Informasi yang mengalir ini hampir saya ikuti terus dari Indra J.Piliang di
milis FPK.
Patut ditiru karena melekatnya amanah yang ada di pundaknya meskipun orang bisa
saja berkilah (=melakukan pembenaran) bahwa yang "butuh" untuk menyumbang
adalah para donatur dalam rangka mengejar pahala ada atau tidak ada informasi,
ada atau tidak ada laporan.
Para donatur yang menyumbang lewat Tim dia akan merasa "terlayani (=being
served)" dengan informasi yang mungkin dibacapun tidak.
Kita sudah seperti itu?
Salam / Jaerony.-
**************************************
HARI KE-14
"Kondisi di Ulu Banda Malalak bukan hanya rumah yg rusak, tapi juga lahan
pertanian masyarakat juga rusak, karena lahan pertanian (sawah, Kebun kakau) yg
mayoritas di kaki2 bukit, kena tanah longsor, oleh karena itu beberapa bulan
kedepan sebagian warga masih akn kesulitan pangan..." Itu bunyi sms asisten
khusus sy, Romi Fernando, malam ini, pukul 20.26.
Sy sudah menduganya, berdasarkan laporan Jupardi JP dan uda Indra Catri yg
sudah ke sana, beserta alumni SMA I Bukittinggi.
Malalak terletak di lembah dingin Gunung Tandikat dan Gunung Singgalang. Konon,
daerah itu "berisi". Harimau dan babi jadi2an masih menjadi cerita harian.
Dulu, ketika mblku kesana pada mlm hari, kami menemukan iring2an babi melintas
di jalan. Kami juga temukan org2 yg sedang menaikkan kayu ke truk2. Ketika
Kapalo Mudo, tim IJP 09 Center, yg asli Malalak menegurnya: "Anda kami
tangkap!", yg muncul malah wajah seorg polisi yg sedang "mencari makan malam".
Kapalo Mudo berpenampilan zaman Siti Nurbaya: pakai kain sarung, kopiah yg
miring, tubuh yg liat dan hitam, serta memiliki byk cerita dan pepatah2 Minang
kelas tinggi. Di mbl, dia bisa bercerita selama 2 jam, atau berdendang indang.
Betul2 org lama. Dia akan risau kalau blm makan. Pikirannya hanya bgmn makan
enak. Kalau sudah makan, "Tujuh gunung akan aku daki, Ketua!" Itu katanya
padaku. Entah mengapa, sampai kini dia masih memanggilku "Ketua." Dia adalah
anggota timku yg paling bangga bergabung dgn tim IJP 09 yg memang terdiri dari
org2 unik dan udik. Aku jg bangga kpdnya. Ketika posko cabangku dibuka di Parit
Malintang, dia naik mtr usangnya pulang pergi 4 jam lebih bersama istrinya.
"Mertua Ketua mau ketemu," katanya. Mintuo atau mertua adalah sebutan
kehormatan atas persaudaraan di lapangan. Jangan heran, kalau aku jumpa dgn
banyak mertua dan paman di lapangan, sekalipun tdk pernah jumpa pengantin
wanitanya.
Dulu, 4 kali aku ke Malalak. Menghadiri pengajian, meletakkan batu pertama
pendirian koperasi desa (sampai kini masih ada), memberikan hadiah pertandingan
bola volley dan menghadiri semacam malam hiburan para pemuda. Menurut cerita JP
dan Uda Indra Catri di milis rantau.net, mrk masih ingat semua perjalananku
kesana dan titip salam.
Ada dua hal lagi yg mrk minta utk jadi perhatianku: area wisata alam di sana yg
belum ada fasilitasn dgn air terjun yg tinggi, jernih dan alami. Kedua,
lapangan sepakbola yg sudah ada lahannya, tinggal disingkirkan kayu2 hutan yg
ada di sana dgn alat2 berat. Aku blm sempat perhatikan kedua hal itu. Tapi
mudah2an bisa dijalankan dlm thn2 mendatang. Malalak adalah ranah indah yg
membuat siapapun akan lupa pada apapun persoalan2 dunia. Malalak adalah sorga
kecil yg terletak di ketinggian. Tepian Samudera Hindia bisa dilihat dari
pucuk2 pohon kelapa di sana, jauh dan menakjubkan.
