Tks, bos...cerita yg diangkat dr kehidupan.... Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message----- From: "jaerony" <[email protected]> Date: Thu, 21 Jul 2011 09:03:11 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [porsenipar] Jalan Duka Menjadi Ibu yang Baik Artikel yang bagus dari milis sebelah ... ************************************************* JALAN DUKA MENJADI IBU YANG BAIK Saya kagum dengan seorang ibu, ia tampak kenal benar dengan 3 orang putra-putrinya, ia sangat telaten mengurusi mereka semua. "Kalau anak saya yang kedua, dia sedikit cengeng, jadi saya perlu tegas terhadapnya. Kalau yang pertama, dia pendiam tetapi sangat disiplin, jadi saya perlu menambah canda saat bicara dengannya. Sedangkan si bungsu cenderung suka banyak bicara, saya ingat saat dia berusia 3 tahun, perbendaharaan katanya sudah banyak, jadi saya harus arahkan kepada bacaan-bacaan yang edukatif sehingga dia tidak hanya cerewet tapi kata-katanya juga teratur." Jelas ibu itu. Tidak heran jika saya melihat anak-anaknya sungguh hidup gembira dan ceria. "Saya kagum dengan ibu, ibu benar-benar bijak dalam hal mengenali pribadi mereka satu per satu." Ujar saya. Ibu itu segera menarik senyumnya dan air mukanya berubah serius. Lalu ia berkata, "Saya anak nomor 2 dari 4 bersaudara. Sementara adik dan kakak saya bisa bebas menjalani hidup mereka, sayalah anak yang paling terkekang." "Mengapa demikian, bu?" Tanya saya lagi. "Saya selalu menjadi orang yang disuruh-suruh oleh mama saya. Waktu mama saya sakit, saya mengurusnya siang dan malam. Ketika adik atau kakak saya mengunjunginya, mama saya asyik berbicara dengan mereka. Saya hanya akan dipanggil jika mama minta disuap atau jika ia mau minum atau minta dipijit saat badannya mendadak sakit." Lanjut ibu. "Ibu sakit hati?" Tanya saya. "Tadinya, memang begitu. Saya kesal dan marah. Syukurlah sebelum mama meninggal dunia, saya sempat bertanya mengapa mama tega memperlakukan saya seperti seorang pembantu? Itu tidak adil." Sang ibu tertunduk. "Apa jawab beliau?" Tanya saya. "Mama saya malah terkejut bahwa saya berpikir demikian karena menurutnya di antara anak-anaknya sayalah yang paling kuat, sayalah yang paling bisa cocok menghadapinya baik saat susah atau senang. Sayalah yang paling mampu menyuap makanan dengan telaten, memegangi sedotan gelas dan memijit badannya yang sakit dengan pas, saudara-saudara saya yang lain tidak bisa melakukannya dengan baik, karena itulah, sebenarnya saya adalah anak andalannya, anak kesayangannya." Ibu itu diam. Katanya lagi, "Lama saya tidak bisa menerima kenyataan bahwa ada kasih seorang ibu yang demikian, kasih yang sulit dibaca jika kita tidak berbesar hati... Bagaimanapun, kini saya bangga pernah menjadi putri andalannya, putri yang dikasihinya. Namun karena pengalaman inilah, saya putuskan untuk memastikan bahwa perihal 'kasih' ini jelas dapat dimengerti oleh anak-anak saya yaitu dengan cara memahami mereka satu per satu." Katanya seraya tersenyum. Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM Principal of Yemayo Advance Education Center
