Kata Roy Suryo:
"Emang gue pikirin? Gue ni caleg Demokrat.
Mendingan meng-analisa foto syur artis (daripada menganalisa fesbuk),
hehehe.... "

Btw, analisis berikut semoga dibaca Bu Mega dkk.

http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=20958&c_id=3&param=E4Qzg5ghd9zdv9Yhtr6S

Wassalam,
--amin

-----------------------------------------------------------
PDIP Melawan "Wisdom of Crowds"
(berpolitik.com): Kepanikan dan kekurangan kreativitas memang kerap
melahirkan tindakan blunder. Contohnya adalah sikap PDI Perjuangan
dalam menanggapi kehadiran situs pertemanan bertitel "Say No to
Megawati". Alih-alih menanggapi dengan strategik, pihak PDIP malah
bereaksi keras hingga menyebabkan situs itu dibreidel.

Sebelum lebih jauh mengulas blunder itu, ada baiknya kita perjelas
sudut pandang masalah dari sisi PDI Perjuangan. Bagi mereka, kehadiran
situs itu telah memasuki ranah penghinaan pribadi dan penghasutan.
Situs pertemanan itu dinilai sebagai bentuk black campaign yang
dikreasi oleh lawan-lawan politik Megawati.

Sangatlah masuk akal tudingan bahwa situs pertemanan itu dibuat oleh
kompetitornya. Juga sangat masuk akal, keberadaan situs ini bisa
menjadi ajang penyebaran kebencian dan hasutan. Dalam berbagai
komentar yang sempat terbaca, memang ada kalimat-kalimat yang
sarkartis, hiperbolik dan juga patut dipertanyakan kesahihannya.

Kalau kemudian mereka meradang, sungguh masuk akal.Tapi, kalau
kemudian bereaksi keras (meminta ditutup, meminta tindakan hukum atau
mengejar pelakunya) sepertinya terlalu berlebihan dan tidak memahami
medan wacana yang sedang dihadapi.

Persisnya, dimana kekeliruan bersikap itu terjadi?

Wisdom of Crowds
Pertama, situs pertemanan ini sangat boleh jadi dibuat oleh pendukung
SBY. Sebagai ungkapan politik, sikap pendukung SBY jelas sah-sah saja.
Kalau kemudian berduyun-duyun orang bergabung sebagai supporters,
jelas sebuah soal yang berbeda.

Siapakah mereka?

Mereka adalah kerumuman. Mereka bergerak tanpa komando. Terdorong
berkata-kata karena merasa memiliki perasaan yang sama. Merasa sah
saja berkomentar apapun. Mereka adalah suara massa yang nyaris tak
mendapat ruang dalam media konvensional.

Mereka barangkali bukan orang bijak bestari dan berbudi luhur. Tapi,
hukum yang berlaku dalam jejaring sosial adalah 'kebijaksanaan itu ada
dalam kerumuman' (Wisdom of Crowds) bukan dari orang yang ahli dan
sejenisnya.

Dengan bersikap keras dan tak sesuai logika dunia maya, PDIP malah
menuai masalah.

Alih-alih teredam, sikap keras yang berakhir dengan pembreidelan
segera menguatkan kesimpulan yang terlahir dari 'kebijaksanaan
kerumuman': Megawati memang tak layak. Dia tak mampu berwacana, dan
seterusnya.

Parahnya, sikap Megawati segera mengingatkan orang pada perilaku
otoritarian ala orde baru. Komunitas kerumunan dalam dunia maya adalah
figur-figur yang barangkali malas dengan hiruk-pikuk dunia politik,
tapi pastinya sangat benci pengekangan kebebasan.

Jadi, singkatnya, pihak PDIP tak memahami siapa yang tengah mereka
hadapi sehingga reaksinya malah berakibat fatal

Tersudut Framing
Kedua, secara subtansi, dunia maya memiliki logika berbahasa sendiri.
Yang di dunia nyata terasa tak santun, di dunia maya barangkali
sesuatu yang biasa-biasa saja. Lagi pula, jangan sepele kearifan
kerumuman.