Krn urusan keluarga di Jkt, aku tdk sempat ke sana hari ini. Tapi timku kesana:
Romi anak 50 Kota-Payakumbuh, Taufik anak Pasaman Barat dan Hadi Suwarman,
kakak iparku yg menyetir mobilku. Pagi mrk ke Bukittinggi, membeli selimut yg
mahal harganya, seharga Rp. 2 Juta lbih. Biscuit, pempers, pembalut wanita dan
pakaian baru juga dibawa dari posko IJP 09. Utk mencari jln masuk, mobil tim
sempat berputar2. Jln tembus dari Tandikek, Patamuan, putus. Jln lain berisi
sebuah mobil yg kandas. Jln2 ke sana memang rengkah dan kena longsor. Jurang2
dlm juga siap menelan mbl2 itu kalau slip. Mbl sempat slip, kata Hadi, tp bisa
dikendalikan.
Kesanalah perjalanan tim hari ini. Pulang dari sana, belanja beras, cabe, ikan
kering, wortel, bawang, dan kebutuhan dapur lainnya di Padang Panjang dan
Padang Luar. Ayah Ketek -- Ayah Kecil-- ku ikut membantu proses belanja itu.
Adik tiri ayahku itu memang jadi petani tanaman organik di lereng Merapi. Walau
kebunnya blm panen, dia kenal dgn byk petani lainnya.
Malalak terletak di Kabupaten Agam yg berbatasan langsung dgn Padang Pariaman.
Dua kultur menyatu disana: kultur pesisiran Pariaman yg terbuka dan mungkin
dianggap kasar, dan kultur daratan yg filosofis dan berbudaya tinggi. Krn ayah
adalah org Aie Angek, Tanah Datar, sejak kecil aku sudah paham kedua kultur
itu. Konon, org Malalak juga pernah minta bergabung dgn Padang Pariaman. Tapi
itu terlalu pelik dan politis.
Tim lain di Lubuk Buaya istirahat. Kmrn gagal mendapatkan 30 tenda. Seharusnya
mrk bergerak ke Kec 2 x 11 Enam Lingkung, tapi uni Siti Izzati Azis yg akan
menemani ikut rapat-rapat maraton di DPRD Sumbar. Suaminya yg datang dan
membawa 80 paket beras, cabe, ikan kering, dllnya, utk 2 x 11 Enam Lingkung.
Besok, tim ini mungkin akan "istirahat" di posko, dlm arti membongkar karung2
beras, karung2 cabe, lalu memilihanya ke dalam kantong2 plastik hitam. Mrk tdk
pernah benar2 istirahat. Mudah2an mrk tetap bersemangat: Romi, Sahrul, Revi,
Hadi, Taufik, Ismed, Yunas, dan bbrp yg lainnya. Mrk biasa membuka baju ketika
bekerja di posko. Badan2 yg mengkilat kena keringat. Tangan2 lelaki yg harus
bergelut dgn pekerjaan yg jarang mereka lakukan: menggantang isi dapur..
Sy memantau dari sudut Jkt ini, sambil menulis atau membaca buku.
Jakarta, 13 Oktober 2009, 21.15.
NB: Hari ini ada bbrp sumbangan masuk. Dari TW seorg jurnalis, dari HN yg seorh
surveyor, dan yg aku lupa namanya, kmrn sms. Terima kasih, Saudara..
"Beranilah beda, beranilah benar, beranilah pulang! Maka, demokrasi akan sehat,
oligarki akan punah, hubungan batin akan sumringah... "
Original message:
On Tue, 10/13/09, Indra J Piliang <[email protected]>