Jakarta (atau Jabodetabek) relatif memiliki alternatif pola hidup yang bisa 
diterapkan sebanding kemampuan kita. Tapi bagaimanapun, tetap saja konsumerisme 
mengepung kita setiap saat. Sehingga kebutuhan "show up" juga kelihatannya 
menghinggapi kita ...

Accordingly, be smart!

******************************



Ekspatriat Anggap Jakarta Kota Seksi

"Di Jakarta makan Rp5.000 sampai Rp2,5 juta per menu saja ada."
 KAMIS, 14 JULI 2011, 15:53 WIBSyahid Latif, Luqman Rimadi
VIVAnews - Menanggapi hasil survei yang menetapkan Jakarta sebagai kota 
termahal di dunia, pengamat investasi dari MarkPlus Insight, Farid Subkhan,  
menilai hal itu tidak terlepas dari kondisi Ibukota Indonesia yang tengah 
memiliki daya tarik tinggi di kalangan investor asing.

"Jakarta saat ini menjadi salah satu kota yang paling seksi di dunia. 
Pertumbuhan ekonomi saat ini bisa jadi yang terbaik di Asia, investor asing 
begitu mengalir deras," ujar Farid Subkhan kepada VIVAnews.com, di Jakarta, 
Kamis, 14 Juli 2011.

Farid memperkirakan, mahalnya biaya hidup di Jakarta bagi kalangan ekspatriat 
tidak terlepas dari pengaruh semakin tumbuhnya kalangan masyarakat kelas 
menengah di Ibukota.

Pengamatan MarkPlus menunjukkan, saat ini masyarakat kelas menengah ke atas 
umumnya memiliki penghasilan yang lebih baik, sehingga meningkatkan kemampuan 
daya beli. Saat ini, pendapatan per kapita Indonesia tercatat sekitar  US$3.000 
(Rp27 juta) per tahun.

Sementara itu, masyarakat kelas menengah ke atas Jakarta bisa memiliki 
penghasilan per tahun hingga US$7.000 (Rp63 juta) per tahun. "Itu hampir sama 
dengan masyarakat di Bangkok," ujar Farid.

Dia menambahkan, investasi di Indonesia yang semakin cerah juga ditandai dengan 
dominasi investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI).

"Kalau bicara pasar modal, hampir 70 persen transaksi di BEI adalah investor 
asing. Itu yang membuat ekonomi di Indonesia menjadi begitu menarik," ujar dia.

Namun, MarkPlus berharap agar keberadaan tenaga kerja asing di Indonesia tidak 
dijadikan kekhawatiran bagi masyarakat. Alasannya, komunitas masyarakat di 
Ibukota terbagi dalam beberapa kelas yang berbeda. 

"Jangan khawatir, karena masyarakat di Jakarta terbagi dalam beberapa kelas. 
Ada yang mahal, ada yang murah. Di Jakarta, makan Rp5.000 sampai Rp2,5 juta per 
menu saja ada, jadi banyak pilihan," ujar Farid.

Kehadiran tenaga kerja asing yang berbaur dalam masyarakat lokal juga menambah 
ragam budaya dan kebiasaan yang ada. Bahkan, tenaga asing diperkirakan ikut 
mempengaruhi budaya, gaya hidup, dan daya beli masyarakat. (art)

. VIVAnews

Kirim email ke