Cerita jelang bedug Maghrib, semoga menginspirasi .....
******************************************************************* Tukang Siomay Langganan Saya Artikel: 09/11/08 - 14/11/08 Penulis: Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM Tahun 1980-an, usia saya sekitar 9 tahun, saya dan keluarga baru pindah ke Jakarta. Di daerah saya itu belum terlalu banyak rumah, masih cukup banyak lahan kosong di sekitarnya, namun cukup banyak para penjual keliling lalu lalang di daerah itu. Dari penjual balon yang berjalan kaki, penjual kembang tahu pikul, penjual mainan anak pikul, penjual bakso, nasi goreng gerobak dan masih banyak lagi macam penjual yang setiap hari melintas. Kemudian adalah penjual makanan baru bersepeda yang ternyata menjual siomay. Pada waktu itu, siomay bukan suatu jajanan yang lazim; pembeli menyukainya, saya yakin bukan karena rasanya yang terlalu enak, tetapi dibandingkan jajanan rujak, bakso, es tung tung yang sudah akrab dikenal, maka siomay memang menjadi suatu jajanan unik yang dinantikan. Pada awalnya hanya ada seorang tukang siomay yang lewat di daerah saya, itu pun agak jarang ia muncul, kalaupun muncul, dagangannya sudah hampir habis. Kok, jarang sih lewat sini, Bang? Tanya saya waktu itu. Iya, sebab seringnya belum sampai ke sini, siomay yang abang bawa sudah laku, Neng. Sahutnya ramah. Tak berapa lama kemudian daerah kami itu akhirnya setiap hari dilintasi oleh tukang siomay yang ternyata telah berjumlah 3 orang, dengan demikian saya tidak harus meletakkan piring lagi di depan pintu menanti tukang siomay yang jarang datang. Frekwensi datangnya tukang siomay yang setiap hari telah membuat saya dapat membeli siomay di sore hari dan tetap hampir selalu mendapatkan pilihan siomay yang lengkap dan masih hangat karena tampaknya abang siomay ini memang langsung ke daerah kami. Wah! Kalau lengkap terus begini, kan asyik milihnya, bang! Kol dan tahu-nya masih ada. Kata saya. Iya neng, kalau sekarang, abang langsung kemari, temen abang dan adek abang sudah punya daerah masing-masing. Kalau kami ada yang sakit dan tidak bisa jualan, barulah kami berjualan ke daerah yang tidak ada penjualnya itu. Sahut si abang tetap semangat dan santun. Tak berapa lama kemudian ayah saya dipindah-tugaskan dan kami pindah ke rumah dinas baru, lalu kami sempat pindah ke luar negri lalu kembali ke tanah air, lalu pindah lagi ke rumah kami yang lama; waktu terus berlalu. Siomay, Neng Sapa si tukang siomay, waktu itu tahun 1992. Tadinya saya hanya duduk-duduk santai saja di teras rumah, tidak berniat untuk jajan apapun. Tetapi melihat bahwa suara tadi berasal dari abang yang sudah 10 tahun-an tidak saya lihat, saya jadi ingin bernostalgia lagi dengan rasa siomaynya yang sudah hampir saya lupa. Wah! Apa kabar, Bang? Sapa saya. Baek, Neng. Gini-gini ajalah. Sahutnya ramah sambil mulai mengiris siomay. Adeknya masih jualan siomay, Bang? Tanya saya yang mendadak teringat bahwa penjual siomay dulu ada 3 orang. Adek saya sudah pulang ke kampung, Neng, sudah lama kok, dapat jodohnya orang sana, lagian dia nggak betah di Jakarta. Sahutnya lagi. Terus, si abang yang satunya lagi kemana? Tanya saya. Wah! Dia sih udah enak tuh hidupnya. Jualannya bukan cuma siomay aja sekarang, sudah punya 3 gerobak bakso nyuruhin sodara-sodaranya dari kampung buat jualan. Udah enaklah dia hidupnya, Neng. Rumahnya di kampung ada 4, kambingnya banyak, punya sapi sama ternak ayam Kemarin itu malah baru beliin keponakannya sepeda motor. Seloroh si abang. Wah! Hebat bener yah! Celetuk saya. Dia sih orangnya berani, Neng. Dia mau nyari tempat mangkal. Dulu saya juga diajak mangkal sih di pinggir lapangan bola itu, tapi, saya sih maleslah Neng, suka ada Kamtib, nggak tenang kita jualan, belum lagi suka ada preman. Jadi saya milih keliling aja. Temen saya itu sih orangnya berani dan mujur juga. Kalau saya jualan satu panci aja susah, dia bisa jualan dua atau tiga panci sehari loh, Neng. Kata si abang. Di tahun 90-an itu, hanya satu kali itu saja saya membeli siomaynya karena saya harus meneruskan study saya ke negri paman Sam. Pulang study, saya bekerja lalu menikah dan pindah rumah mengikuti suami saya. Ketika saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya untuk merintis usaha baru, barulah saya bisa bermain ke rumah orangtua saya pada saat hari masih terang. Siomay-nya, Nya Sapa tukang siomay sore hari itu. Hampir tidak percaya rasanya, di tahun 2005 saya masih melihat tukang siomay yang sama, masih dengan