Itulah Mbah Maridjan, yang dengan kesederhanaannya, upaya transformasinya
cukup 'dihormati' orang banyak, baik yang kontra apalagi yang pro.

Berbeda dengan Ponimin, yang baru dikabarkan jadi kandidat pengganti Mbah
Maridjan, sudah obral 'kesaktian'. Celakanya, media massa 'terhormat' pun
dengan penuh nafsu menyantapnya. Na'uzubillah. Semoga masyarakat tidak
teracuni. Kasihan ...

--amin
Pada 29 Oktober 2010 15.56, jaerony <[email protected]> menulis:

>  Apapun, moga-moga artikel di Kompas hari ini (29/10) tidak bikin bingung
> kita ...
>
> ***********************************
>
> *Mbah Maridjan, Transformasi "Islam-Jawa"
> *
>
> Jumat, 29 Oktober 2010 | 03:51 WIB
> KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
>
> Mbah Maridjan boleh dibilang salah satu pelaku fenomenal dalam transformasi
> teologis "Islam-Jawa". Kesejarahannya bisa ditarik benang merahnya dengan
> kesejarahan Wali Sanga.
>
> Hubungan eksistensial Mbah Maridjan dengan Gunung Merapi bisa dirunut dalam
> proses perubahan kosmologi Jawa sejak zaman kerajaan-kerajaan Jawa sebelum
> abad ke-10 Masehi. Pada Mataram pertama yang berkedudukan
> di Yogyakarta sampai Kadiri, Singasari, dan Majapahit di Jawa Timur, secara
> kosmologis kehidupan itu dibagi dua, yaitu adanya jagat atas dan jagat
> bawah.
>
> Menurut antropolog dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, jagat atas
> adalah tempat para dewa yang digambarkan terletak di atas gunung. Maka
> banyak gunung, terutama yang aktif, yang dikeramatkan, seperti Merapi,
> Semeru, Kelud, dan Bromo. Sementara jagat bawah berada di lembah yang
> ditempati manusia.
>
> Kewajiban manusia adalah menjaga harmonisasi jagat bawah dengan jagat atas.
> Untuk itulah dibangun tempat-tempat suci dan secara periodik diselenggarakan
> ritual. Misalnya, keberadaan Candi Prambanan sebagai tempat suci ritual puja
> terhadap jagat atas di Gunung Merapi. Candi Penataran di Blitar, Jawa Timur,
> yang dibangun dalam tiga dinasti (Kadiri, Singasari, Majapahit) adalah
> tempat ritual puja terhadap jagat atas di Gunung Kelud. Candi Jago di
> Malang, Jawa Timur, untuk tempat puja jagat atas di Gunung Semeru.
>
> Salah satu ritual yang masih lestari sampai sekarang adalah ritual Kasada
> yang dihelat masyarakat subkultur Tengger di Gunung Bromo.
>
> Sejalan dengan melemahnya pengaruh Hindu, konsep kosmologi Jawa mengalami
> perubahan di mana konsep jagat atas tempat dewa diganti menjadi tempat "Sing
> Mbaureksa" yang artinya yang berkuasa. Konsep sosok "Sing Mbaureksa" ini
> tidak begitu jelas. Hanya dipersepsi sebagai ruh atau makhluk gaib, tetapi
> bukan dewa, bukan jin atau malaikat. Manusia berkewajiban menjaga
> harmonisasi dengan "Sing Mbaureksa" tersebut demi keselamatan dan
> kemaslahatan umat manusia.
>
> *Sujud *
>
> Dengan diangkat menjadi juru kunci Merapi, keberadaan Mbah Maridjan (83)
> adalah menjadi ujung tombak atau tokoh kunci terpeliharanya harmonisasi
> Keraton Yogyakarta (jagat bawah) dengan Merapi (jagat atas).
>
> Bagi Mbah Maridjan, konsep "Sing Mbaureksa" Merapi adalah Tuhan. Hal itu
> tecermin dari doa-doanya yang hanya ditujukan kepada Tuhan sebagai Sang Maha
> Selamat (al-Salam). Jasad Mbah Maridjan yang ditemukan dalam
> posisi sujud menjadi bukti bahwa dia melakukan ritual secara Islam.
>
> Masalah tempat sujudnya di kamar mandi harus dilihat dalam konteks darurat.
> Dalam situasi normal, sujud di kamar mandi jelas dilarang Islam.
>
> Tindakannya itu juga membuktikan bahwa dalam situasi yang sangat gawat Mbah
> Maridjan tetap pasrah kepada Tuhan. Tetap memohon bagi keselamatan rakyat
> Yogyakarta.
>
> Posisi sujud sekaligus menunjukkan betapa Mbah Maridjan sangat mencintai
> buminya, Merapi. Dia memegang ajaran Jawa: sedumuk bathuk senyari bumi
> ditohi pati (sejengkal tanah akan dibela sampai mati).
>
> Posisi itu juga menunjukkan betapa Mbah Maridjan setia dengan amanat yang
> dipanggulnya menjaga harmonisasi dengan Merapi. Menerima amanat harus dijaga
> dengan taruhan nyawa. Dia tidak mau tinggal gelanggang colong playu, lari
> dari tugas dan tanggung jawab.
>
> Pola Mbah Maridjan menjaga Merapi, tidak gegabah kalau dibilang sebagai
> bentuk transformasi teologis "Islam-Jawa", yaitu tatkala dia menggeser pusat
> kepasrahan, permohonan dan pemujaan dari "Sing Mbaureksa" kepada Tuhan.
>
> Dia melakukan transformasi itu secara bijaksana untuk menjaga harmonisasi
> sosial. Dia tetap melakukan upacara adat, tetapi "ruh" upacara yang berupa
> doa itu menggunakan ajaran tauhid. Ibaratnya, casing-nya tetap, tetapi
> isinya yang baru.
>
> Pola ini sealur benang merah dengan pola transformasi teologis "Islam-Jawa"
> Wali Sanga. Misalnya, tetap memelihara pelbagai bentuk selamatan tetapi
> "ruh"- nya sudah diganti dengan ajaran tauhid.
>
> Sunan Kudus melarang masyarakat menyembelih sapi sebagai cara menjaga
> harmonisasi dengan umat Hindu. Padahal, kalau cuma berpijak pada syar'i,
> tindakan Sunan Kudus itu menyimpang karena melarang barang yang halal.
>
> Dengan pola transformasi teologisnya—hasil ijtihadnya— itu, Mbah Maridjan
> berusaha memelihara agar umat tak terperosok ke dalam syirik. Tradisi Jawa
> tetap terpelihara, tatanan Keraton tetap dihormati dan dilestarikan, tetapi
> tak terjadi gejolak sosial. (ANWAR HUDIJONO).
>
>
>
>
> http://cetak.kompas.com/read/2010/10/29/03512985/mbah.maridjan.transformasi.islam-jawa
>
>
>
>

Kirim email ke