sorry cuma bisa nge-forward, belon bisa kreasi sendiri.
moga-moga bisa menambah wawasan kebangsaan kita semua.
:) salam merdeka
> Pada pemilihan putri Indonesia 2000 kemarin ada
> sebuah cerita yang tidak ter-ekspose. Cerita ini terjadi
> pada saat seleksi (wawancara) antara Juri dengan peserta
> dari DKI yang akhirnya jadi juara.
>
> Begini ceritanya... :
> Juri : "..........Selanjutnya, tolong anda sebutkan tokoh idola anda..."
> Putri DKI : "Ehm... sebagai seorang yang nasionalis, saya mengidolakan
> orang Indonesia... dia adalah PANGERAN DIPONEGORO"
> Begitu mantap dan meyakinkan kata-kata yang meluncur dari putri DKI ini.
> Juripun begitu terkesan dan kagum padanya, seorang gadis cantik dan muda
> seperti dia ternyata sangat nasionalis dan bangga dengan tokoh dalam
> negeri.
> Kemudian Juri melanjutkan pertanyaan dengan pertanyaan-pertanyaan yang
> ringan-ringan saja, tentunya seputar Pangeran Diponegoro.
> "Kalau begitu, anda pasti tahu kapan Pangeran Diponegoro meninggal kan?"
> Tapi, reaksi sang putri sangat mengagetkan Juri, dengan terbata-bata dan
> penuh?rasa kaget dia bertanya, "APPAAA ???
> MENINGGAAALLL???...INNALILLAAHI..
> "
> Tentu saja Juri ikut-ikutan kaget dan kecewa dengan reaksi putri DKI itu.
> Singkat cerita, tanya jawab itu selesai sudah. Tapi, tidak demikian dengan
> sang putri DKI... Kabar mengenai meninggalnya Pangeran Diponegoro sangat
> menyedihkan hatinya. Sampai di luar ruangan, dia bergegas menemui salah
> seorang peserta lainnya, dari Yogya. Tanpa menunda waktu, putri DKI
> mengkonfirmasi kebenaran berita meninggalnya sang idola, Pangeran
> Diponegoro...
> "Mbak, maaf ya... apa benar sih Pangeran Diponegoro sudah meninggal???",
> begitu tanya putri DKI kepada putri Yogya.
> Tentu saja pertanyaan itu menggelikan bagi putri Yogya... tapi,
> bagaimanapun dijawabnya juga, "Lho, kan sudah lama mbak... masa mbak nggak
> tahu sih?"...
> Putri DKI langsung memotong, "Ooo, sudah lama ya, kok saya belum pernah
> denger ya ?
> Kapan sih mbak ???"
> Dengan menahan geli, putri Yogya menjawab, "Yaa... sekitar delapanbelas
> tigapuluh (1830) mbak... "
> Kembali putri DKI memotong, "HAAHH... DELAPANBELAS TIGAPULUH ???, HABIS
> MAGHRIB DONG !!!".