Subjek di atas cukup menarik bagi saya, berikut termasuk ke-"worry"-an saya 
terhadap aspek safety ini.

Begini,
Minggu lalu RT saya mengedarkan kuesioner survey tentang "Rencana Pengadaan 
Fasilitas Gas untuk Rumah Tangga" untuk wilayah Bogor. Kalau tidak karena saya 
lebih respek kepada Bapak Ketua RT saya, saya nggak bakalan ngisi tuh survey, 
satu dan lain alasan karena aspek safety dilaksanakan sepotong-sepotong oleh 
Pemerintah termasuk oleh rekanan yang ditunjuk pemerintah.

Masih segar dalam ingatan betapa rakyat harus "dikorbankan" dulu dalam kasus 
konversi minyak tanah ke bahan bakar gas. Bisa saja "rencana" pemasangan gas 
ini juga melalui try-error dengan mengorbankan dulu rakyat yang sangat tidak 
melek dengan aspek safety. 

Sulitnya hidup dengan Pemerintah yang sikapnya lebih ke reaktif daripada 
proaktif-preventif ...

Demikian sharing saya, terima kasih.

Salam safety,
Jaerony - Cibinong


  ----- Original Message ----- 
  From: Yokvi Panjaitan 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, November 15, 2011 11:01 AM
  Subject: [QualityClub] (OOT) Worry Terhadap Budaya Safety Indonesia Tinggi 
(PLTN Pilihan Terakhir)


    


  JAKARTA (bisnis-jabar.com): Pemerintah berkomitmen akan mengoptimalkan 
penggunaan gas bumi dan energi baru terbarukan, sebelum menggunakan nuklir 
sebagai sumber energi di Tanah Air.
  Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Widjajono Partowidagdo 
mengatakan selain minyak, gas bumi, dan batu bara, Indonesia juga mempunyai 
potensi panas bumi, air, angin, matahari, dan sumber energi baru terbarukan 
yang cukup besar, yang belum termanfaatkan.
  Artinya, pemerintah akan menempatkan penggunaan nuklir sebagai pilihan 
terakhir sebagai sumber energi di dalam negeri.
  “Kita optimalkan [penggunaan] energi yang ada dulu, ngapain pakai energi yang 
tidak ada [nuklir]. Lagi pula, nuklir itu lebih mahal dari batu bara, panas 
bumi, dan gas,” ujarnya hari ini.
  Dia mengungkapkan nuklir itu memang emisinya lebih rendah dibandingkan dengan 
sumber energi lainnya. Namun, memiliki risiko yang sangat tinggi, dan tidak ada 
yang bisa menjamin bahwa penggunaan nuklir akan lebih aman dibandingkan dengan 
lainnya.
  “Anda percaya kalau Indonesia punya nuklir lalu aman? Nuklir itu memang 
emisinya rendah, tetapi radiasinya kalau njebluk ya sudah, bukan main lagi. 
Biayanya berapa [kalau njebluk], saya tidak bisa bayangkan.”
  Menurutnya, Indonesia semestinya bisa belajar dari peristiwa kebocoran nuklir 
di Jepang dan Amerika Serikat, baru-baru ini. Kalaupun nantinya Indonesia 
terpaksa harus menggunakan nuklir, jelasnya, pemerintah harus bekerja sama 
dengan Singapura, baik untuk pembangunan pembangkitnya, maupun pengawasannya.
  Lokasi pembangunannya, imbuhnya, bisa dibangun di pulau terluar yang dekat 
dengan Singapura, yakni wilayah Batam, sehingga produksi listriknya bisa 
dimanfaatkan oleh kedua negara.
  “Kalau kerjasamanya dengan Singapura, saya lebih percaya, soalnya orang 
Indonesia itu masalah kontrak, pengawasan, dan kontrol masih relatif kurang. 
Indonesia bikin batu bara aja belum beres, mau bikin nuklir,” tutur Widjajono.

  Dikutip dari :
  
http://bisnis-jabar.com/index.php/2011/11/listrik-berbasis-nuklir-belum-jadi-prioritas/

  [Non-text portions of this message have been removed]



  __._,_.___
  Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New Topic 
  Messages in this topic (3) 
  Recent Activity: a.. New Members 5 
  Visit Your Group 
  Visit http://www.qcmagz.com <br>Majalah Quality Club 
  MARKETPLACE
  Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get 
the Yahoo! Toolbar now.

    Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use.
   
  __,_._,___

Kirim email ke