Pertanyaan seperti ini biasanya relevan untuk kantor yang persaingannya jor-joran, serba dipolitisasi, full-capitalistics, dan otoriter. Karyawan yang tidak mau "out of box" dan melakukan self-improvement akan memilih "selamat" dan "menyelamatkan diri" dengan serta-merta. Yang bisa melakukan self-improvement biasanya tegar dengan positioning yang tepat tanpa menyakiti teman sekerja.
Semoga kita tetap menjadi orang yang cerdas. Rgds / Jaerony.- ********************************************************************************************* JADI KARYAWAN BENAR ATAU SELAMAT? 16 Juli 2008 Ya, ini adalah pertanyaan klasik dari hampir semua orang yang ditakdirkan menjadi karyawan pabrik seperti Om ini. Om sudah dengar pertanyaan ini sejak belasan tahun lalu saat memulai karir sebagai karyawan. Terakhir, beberapa hari kemarin rekan-rekan kerja Om masih juga meributkan pertanyaan ini. Ternyata tidak ada jawaban yang tuntas dan memuaskan untuk pertanyaan ini. Pertanyaannya: pilih jadi karyawan yang benar atau selamat? Pilih benar atau selamat? Memangnya kalau jadi karyawan benar dan mempertahankan prinsip, maka nggak bakalan selamat? Atau, kalau jadi orang selamat, maka harus mau melakukan hal-hal yang nggak benar? Apakah benar dan selamat adalah dua hal yang berbeda? Pak Syam punya jawabannya, "Jelas beda! Kalau kita milih jadi karyawan benar maka siap-siap saja kena semprot atasan. Masih untung kalau cuma kena semprot. Kalau dipecat gimana? Makanya, kita cari selamat saja. Kita turuti saja apa kemauan bos. Bos itu makhluk yang punya seribu satu alasan untuk melimpahkan kesalahannya pada orang lain, terutama bawahan. Biarpun kita melakukan hal yang benar, jika tidak sesuai kemauan bos, yaaa pasti nggak selamatlah kita. Habislah kita! Lebih baik jadi orang selamat." Kalau sampeyan mengira Pak Syam ini adalah karyawan rendahan yang tidak bisa berbuat banyak untuk menentukan nasibnya sendiri di kantor, sampeyan salah besar. Beliyaw adalah salah seorang petinggi pabrik yang sudah malang melintang di dunia persilatan karir. Jabatannya: manajer teknik. Dalam struktur organisasi dan jatah fasilitas kantor, beliyaw termasuk seorang bos. Meski begitu ternyata beliyaw masih beranggapan menjadi bos yang selamat lebih baik ketimbang bos yang benar. Pak Syam sedikit meralat, "Bukan begitu. Maksud saya, kita tetap perlu menyampaikan saran yang benar kepada bos meski tidak disukai oleh bos. Tetapi, jika ternyata bos memutuskan berbeda, maka kita ikuti saja apa kemauan bos. Dengan demikian, kita telah melakukan sesuatu yang benar, tetapi ujung-ujungnya kita tetap selamat." Weeww, lihai juga Pak Syam ini. Bu Fen punya pendapat lain. "Pendapat saya beda!" katanya sambil mengepalkan tangan. Bu Fen ini seorang manajer senior yang terkenal tegas, berani dan kukuh dalam berpendirian. Cocok jadi sparing partner para bos yang keras kepala. "Kita memang harus menyampaikan pendapat yang benar sesuai keahlian profesi kita. Itu wajib! Tetapi, kita juga harus memperjuangkan pendapat kita agar bisa diterima dan dilaksanakan. Saya menolak bertanggung jawab atas segala kesalahan yang terjadi akibat manajemen tidak melakukan sesuatu dengan benar. Saya tidak takut jika berbeda dengan atasan. Saya tidak takut disemprot. Saya juga tidak takut dipecat. Buktinya, sudah beberapa kali bos berganti di perusahaan ini, tetapi tak seorang bos pun yang memecat saya hanya karena saya berani melakukan hal yang benar. Ini bukti nyata. Kalau kita benar maka kita selamat," pidato Bu Fen menggelegar sampai terdengar di pabrik sebelah. Wuusss, semangat Bu Fen ini mengingatkan Om pada perjuangan arek-arek Suroboyo di masa kemerdekaan. Hidup Bu Fen! Sampeyan bisa bayangkan betapa serunya meeting antara Bu Fen dengan Pak Bos. Saling semprot itu biasa. Kalau toh ada yang menangis diam-diam setelah meeting (sampeyan bisa menebak siapa kan?), itulah harga yang harus dibayar dalam setiap perjuangan. Merdeka! "Kenapa meributkan antara benar dan selamat? Kalau kita melakukan hal yang benar, tentu kita akan selamat. Juga, kalau kita selamat itu karena kita benar." Nah, yang angkat bicara kali ini adalah Pak Ton yang kalem itu. Beliyaw juga seorang petinggi perusahaan yang punya pengalaman dan kemampuan diplomasi yang ulung. Beliyaw juga masuk ketegori bos. Kita simak saja apa katanya. Kata Pak Ton: "Kuncinya ada pada SOP, Standard Operating Procedure. Kalau kita ingin benar dan selamat, maka tetaplah berjalan sesuai SOP. Kalau SOP-nya belum ada, maka perlu dibuat terlebih dahulu, lalu dimintakan persetujuan pada manajemen." Jawaban yang cespleng. Ada yang mau membantah? "Sekarang kita tanya ke Pak Ale. Pilih yang mana pak? Benar atau selamat?" Pak Syam menoleh ke Om yang sedari tadi sibuk mencatat jawaban setiap orang. "Saya sih jadi karyawan saja pak?" "Iya, karyawan yang bagaimana? Yang benar atau selamat? Pilih yang tegas! Atau mau pilih dua-duanya?" Pak Syam sedikit menggertak. Om jadi agak grogi juga. Tiba-tiba dalam benak Om terlintas wajah Mbah Ud, pensiunan pegawai negeri yang sekarang rajin mengajarkan meditasi. Segera Om jawab, "Wah, paling enak yaaa jadi karyawan yang happy pak! Saya pilih jadi karyawan yang selalu bahagia saja." *** Mbah Ud pernah berujar begini, "Yang kita cari dalam hidup ini adalah kebahagiaan; kebahagiaan yang sejati; true happines. Dalam kebahagiaan tidak ada lagi pertentangan; yang ada hanyalah ketenangan; kedamaian." Tapi apakah mungkin, kita sebagai karyawan bisa menemukan kedamaian dan kebahagiaan dalam pekerjaan kita? Sedangkan setengah meter di depan kita selalu terpampang wajah Pak Bos yang ditekuk 45 derajat. Ditambah tumpukan tugas dengan deadline yang hanya berbeda seper sekian detik. Plus bonus complain (dan air ludah) yang menyemprot bertubi-tubi seolah tak mau mengerti. Apa mungkin? Rasanya nggak mu'in lah kita menemukan kebahagiaan, kedamaian dan ketenangan dalam pekerjaan kita. "Ha..hahahaha" sela Mbah Ud santai. "Kebahagiaan terletak di hati, bukan di pekerjaan, bukan di kantor, bukan di pabrik, bukan pula di jabatan, apalagi dalam dokumen-dokumen SOP." Salam hangat, Om Ale http://alejuliawan.blogdetik.com/2008/07/16/jadi-karyawan-benar-atau-selamat/
