukan 
pidatonya yang bersejarah di hadapan dua ribu pendukungnya. Hari itu, untuk 
pertamakalinya, Hillary Clinton mengakui kekalahannya dari pesaing utamanya, 
Barack Obama sebagai nominee calon presiden Amerika dari Partai Demokrat. Dalam 
pidatonya, Hillary mengatakan, "Saya mendukung Obama dan memberikan dukungan 
penuh kepadanya. Hari ini, saya mengucapkan selamat kepadanya atas 
kemenangannya dan pertarungan luar biasa yang dijalaninya. " Senator Hillary 
tidak hanya mengakui kekalahannya, tetapi juga mendukung penuh bagi kandidat 
presiden Amerika dari Partai Demokrat, Barack Obama. Hillary menyatakan akan 
habis-habisan melakukan apa pun agar Obama terpilih menjadi presiden. Sikap 
yang ditunjukkan Hillary patut diacungi jempol. Hillary bukan hanya bersikap 
sportif, dengan mengakui kekalahannya, tetapi juga berpikir
ke depan untuk secara bersama-sama dengan Obama, memenangkan pemilu dari partai 
yang sama.

Sikap yang ditunjukkan Hillary, tak beda jauh ketika Al Gore kalah dalam 
pemilihan presiden melawan penantangnya George W. Bush. Gore kalah bukan karena 
telah selesainya hasil perhitungan suara dilakukan. Mahkamah Agung Amerika 
akhirnya memutuskan sengketa perhitungan suara yang terjadi. Ketika tahu Gore 
akhirnya kalah dalam pemilihan presiden, dalam pidatonya, Gore mengatakan bahwa 
ia baru saja menelepon George Bush untuk menyampaikan bahwa ia menerima 
kekalahannya dan mengucapkan selamat atas terpilihnya George W. Bush sebagai 
Presiden Amerika ke-43. Di bagian lain pidatonya yang cukup puitis, Gore 
menyatakan bahwa ia sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Mahkamah Agung 
sehari sebelumnya, yang memenangkan Bush sebagai Presiden, namun dia sangat 
menghargai keputusan itu dan menerimanya. Bahkan Gore mengajak segenap warga 
Amerika agar bersatu dan bersama-sama berdiri di belakang presiden baru 
Amerika. Sungguh, suatu ajakan yang sangat simpatik melihat betapa kisruh dan 
tegangnya selama 36 hari terakhir dalam proses perhitungan suara pemilihan 
presiden sebelumnya.

Sikap sportif tak hanya berlaku bagi mereka yang kalah dalam suatu pertarungan, 
tetapi juga sebaliknya. Anda masih ingat si leher besi Mike Tyson? Mike Tyson 
merupakan petinju legendaris di zamannya. Kemenangan Tyson sebagian besar 
dilakukan dengan memukul KO lawannya sebelum pertandingan berakhir. Ketika 
Tyson menggulung lawan-lawannya, tak ada apresiasi kemenangan yang gegap 
gempita dari Tyson. Setelah meng-KO lawannya, Tyson cukup tenang, datar dan 
menghampiri lawannya serta memberikan pelukan persahabatan yang hangat. Seolah 
Tyson hendak mengatakan, ini hanyalah sebuah permainan.

Sikap sportif inilah yang harus dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari kita. 
Baik dalam lingkungan rumah, kantor, dunia bisnis ataupun dalam dunia politik. 
Dalam kehidupan sehari-hari, dapat kita tunjukkan dengan bersikap jujur dan 
terbuka terhadap pasangan dan anak. Mau menerima masukan, kritik, bahkan dari 
anak sekalipun. Serta, ini juga yang penting, mau bertanggung jawab terhadap 
semua perbuatan yang dilakukannya. Dalam dunia bisnis misalnya, menerima 
kekalahan dalam proses tender. Atau mengakui keunggulan produk pesaing yang 
ternyata memang lebih baik dan berkualitas.

Bagaimana dalam dunia kerja? Selalu ada kompetisi dengan aturan main yang tak 
seragam di dunia kerja. Mulai dari cara yang paling halus, hingga yang paling 
kasar sekalipun. Tetapi tetap saja, dalam menghadapi kompetisi tersebut, Anda 
harus bersikap sportif. Sikap sportif dalam pekerjaan, dapat Anda tunjukkan 
dalam kerjasama dengan rekan kerja lainnya. Jangan pernah ragu untuk membantu 
rekan yang sedang menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan tugasnya. Di 
lingkungan kerja pun, Anda harus tetap saling menghormati atas setiap perbedaan 
yang muncul. Sikap toleransi terhadap sesama rekan kerja juga harus 
ditumbuhkan. Sikap ini merupakan bentuk penghargaan terhadap setiap perbedaan 
kekuatan dan kelemahan. Diharapkan, dengan sikap ini mampu menumbuhkan dan 
menggerakkan sikap sportif rekan kerja lainnya.

Dengan mengembangkan nilai sportivitas bagi setiap individu, diharapkan yang 
muncul adalah pribadi-pribadi yang tangguh. Pribadi yang unggul dalam 
menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, keterbukaan dan kebersamaan dalam 
kehidupan. Masalah-masalah bangsa ini sesungguhnya dapat kita atasi secara 
maksimal dan optimal, bila semua pihak mau bersikap sportif.

Alangkah indahnya bila persaingan Anda di kantor diakhiri dengan acara 
tukar-tukar kaus seperti di lapangan sepakbola, atau mendatangi lawan yang 
terkapar di ring setelah tersungkur knock out atau memberikan karangan bunga 
ucapan selamat atas kemenangan sang lawan dalam Pilkada. (16060  

Sumber: Sportivitas oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

http://futurerich.wordpress.com/2008/06/19/sportivitas/


Kirim email ke