KECELAKAAN KERETA API
Keselamatan Penumpang Terus Terancam

Selasa, 11 Mei 2010

Ancaman kecelakaan pada perjalanan kereta rel listrik (KRL) di Jabodetabek
akan terus menghantui. Bukan hanya terkait usia kereta yang sudah lanjut,
melainkan juga proses perawatan yang memang meragukan.

Ini terjadi akibat minimnya ketersediaan suku cadang, sehingga pihak PT
Kereta Api (PT KA) harus melakukan sistem kanibalisme (suku cadang di satu
kereta dipakai di kereta lainnya). Pengakuan sejumlah teknisi di Dipo KRL
Depok saat inspeksi mendadak (sidak) Dirjen Perkeretaapian belum lama ini
diketahui, 90 persen kereta yang dioperasikan tidak memenuhi standar
operasional.

Salah seorang teknisi di Dipo KRL Depok mengatakan, walau kereta yang ada
tidak memenuhi standar operasional, namun setiap hari KRL harus tetap
dioperasikan untuk melayani masyarakat. "Ini perintah manajemen (PT KA).
Kalau tidak dioperasikan, maka kami yang akan terkena sanksi. Jadi, kami
usahakan yang penting jalan," kata teknisi tersebut.

Sebenarnya teknisi di Dipo KRL Depok telah mengajukan permintaan suku cadang
secara periodik, namun realisasinya selalu terlambat. Padahal setiap hari
KRL harus melayani masyarakat.

"Karena suku cadang yang kami pesan lama dan tak datang-datang, ya kami
pakai dulu suku cadang bekas yang kami bongkar dari kereta lain yang tidak
beroperasi. Memang memprihatinkan dan sebenarnya tidak boleh. Tapi, mau apa
lagi, buat kami yang penting KRL bisa jalan melayani masyarakat," katanya.

Karena itu, para teknisi tidak merasa kaget kalau tiba-tiba mendapat
informasi kereta api yang anjlok, tabrakan, atau mogok di jalan. "Selain
melakukan perbaikan dengan suku cadang seadanya, ya kita berdoa saja semoga
semua KRL yang beroperasi bisa kembali ke Dipo dengan selamat," tutur
teknisi KA ini dengan nada prihatin.

Seperti diketahui, kekhawatiran kecelakaan kereta api terbukti, dan akhir
pekan lalu (Kamis 6/5) sekitar pukul 11.00 WIB, satu rangkaian KRL anjlok di
Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, serta menabrak tiang listrik. Kecelakaan
ini bukan hanya mengganggu perjalanan, melainkan juga memutuskan pasokan
listrik KRL di beberapa stasiun.

Kepala Daerah Operasi I Jabodetabek PT Kereta Api (KA) Mulianta Sinulingga
menyebutkan, kereta api tua tetap dioperasikan untuk melayani penumpang
karena keterbatasan armada. Meski tua, kereta yang ada masih bisa jalan
untuk melayani masyarakat. Namun, PT KA memprioritaskan perawatan.

"Kami berusaha maksimal untuk melayani penumpang. Dalam waktu dekat, PT KA
akan mengganti sejumlah armada KRL dengan yang baru," katanya.

Sementara itu, Kepala Humas Daop I Sugeng Priyono menuturkan, PT KA
melakukan pengecekan dan perawatan KA dengan jadwal rutin. "Kami juga peduli
dengan keselamatan perjalanan KA. Pengecekan itu dilakukan setiap tiga
bulan, enam bulan, hingga 12 bulan. Kecelakaan yang terjadi tidak ada
kaitannya dengan usia KA, tapi lebih pada kriteria tertentu," katanya.

Namun kenyataannya, kanibalisme suku cadang KRL, seperti yang terjadi di
Dipo Depok, Jawa Barat, bukan hanya isapan jempol. Bahkan, proses pengecekan
KA yang disebutkan dilakukan secara rutin praoperasional, ternyata juga
tidak dilakukan sesuai prosedur. Ini terungkap dari pengakuan para teknisi.
Kondisi ini sudah terjadi bertahun-tahun.

Misalnya untuk pengecekan daya cengkeram rem, masinis biasanya hanya
memaju-mundurkan kereta satu hingga dua meter dan mengeremnya secara
mendadak. Artinya, pengecekan keandalan KRL hanya didasarkan pada perasaan
seorang masinis. Padahal prosedur pengecekan pengereman meliputi dua
langkah, yaitu pemeriksaan visual dan fungsi kerja.

Secara menyeluruh, prosedur pemeriksaan kondisi visual KRL meliputi banyak
item, meliputi pemeriksaan pantograf, perangkat bogi (2 item), unit
pengereman (2 item), unit tenaga (6 item), kompresor (5 item), MG (2 item),
kunci dan tutup gerbong (5 item), antargerbong (5 item), eksterior (3 item),
serta interior (3 item).

Kemudian untuk pengecekan fungsi kerja, item-item proses yang wajib
dilakukan meliputi 12 prosedur. Pemeriksaan fungsi kerja terfokus pada
perangkat-perangkat KRL yang memiliki fungsi gerak mekanis serta komponen
kelistrikan. Metode pengecekan tidak dilakukan dengan cara menduga-duga
maupun kumulatif seperti yang dilakukan saat ini.

Salah seorang teknisi KA juga mengakui jika proses perawatan KRL atau KA
secara umum disesuaikan dengan mekanisme dan prosedur yang ada, maka sekitar
90 persen kereta di Dipo Depok tidak laik operasi. Penyebabnya hanya satu,
soal suku cadang.

Padahal usulan pengadaan suku cadang sudah dilakukan secara periodik. Namun,
ternyata realisasinya sangat berbeda. Kondisi ini yang memaksa para teknisi
untuk melakukan kanibalisasi pada proses perbaikan KA, yaitu dengan
memindahkan suku cadang dari satu kereta ke kereta lain. (Syamsuri S)

Sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=252834




--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007 
-=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-

| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------

Kirim email ke