Artikel yang bagus dari milis sebelah ...
*************************************************
JALAN DUKA MENJADI IBU YANG BAIK
Saya kagum dengan seorang ibu, ia tampak kenal benar dengan 3 orang
putra-putrinya, ia sangat telaten mengurusi mereka semua.
"Kalau anak saya yang kedua, dia sedikit cengeng, jadi saya perlu
tegas terhadapnya. Kalau yang pertama, dia pendiam tetapi sangat disiplin, jadi
saya perlu menambah canda saat bicara dengannya. Sedangkan si bungsu cenderung
suka banyak bicara, saya ingat saat dia berusia 3 tahun, perbendaharaan katanya
sudah banyak, jadi saya harus arahkan kepada bacaan-bacaan yang edukatif
sehingga dia tidak hanya cerewet tapi kata-katanya juga teratur." Jelas ibu itu.
Tidak heran jika saya melihat anak-anaknya sungguh hidup gembira
dan ceria. "Saya kagum dengan ibu, ibu benar-benar bijak dalam hal mengenali
pribadi mereka satu per satu." Ujar saya. Ibu itu segera menarik senyumnya dan
air mukanya berubah serius. Lalu ia berkata, "Saya anak nomor 2 dari 4
bersaudara. Sementara adik dan kakak saya bisa bebas menjalani hidup mereka,
sayalah anak yang paling terkekang."
"Mengapa demikian, bu?" Tanya saya lagi.
"Saya selalu menjadi orang yang disuruh-suruh oleh mama saya. Waktu
mama saya sakit, saya mengurusnya siang dan malam. Ketika adik atau kakak saya
mengunjunginya, mama saya asyik berbicara dengan mereka. Saya hanya akan
dipanggil jika mama minta disuap atau jika ia mau minum atau minta dipijit saat
badannya mendadak sakit." Lanjut ibu.
"Ibu sakit hati?" Tanya saya.
"Tadinya, memang begitu. Saya kesal dan marah. Syukurlah sebelum
mama meninggal dunia, saya sempat bertanya mengapa mama tega memperlakukan saya
seperti seorang pembantu? Itu tidak adil." Sang ibu tertunduk.
"Apa jawab beliau?" Tanya saya.
"Mama saya malah terkejut bahwa saya berpikir demikian karena
menurutnya di antara anak-anaknya sayalah yang paling kuat, sayalah yang paling
bisa cocok menghadapinya baik saat susah atau senang. Sayalah yang paling mampu
menyuap makanan dengan telaten, memegangi sedotan gelas dan memijit badannya
yang sakit dengan pas, saudara-saudara saya yang lain tidak bisa melakukannya
dengan baik, karena itulah, sebenarnya saya adalah anak andalannya, anak
kesayangannya." Ibu itu diam. Katanya lagi, "Lama saya tidak bisa menerima
kenyataan bahwa ada kasih seorang ibu yang demikian, kasih yang sulit dibaca
jika kita tidak berbesar hati... Bagaimanapun, kini saya bangga pernah menjadi
putri andalannya, putri yang dikasihinya. Namun karena pengalaman inilah, saya
putuskan untuk memastikan bahwa perihal 'kasih' ini jelas dapat dimengerti oleh
anak-anak saya yaitu dengan cara memahami mereka satu per satu." Katanya seraya
tersenyum.
Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center