Seseorang bisa saja sangat kasar dan sarkartis. Tapi, belum tentu
mempengaruhi. Yang lebih mungkin terjadi, sang pemberi komentar
seperti itu akan diabaikan secara diam-diam. Tak terkecuali kepada
para netter yang dianggap terlalu 'membual'.

Secara subtantif, banyak komentar yang disampaikan dalam situs
pertemanan itu adalah hal-hal yang sebenarnya sudah menjadi
pengetahuan publik. Yang berbeda adalah cara membingkainya.

Tengok, misalnya, soal ungkapan kekesalan "Apa lagi yang dia jual
kalau jadi presiden (lagi)?". Ini jelas bukan fitnah. Meski barangkali
benar telah dipersepsi berdasarkan pembingkaian yang mengalir di media
massa.

Berkembangnya pembingkaian seperti ini lebih disebabkan karena moncong
putih tak pernah menyelesaikan pekerjaan rumah seusai kekalahan pada
pileg dan pilpres 2004. Mereka tak pernah mencoba memberikan
perspektif lain tentang pilihan kebijakan dan hambatan yang harus
dihadapi Megawati ketika memerintah.

Dalam soal penjualan BUMN, misalnya, di beberapa kesempatan, memang
ada wacana tandingan dilontarkan. BUMN harus dilego (kerap dengan
harga murah) karena keharusan menambal APN yang super bolong. Jika
dibingkai, semestinya mereka membangun logika tentang "mencuci piring"
dari kebijakan di masa lalu dan jangan lupa sertakan kontribusi SBY
dan Kalla dalam penetapan kebijakan tersebut (jika ada, tentu saja).

Peluang yang Terlepas
Terkait ini, alih-alih menunjukkan keberangan, semestinya Megawati dan
PDIP malah berselancar. Secara subtansi, Megawati sebenarnya bisa
membangun positioning sebagai 'orang teraniaya' dan sekaligus 'orang
yang bijak'.

Bayangkan jika Megawati berkata-kata kurang lebih seperti ini:

"Ya, saya memang sudah membacanya. Saya menghargai apapun pendapat
mereka. Apapun yang dikatakan pada supporter di fesbuk itu adalah
bagian dari hak konstitusionil yang harus dilindungi meski memang ada
yang terasa kurang pas. Tidak pas itu, menurut perasaan saya, loh.
Kalau menurut mereka mungkin sudah pas. Ya, monggo saja. Ini kan
bagian dari pluritas budaya dan nilai-nilai yang juga diperjuangkan
oleh PDIP."

Dan, alangkah indahnya kalau Megawati mengimbuhi dengan berkata,
"Meminta penutupan fesbuk atau mengejar pelakunya? Itu tak akan pernah
terlintas di pikiran saya. Malah, kejadian ini menguatkan tekad saya
untuk menginstruksikan kepada anggota DPR periode mendatang dari PDIP
untuk mendorong perubahan UU ITE. UU itu banyak pasal karetnya dan
cukup represif juga, ya. Kami mengakui telah kecolongan. Dan, akan
kami bayar utang itu pada periode berikutnya."

Secara teknis, selain Megawati, PDIP seharusnya menggerakkan para spin
doctor untuk membangun wacana tandingan di media massa maupun media
online. Termasuk di dalamnya menginstruksikan kader-kadernya untuk
menjadi supporter di situs pertemanan itu dengan tujuan melakukan
netralisasi. Strategi seperti ini, misalnya, diterapkan simpatisan PKS
terhadap situs pertemanan bertitel "Say No to PKS".

Sayang, PDIP kembali menunjukkan bahwa mereka memiliki strategi
komunikasi yang buruk. Dengan bahasa yang berbeda, mereka masih terus
'monolog'. Tak mengindahkan audiens.

Dalam era political marketing, pengabaian terhadap audiens (pikiran,
minat, jangkar berpikirnya) jelas sebuah langkah menuju 'bunuh diri'
politik, sebagaimana pernah ditunjukkan PDIP ketika mencaci BLT
sebelum di saat-saat akhir harus merevisi opininya.


Pada 10 April 2009 08:02, k yoen <[email protected]> menulis:
> Hayooo Om Roy Suryo...gimana menurut analisa telematika anda??
>
> Best Regards,
> Yunianto
>

--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007 
-=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-

| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------

Kirim email ke