Assalamualaikum,

Saya sangat mendukung dan setuju dengan pendapat pak Jaerony, bahwa dengan 
tingkat kedisiplinan kebanyakan orang Indonesia yang masih sangat rendah 
hal-hal yang menyangkut kepentingan orang banyak dan bisa menimbulkan efek 
keselamatan perlu kita pantau, kita awasi dan kita kontrol agar tidak terjadi 
hal-hal yg tdk kita inginkan.
Tapi khusus masalah rencana pengadaan & pemasangan instalasi gas alam ke rumah2 
warga saya mendukung dan setuju. Karena dari pengalaman di kawasan2 yang sudah 
memasang instalasi seperti ini saya belum mendengar ada kasus yg membahayakan 
seperti meledak atau kebakaran. Justru pemasangan instalasi ini untuk 
mengurangi bahaya seringnya terjadi kecelakaan akibat penggunaan tabung gas, 
dan dari segi biaya rutin juga sedikit lebih murah, walaupun ada biaya 
pemasangan yg mungkin agak mahal. Dan jika nantinya saat pemasangan instalasi, 
kita perlu ikut mengawasi dan jika terjadi pengurangan kwalitas spesifikasi 
tehnis seperti ketebalan pipa dll harus kita protes.

Tapi kalau soal penggunaan PLTN di Indonesia, menurut saya benar2 belum layak. 
Jangankan ngurusin nuklir, ngurusin pelanggaran di lampu merah saja pemerintah 
kita sudah jelas tidak mampu. Sekedar sharing.

Omong2 soal rencana pengadaan  fasilitas gas utk rumah tangga, sampai hari ini 
(hari terahir hrs masuk ke kelurahan) dari RT 04 dan 05 belum menyerahkan 
formulir tsb ?

Wassalamualaikum,

Jauhari Mustofa.

From: [email protected]
To: [email protected]
CC: [email protected]
Date: Tue, 15 Nov 2011 11:16:17 +0700
Subject: [porsenipar]  [QualityClub] (OOT) Worry Terhadap Budaya Safety 
Indonesia Tinggi (PLTN Pilihan Terakhir)








Subjek di atas cukup menarik bagi saya, berikut 
termasuk ke-"worry"-an saya terhadap aspek safety ini.
 
Begini,
Minggu lalu RT saya mengedarkan kuesioner survey 
tentang "Rencana Pengadaan Fasilitas Gas untuk Rumah Tangga" untuk wilayah 
Bogor. Kalau tidak karena saya lebih respek kepada Bapak Ketua RT saya, saya 
nggak bakalan ngisi tuh survey, satu dan lain alasan karena aspek safety 
dilaksanakan sepotong-sepotong oleh Pemerintah termasuk oleh rekanan yang 
ditunjuk pemerintah.
 
Masih segar dalam ingatan betapa rakyat harus 
"dikorbankan" dulu dalam kasus konversi minyak tanah ke bahan bakar gas. Bisa 
saja "rencana" pemasangan gas ini juga melalui try-error dengan mengorbankan 
dulu rakyat yang sangat tidak melek dengan aspek safety. 
 
Sulitnya hidup dengan Pemerintah yang sikapnya 
lebih ke reaktif daripada proaktif-preventif ...
 
Demikian sharing saya, terima kasih.
 
Salam safety,
Jaerony - Cibinong
 
 

  ----- Original Message ----- 
  From: 
  Yokvi Panjaitan 
  
  To: [email protected] 
  
  Sent: Tuesday, November 15, 2011 11:01 
  AM
  Subject: [QualityClub] (OOT) Worry 
  Terhadap Budaya Safety Indonesia Tinggi (PLTN Pilihan Terakhir)
  
  
  
  
  
  

JAKARTA (bisnis-jabar.com): Pemerintah berkomitmen akan 
  mengoptimalkan penggunaan gas bumi dan energi baru terbarukan, sebelum 
  menggunakan nuklir sebagai sumber energi di Tanah Air.
Wakil Menteri Energi 
  dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Widjajono Partowidagdo mengatakan selain 
  minyak, gas bumi, dan batu bara, Indonesia juga mempunyai potensi panas bumi, 
  air, angin, matahari, dan sumber energi baru terbarukan yang cukup besar, 
yang 
  belum termanfaatkan.
Artinya, pemerintah akan menempatkan penggunaan nuklir 
  sebagai pilihan terakhir sebagai sumber energi di dalam negeri.
“Kita 
  optimalkan [penggunaan] energi yang ada dulu, ngapain pakai energi yang tidak 
  ada [nuklir]. Lagi pula, nuklir itu lebih mahal dari batu bara, panas bumi, 
  dan gas,” ujarnya hari ini.
Dia mengungkapkan nuklir itu memang emisinya 
  lebih rendah dibandingkan dengan sumber energi lainnya. Namun, memiliki 
risiko 
  yang sangat tinggi, dan tidak ada yang bisa menjamin bahwa penggunaan nuklir 
  akan lebih aman dibandingkan dengan lainnya.
“Anda percaya kalau Indonesia 
  punya nuklir lalu aman? Nuklir itu memang emisinya rendah, tetapi radiasinya 
  kalau njebluk ya sudah, bukan main lagi. Biayanya berapa [kalau njebluk], 
saya 
  tidak bisa bayangkan.”
Menurutnya, Indonesia semestinya bisa belajar dari 
  peristiwa kebocoran nuklir di Jepang dan Amerika Serikat, baru-baru ini. 
  Kalaupun nantinya Indonesia terpaksa harus menggunakan nuklir, jelasnya, 
  pemerintah harus bekerja sama dengan Singapura, baik untuk pembangunan 
  pembangkitnya, maupun pengawasannya.
Lokasi pembangunannya, imbuhnya, bisa 
  dibangun di pulau terluar yang dekat dengan Singapura, yakni wilayah Batam, 
  sehingga produksi listriknya bisa dimanfaatkan oleh kedua negara.
“Kalau 
  kerjasamanya dengan Singapura, saya lebih percaya, soalnya orang Indonesia 
itu 
  masalah kontrak, pengawasan, dan kontrol masih relatif kurang. Indonesia 
bikin 
  batu bara aja belum beres, mau bikin nuklir,” tutur Widjajono.

Dikutip 
  dari :
http://bisnis-jabar.com/index.php/2011/11/listrik-berbasis-nuklir-belum-jadi-prioritas/

[Non-text 
  portions of this message have been removed]


  __._,_.___
  
  Reply 
  to sender | Reply 
  to group | Reply 
  via web post | Start 
  a New Topic Messages 
  in this topic (3) 
  Recent Activity: 
  
    New 
    Members 5 
  Visit 
  Your Group 
  Visit http://www.qcmagz.com <br>Majalah 
  Quality Club 
  
  MARKETPLACE
  
  
  Stay 
  on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the 
  Yahoo! Toolbar now.
  
   

   
  Switch to: Text-Only, 
  Daily 
  Digest • Unsubscribe 
  • Terms of Use
  
  
  . 

  __,_._,___
                                          

Kirim email ke