Suporter Manchester, 'Rakyat' Barcelona Jum'at, 27 Mei 2011 | 08:07 WIB Manchester United. AP /Jon Super
TEMPO Interaktif, Jakarta- Batas antara cinta dan benci tipis sekali. Itu kata orang. Carly Lyes, 27 tahun, mengalaminya kini. Perempuan pekerja sosial itu merasa dizalimi klub kesayangannya sendiri, Manchester United. "Setelah 15 tahun saya mendukung mereka, betapa bencinya saya sekarang memikirkan setiap keping uang yang telah saya keluarkan untuk menonton pertandingan-pertandingan mereka." Sebagai suporter MU sejak berusia 11 tahun, Carly tahu benar betapa bobroknya manajemen klubnya setelah kedatangan Malcolm Glazer, miliarder asal Amerika Serikat yang menjadi pemilik MU sejak 2005. Untuk mengekspresikan kebenciannya kepada Glazer, Carly menunggu saat yang tepat. Itu terjadi pada laga pertama perempat final melawan Chelsea di Old Trafford. Salah seorang anggota keluarga Glazer hadir, sebuah hal yang sangat jarang terjadi. Sebelum kick-off, Carly membentangkan spanduk bertulisan "Love United, Hate Glazer". Petugas keamanan mengusirnya keluar. Gara-gara peristiwa itu, Carly tak diperkenankan lagi menonton laga kandang MU, padahal dia memiliki tiket terusan. Bukan cuma itu, permintaan perpanjangan memiliki tiket terusan untuk tiga tahun yang diajukan keluarga Lyes juga ditolak. "Saya benar-benar diperlakukan secara brutal." Glazer memang tak disukai suporter MU sejak awal kedatangannya. Dan terbukti kemudian, dari klub yang tak punya utang, The Reds Devils memiliki bejibun tagihan setelah dipegang Glazer. Keuntungan klub dipakai untuk menutup utang-utang Glazer yang memang membeli MU dengan modal uang pinjaman. Protes-protes seperti yang dilakukan Carly sangat sering terjadi, terutama pada musim lalu. Sebagian besar pelakunya tak boleh lagi menginjakkan kaki di Old Trafford. Asosiasi Suporter Independen MU menerima lebih dari seratus aduan. Di MU, juga di mayoritas klub Liga Inggris lain, suporter sekadar suporter. Dukungan mereka dibutuhkan di lapangan. Tapi tidak untuk urusan manajerial. Bila kecewa dengan pihak manajemen, mereka cuma bisa berteriak-teriak dari "luar arena". Bila pihak manajemen tak berkenan dengan masukan yang diberikan para suporter, tak ada kewajiban bagi klub untuk memenuhi tuntutan. Sebagian suporter yang kecewa mendirikan klub tandingan bernama FC United pada 2005. Barcelona bukan Manchester United. Dari sudut suporter, kedua klub yang akan bertemu pada final Liga Champions di Wembley, Sabtu nanti, itu memiliki karakter berseberangan. Fan sejati Barcelona bak rakyat sebuah negara demokratis. Suporter memiliki jalur resmi berupa acara pemilihan presiden setiap empat tahun sekali. Suporter yang menjadi anggota dewan pemilik Barcelona dinamakan socis. Saat ini jumlahnya sekitar 155 ribu orang. Mereka membayar sejumlah uang untuk menjadi anggota socis dan memiliki keuntungan mendapat diskon dalam banyak hal. Ini tradisi yang ada di sebagian besar klub Liga Spanyol, termasuk Real Madrid. www.tempointeraktif.com
