Baru dengar tentang atsar shahabat soal isteri yang cerewet.
Padahal, kalo dipikir-pikir isteri di rumah itu termasuk yang nggak banyak 
bicara, tapi ternyata ....... he..he..he...... Cocok dengan atsar ini dech!
Siapa mo ngebantah?

Salam / Jaerony.-

*************************************************


Adakah istri yang tidak cerewet?

==============

Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun sama.

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman khalifah Umar bin 
Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. 
Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah 
terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang 
akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari 
mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. 
Akhirnya lelaki
itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, 
berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di 
luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?

Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 
tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka

Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, 
niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di 
sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, 
membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi 
terpuasnya satu hal; syahwat. Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, 
menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian 
hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan 
azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan 
akhirat.

Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia 
akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah 
namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang 
sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga 
langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya 
dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah

Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. 
Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak 
begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli 
itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh 
dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap 
menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran. Jika suami menggaji seseorang 
untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa 
memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya 
sulit menemukan pemelihara
rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka 
tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah 
menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan

Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian 
warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan 
sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi 
menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan 
sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan 
adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas 
kecakapannya itu

4. Pengasuh Anak-anak

Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri 
bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak 
berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan 
kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang 
disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, 
?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke 
depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan

Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di 
seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma 
tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. 
Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, 
menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek 
bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa 
takaran
bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang 
dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. 
Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam 
memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. 
Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di 
pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara 
hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan 
untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan 
keluh kesah buah lelah.

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan 
kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia 
menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar 
pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji. Akankah suami-suami masa kini 
dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi 
juga menjadi imam idaman bagi keluarganya

**** Diolah dari Cahaya Iman, edisi kamis, 30 November 2006-11-30, Bersama 
Ustad Cinta di Indosiar pukul 04:30 ***


Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian 
itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]




----- Original Message -----

      --- On Thu, 10/15/09, suryati <[email protected]> 

Kirim email ke