Yang perlu dipahamkan tentang protes-protes ini adalah :

 

1.      Penghapusan KRL-Express --> penurunan pelayanan (kecepatan,
kenyamanan, dsb).
2.      Kenaikan KRL-AC Ekonomi --> membebani sebagian besar penumpang KRL.

 

*********************************************************************

 

 

Tarif Tunggal KRL Menuai Protes

17 Jun 2011

 

Besarnya kenaikan belum dibarengi perbaikan layanan.

 

 

TANGSEL - Menjelang uji coba KRL Commuter, protes masyarakat terus mengalir.
Bukan hanya soal sistem pemberhentian di setiap stasiun, melainkan juga
rencana penerapan tarif tunggal mengundang aksi penolakan.

 

Seperti dilontarkan para pengguna dan komunitas KRL Lintas Serpong ini.
Deddy Herlambang, perwakilan penumpang KRL Lintas Serpong, menegaskan bahwa
pihaknya keberatan terhadap pemberlakuan tarif tunggal sebesar Rp 8.000
untuk KRL Jalur Serpong-Jakarta. Tarif tersebut, ujar Deddy, terasa sangat
membebani mengingat jarak tempuh yang hanya 25 kilometer. "Kami akan
protes," ujarnya tegas, Kamis (16/6).

 

Saat ini, lanjut Deddy, pihaknya telah melakukan pengumpulan tanda tangan
dalam rangka menolak pemberlakuan peraturan tersebut. "Tarif baru itu
terlalu mahal," keluhnya.

 

Dukungan terhadap penolakan tarif tunggal juga dilakukan oleh komunitas
mailing list (milis) BSD Society, komunitas warga Bumi Serpong Damai (BSD),
Tangerang Selatan.

 

Menurut Presiden BSD

 

Society Adji Ekawarman Hassan, dukungan terhadap pengguna KRL Lintas Serpong
itu dilakukan karena sebagian besar anggota milis juga memanfaatkan sarana
transportasi kereta tersebut. "Tarif baru dan diberhentikan setiap stasiun
itu sama dengan pemaksaan kenaikan tarif," kata Adji.

 

Sebagai bentuk dukungan, BSD Society akan memasang spanduk penolakan tarif
tunggal. BSD Society juga menggalang tanda tangan kepada anggota dan warga
Serpong melalui formulir yang disebar di beberapa tempat, termasuk di
tempat-tempat usaha mitra BSD Society. "Kebijakan ini harus dihapus,"
tegasnya.

 

Perbaikan layanan

 

Suara senada juga datang dari Depok. Para pengguna jasa KRL juga menolak
rencana kenaikan tarif itu. Mereka menilai besarnya kenaikan belum dibarengi
perbaikan layanan.

 

"Selama pelayanan yang dijanjikan belum direalisasikan, kami tidak bisa
menerima kenaikan tarif itu," ujar Sri, warga Kecamatan Pan-coran Mas, saat
menunggu kereta di Stasiun Depok Lama.

 

Bagi Sri, kenaikan itu tidak masuk akal. Bahkan, menurutnya, tarif lama
sebesar Rp 5.500 terlalu mahal karena penumpang tidak merasa nyaman
menggunakan angkutan umum tersebut.

 

"Kalau kereta sudah penuh, AC kereta tidak berfungsi. Pintu kereta juga
terpaksa dibuka," paparnya.

 

Syafrudin, pengguna jasa KRL lainnya, setuju. Ia menyebutkan, banyak
perbaikan yang dijanjikan PT KAI belum terealisasi, di antaranya ketepatan
waktu kedatangan dan keberangkatan kereta serta jaminan keamanan di stasiun
atau kereta. "Perbaiki dulu, baru naikkan tarif," ujarnya.

 

Sebelumnya, PT Kereta Api Indonesia (PT KA) dan PT KAI Commuter Jabodetabek
(KCJ) akan memberlakukan sistem single operation bagi KRL. Penerapan sistem
tersebut akan mengubah seluruh sistem menjadi KRL Commuter Line, termasuk
penerapan tarif tunggal.

 

Menurut GM Corporate Secretary PT Commuter Jabodetabek (KCJ) Makmur
Syaheran, pemberlakuan ini untuk mencapai target membawa 1,2 juta penumpang.
"Ini untuk kepentingan bersama," ungkapnya.

 

Untuk penerapan tarif tunggal nanti, tambah Makmur, akan bersifat flat atau
tetap.

 

Tarif tersebut akan diberlakukan sama ketika penumpang berhenti di stasiun
jauh atau dekat.

 

Kenaikan tarif tersebut akan diberlakukan mular 2 Juli mendatang. Untuk
tarif kereta AC Ekonomi, akan naik dari Rp 5.500 menjadi Rp 9.000 atau
sekitar 64 persen. clS/cl7 ed endah hapsah.

 

 

http://bataviase.co.id/node/711042

Kirim email ke