08 Maret 2011 Wasit LPI Ungkap Borok PSSI (2-Habis) Dulu Ditekan, Kini Tenang di Lapangan TAK mudah menjadi wasit. Sebab, keputusan yang ditetapkan tidak selalu memuaskan banyak pihak. Lebih-lebih jika sang pengadil itu mendapat "pesanan" dari orang-orang di jajaran vertikal institusinya, agar memenangkan klub tertentu dalam sebuah laga.
Belum lagi "tekanan" dari kubu tuan rumah yang memberi tambahan uang transpor dan lain-lain agar perangkat pertandingan memberi keuntungan, demi memenangkan timnya pada partai tersebut. Situasi itulah yang melandasi keputusan Suwarto untuk hengkang dari lingkaran PSSI dan masuk ke ajang Liga Primer Indonesia (LPI). "Bertahun-tahun saya merasakan tekanan batin. Selalu ada ganjalan dan beban mental saat berada di tengah lapangan, karena bertentangan dengan hati nurani. Maka ketika LPI digulirkan, saya memutuskan untuk bergabung ke liga tersebut," tutur Suwarto. Satu dari delapan wasit nasional dari Solo itu mengaku tidak bisa memimpin pertandingan secara fair selama menjalankan tugas di lingkup PSSI. Pemegang sertifikat C1 sejak 2004 tersebut mengungkapkan, beberapa pengurus otorita tertinggi sepak bola di Tanah Air itu kerap memberi "arahan" kepada para wasit. Ada konsekuensi jika sang pengadil tidak mematuhinya. Yang sering terjadi, wasit yang tidak patuh jarang diberi tugas pada laga-laga berikutnya. Mereka yang tidak mendapat jatah tugas, tidak menerima bayaran. Sebab, bayaran diperoleh wasit setiap memimpin pertandingan. "Jadi, mau tidak mau, kami harus manut pada atasan," ungkap pria kelahiran Karanganyar, 45 tahun lalu itu. Wanita Penghibur Berapa bayaran yang diterima sekali memimpin laga, dia tidak bersedia menyebutkan. Apakah persoalan materi itu juga menjadi pertimbangan untuk hengkang ke LPI? Apakah pendapatannya sebagai wasit di PSSI lebih sedikit ketimbang menjadi pengadil di kancah liga baru yang sering disebut sebagai kompetisi tandingan? Suwarto tegas membantahnya. Pria yang kali terakhir bertugas pada home tournament kompetisi Divisi I di Blitar tersebut mengungkapkan, jika berhitung soal materi maka pendapatannya di pergelaran resmi PSSI bisa lebih besar. "Yang membayar biaya wasit, tim tuan rumah. Biasanya, mereka memberi bonus seperti tambahan uang transpor dan uang makan disertai pesan untuk memenangkan timnya. Kalau di LPI yang membayar ya LPI, bukan klub. Jadi kami bisa benar-benar fair, profesional, dan merasa tenang di lapangan," ujarnya. Disinggung soal rumor ada bonus tambahan dari tuan rumah berupa layanan wanita penghibur, Suwarto mengatakan, "Insya Allah hingga saat ini saya belum pernah mendapat tawaran itu. Dengar-dengar sih memang ada yang seperti itu, tapi saya belum pernah mengalaminya," ujar lelaki yang merintis karier wasit sejak 1996 tersebut. Mengenai risiko yang harus dia terima dari PSSI berupa pembekuan sertifikat wasit, guru sebuah sekolah di Kota Bengawan itu menyatakan telah mempertimbangkan secara matang sebelum mengambil keputusan. Namun dia mengaku belum menerima surat dari PSSI tentang pencoretan dirinya. Dia juga menyatakan siap bersaing dengan wasit asing di LPI. Menurutnya, kehadiran para ekspatriat pengadil tersebut justru menjadi tantangan bagi para wasit nasional untuk lebih banyak belajar memimpin pertandingan secara profesional. "Saya terus membaca buku-buku tentang memimpin pertandingan dan mencermati berbagai tayangan sepak bola di televisi. Kami semua berharap LPI terus profesional seperti sekarang, sehingga wasit yang nantinya kurang baik memimpin tidak ditugaskan," tegasnya. (Setyo Wiyono-59) http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/03/08/139227/Dulu-Ditekan-Kini-Tenang-di-Lapangan