antusiasme dan keramahan yang sama, namun gurat dan garis penuaan wajahnya sudah sangat nampak, sepeda dan pancinya sudah terlihat lebih dekil. Saya pun sudah tidak disapanya dengan sebutan Neng tapi Nyonya. Walau sebenarnya saya sama sekali tidak ingin makan siomay, tetapi saya tidak sampai hati menolak tawaran si abang. Apa kabar, Bang? Tanya saya. Si abang itu mengamat-amati saya, lalu berkata, Eh! Ini si eneng yang dulu yah? Tanyanya. Sapaan nyonya sekarang sudah kembali lagi menjadi neng, saya cukup senang, karena berarti ia mengingat sosok saya yang lebih akrab, bukan sebagai orang asing baru. Kok sudah lama nggak kelihatan, Neng? Kemana aja? Tanyanya lagi. Saya tidak tinggal di sini lagi sekarang, Bang, ini lagi main di rumah orangtua aja. Jawab saya. Si abang mengangkat tutup pancinya, terlihat siomay-nya sudah tinggal sedikit, Wah! Sudah tinggal sedikit nih, Bang! Laku yah jualannya? Tanya saya. Waduh, Neng! Boro-boro laku. Sekarang-sekarang ini saya nggak berani bawa banyak-banyak, paling-paling setengah panci aja. Sekarang ini susah jualan, Neng! Kebanyakan temen-temen abang sih sudah tidak keliling, kalau yang masih muda-muda sih, maunya mangkal aja. Sahutnya dengan ramah, namun kali ini saya menangkap kalimat getirnya. Sebenarnya saya turut prihatin dengan keadaan si abang siomay, tetapi itu adalah jalan hidup yang dipilihnya. 13 tahun yang lalu, temannya telah mengambil langkah yang berani dengan mangkal di pinggir lapangan bola; pada saat-saat inipun, para penjual siomay muda lebih memilih peluang mangkal daripada berkeliling, saya pikir bukan karena malas, tetapi jika keliling di perumahan, tingkat edukasi pembelinya cenderung sudah meningkat, mereka banyak memilih jajanan yang relatif lebih bersih. Tempat jajan di mal-mal dan hypermarket lebih menjadi pilihan ditambah dengan layanan-layanan delivery makanan cepat saji yang semakin marak, menambah ketatnya persaingan. Sementara jika harus berkeliling di gang-gang, daya beli pembeli pun tidaklah terlalu baik. Jadi, bisa dimengerti mengapa tukang jajanan lebih memilih mangkal di daerah sekitar perkantoran, di sana banyak pekerja yang mempunyai daya beli dan memilih jajanan hemat. Abang siomay langganan saya itu adalah seseorang yang tidak pernah mau keluar dari zona nyamannya; saya yakin peluang mangkal masih tetap ada sampai sekarang, tetapi dia tidak mau meraihnya. Resiko ditangkap Kamtib ataupun dipalak preman tidak mau diambilnya, padahal mungkin itu hanya ketakutannya yang terlalu berlebihan saja. Resiko itu memang ada, tetapi jika dijalani, pastilah tidak sebegitu menakutkan. Buktinya, temannya telah lebih dulu berhasil, itu karena temannya lebih berani keluar dari zona nyaman karena mampu melihat peluang baru, penjual-penjual siomay muda lainnya pun berani mengambil resiko itu. Sadarilah, di dunia yang penuh persaingan ini, tidak ada yang sifatnya tetap. Jika kita merasa sangat nyaman dengan keadaan kita sekarang dan tidak melakukan hal-hal baru, sebenarnyalah kita sedang mengalami penurunan. Anda nyaman dengan penghasilan anda yang sekarang? Ketahuilah bahwa beberapa tahun yang akan datang, penghasilan anda sekarang ini tidak akan mencukupi beberapa kebutuhan di masa yang akan datang yang tidak semakin sedikit. Jika anda tidak melakukan perubahan, maka ada kebutuhan di masa yang akan datang yang tidak dapat anda penuhi atau harus anda korbankan. Keluarlah dari zona nyaman anda! Justru untuk menyelamatkan diri dan masa depan anda. Jika anda seorang pekerja, mulailah dengan mempelajari hal-hal baru, belajarlah mau menerima tanggung jawab di luar tugas rutin anda, bacalah lebih banyak buku orang-orang sukses dibandingkan memenuhi pikiran anda dengan berita-berita gosip yang tidak penting. Ingatlah! Tidak ada kata terlambat. Bahkan untuk abang tukang siomay langganan saya itu, bila hari ini ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang baru, ia masih memiliki kemungkinan untuk berhasil. Sejujurnya, saya sedih membayangkan jika ia harus menjadi seorang pemulung ataupun pengemis saat ia sudah tidak sanggup lagi mengayuh sepedanya kelak atau jika sudah sangat minim jumlah pembeli siomaynya. Ia bukan korban jaman ataupun korban keadaan perekonomian, ia hanya seseorang yang sulit melepas comfort zone-nya. Saya doakan agar ia lebih berani mengambil keputusan yang berbeda agar hilang kalimat-kalimat getirnya. Demikian juga anda Keluarlah dari zona nyaman anda! Change Now! http://www.yemayo.com/artikel_lain
