07 Maret 2011
Wasit LPI Ungkap Borok PSSI (1)
Tuan Rumah Biasa Pesan Kemenangan
SM/Hendra Setiawan
Achmadi
Kisruh di tubuh PSSI diikuti pula dengan hengkangnya sejumlah wasit ke Liga
Primer Indonesia (LPI). Banyaknya tekanan dan berbagai ketidakberesan lain
menjadi alasan utama. Mereka pun mulai mengungkap borok-borok PSSI ke
permukaan. Apa saja itu?
TAK sedikit wasit dan pengawas pertandingan (PP) PSSI yang meloncat ke LPI yang
digagas pengusaha nasional Arifin Panigoro. Di Jateng terdapat 20 PP dan 50
wasit yang memilih jalur itu.
Mereka berasal dari Semarang, Surakarta, Magelang, Kendal, Sragen, dan beberapa
daerah lainnya. Dari 20 PP (sebutan di LPI match commissioner) tersebut, enam
di antaranya sudah bertugas. Sementara yang lainnya masih menunggu mandat dari
konsorsium LPI.
Begitu pula dengan wasit. Tiga orang menjadi wasit utama, 13 lainnya menjadi
asisten wasit. Sementara 34 wasit lainnya juga masih menunggu mandat dari
Konsorsium LPI.
Koordinator Wasit dan PP LPI Jawa Tengah Achmadi menjelaskan, tidak ada paksaan
untuk berpindah jalur. Semuanya atas keinginan pribadi. Mereka mengikuti LPI
atas suara hati nurani. Meski banyak pihak yang menentang, tekad pindah ke LPI
sudah bulat.
''LPI menjanjikan perubahan. Kompetisi lebih bersih dan fair play. Semuanya
bertindak sesuai dengan aturan. Tidak ada tekanan lagi dari tuan rumah yang
menginginkan kemenangan,'' jelas mantan PP Pengcab PSSI Kota Semarang itu.
Dia mengungkapkan, selama bertugas menjadi wasit PSSI, tak jarang menjumpai tim
tuan rumah yang memesan kemenangan. Karena kebiasaan yang sudah membudaya
tersebut, tim tamu sudah pesimistis bisa menang sebelum pertandingan
berlangsung.
Lain dengan cerita di LPI, kemenangan ditentukan penampilan kedua kesebelasan.
Siapa yang lebih baik, maka dialah yang memenangi laga. Saat bertemu di
technical meeting, tidak ada rasa curiga salah satu tim akan dikerjai.
''Saat itu, bila tidak ikut arus maka akan ditentang dan terancam tidak akan
mendapat tugas lagi. Kini kondisinya berbeda, ada kompetisi yang lebih bersih.
Baik wasit maupun PP dapat bertugas lebih baik karena tidak ada intervensi
selama memimpin pertandingan,'' ungkap pria kelahiran Semarang, 30 Mei 1963 itu.
Sebenarnya, ungkap Achmadi, kualitas wasit dan PP di Indonesia tidak kalah
dibandingkan dengan wasit asing. Hanya saja aturan kompetisi di luar negeri
lebih tegas, sehingga tidak ada tekanan dari salah satu tim. Berbeda dari
Indonesia, apa saja bisa diraih dengan uang.
Hal itulah yang membulatkan tekadnya untuk memijakkan kaki ke LPI. Ia
menegaskan, perlu perubahan dan reformasi di tubuh PSSI.
Lebih Dimanusiakan
Lain halnya dengan wasit Poniran yang juga berasal dari Semarang. Saat masih di
PSSI, dia jarang diberi tugas. Padalah dia rutin mengikuti penyegaran setiap
tahun. Penyegaran tersebut juga tidak gratis. Ia harus mengeluarkan uang
lumayan banyak dari sakunya sendiri.
Dia tak ingin mempersoalkan masalah status. Memimpin pertandingan LPI ataupun
PSSI sama saja, yaitu mengawal pertandingan seadil-adilnya.
''Di PSSI saya tidak pernah mendapat tugas memimpin pertandingan. Di LPI, saya
sering mendapat tugas. Hal dasar yang membuat saya pindah ke LPI adalah mencari
nafkah untuk keluarga,'' jelas Poniran yang menjadi wasit sejak 1983.
Keduanya memiliki suara yang sama menanggapi pencabutan lisensi yang dilakukan
PSSI bila mereka mengikuti LPI. Baik Poniran maupun Achmadi meminta agar PSSI
mengembalikan uang yang telah dikeluarkan saat mengurus lisensi tersebut.
''Tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk mendapatkan lisensi. Namun,
seenaknya saja PSSI mencabut lisensi kami. Di mana hati nurani para pengurus
PSSI. Seharusnya mereka lebih bijak melihat situasi saat ini,'' tambah Achmadi.
Sama halnya dengan wasit Sukiman. Dia mengusung prinsip profesional, mencari
nafkah agar dapur tetap ngebul. Pasalnya, selama ini dia jarang sekali ditugasi
PSSI memimpin pertandingan. Padahal, biaya yang sudah dikeluarkan untuk
mendapatkan lisensi wasit cukup besar.
''Kalau menunggu penugasan PSSI, setahun paling hanya satu kali. Itu tidak
sebanding dengan biaya yang kami keluarkan,'' papar Sukiman yang akrab disapa
Geong.
Karena itu, tawaran dari LPI untuk menjadi asisten wasit langsung diterimanya.
Selama menjadi asisten wasit di LPI, dia sudah ditugaskan ke Manado dan Malang.
Geong mengaku cocok bertugas di LPI.
Pasalnya, selama bertugas tidak ada tekanan dari manapun. Hal itu tidak seperti
waktu bertugas di kompetisi PSSI. Tekanan terhadap perangkat pertandingan
sangat besar untuk memenangkan tim tertentu, biasanya tuan rumah.
Tekanan-tekanan itu tidak hanya datang dari tuan rumah, tapi juga pejabat teras
PSSI yang mendukung klub tersebut.
Jika hasil yang dicapai tidak sesuai dengan kehendak sang pejabat, wasit bisa
tidak diberi tugas lagi. Tapi kalau berhasil, akan dipakai terus.
''Di LPI kami lebih dimanusiakan. Tidak ada tekanan. Kami sangat enjoy sehingga
mampu bertugas maksimal,'' kata Geong yang menjadi wasit sejak 1991.
Selain itu, imbuhnya, fasilitas yang diberikan oleh LPI juga lebih bagus
daripada PSSI. Contohnya dalam hal penginapan. Selama bertugas di LPI,
perangkat pertandingan ditempatkan di hotel berbintang 3 atau 4. Sedangkan di
PSSI, wasit, wasit cadangan, dan dua asisten wasit sering diinapkan di hotel
kelas melati.
''Honornya pun lebih besar di LPI. Wasit dibayar Rp 5 juta, asisten wasit Rp 3
juta, dan wasit cadangan Rp 2,5 juta. Di PSSI, bayarannya di bawah itu,''
ungkapnya.
''Di LPI saya bisa memimpin dua kali sebulan. Itu jarang saya dapatkan waktu di
PSSI. Hasil bayaran pun Insya Allah barokah, bisa bermanfaat bagi keluarga.
Tapi kalau di PSSI, istilahnya duit setan dimakan demit, jadi habisnya cepat
sekali,'' tambahnya. (Hendra Setiawan-59)
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/03/07/139101/Tuan-Rumah-Biasa-Pesan-Kemenangan-