Ini bagian ke2 nya, biar cepat pada insyaf
>  -----Original Message-----
> From:         Ilfantri  
> Sent: Monday, August 07, 2000 7:56 PM
> To:   Tantan Alam; Ade Nurhayati; Ahmad Tuhfah; 'Andree'; Arie  Syam; Aris
> Ramlan; Asep  Syafaat; Bagas Adikusumo; Bambang Yusbiadi; Bobby RBS; Budi
> Prakoso; Dicky Guntara; Dudy Rahmansyah; Edi  Santosa; Fadhil  Agustian;
> Gungun Gunawan; H. Irwan  Syahrizal; Hamida Laksmi; Hasanudin; Heri
> Kurnia; Herman; Herry Hendrawan; Irman Frihatman; Ivan Surya; Julistiono;
> Meilya Sari Putri; Murtono; Muzaffar Muchtar; Nanang Harnoko; Nurhanny;
> Ophie Armaini; Wahyudi Prayogo; Ravi Firmansyah; Rio Rudianto; Rudi
> Setianto; Setiarso; Setio Koesoemo; Slamet Suryadi; Sri Prastuti;
> 'Subhan'; Suksie Syufaah; Sulamensi; Suryadi; Syafri Sumarli; Tedy
> Suhartono; Tejo Hatyono; Totok Priyambodo; Muhammad Iskandar; Wignyo
> Pranoto; Wiwin Windarti; Suzarah; Mukhtarudin
> Subject:      Kedasyatan menjelang maut bag.2     ( AL-ISTIQOMAH )
> Importance:   High
> 
>       KEDAHSYATAN SAAT MENJELANG MAUT (2)
> 
>      Diriwayatkan pada suatu ketika sekelompok Bani Israil berjalan
> melewati  pekuburan, dan salah seorang di antara mereka berkata kepada
> yang lain, "Bagaimana jika kalian berdoa kepada Allah SWT agar DIA
> menghidupkan satu mayat dari pekuburan ini dan kalian bisa mengajukan
> beberapa pertanyaan kepadanya?"  Mereka pun lalu berdoa kepada Allah SWT.
> Tiba-tiba mereka berhadapan dengan seorang laki-laki dengan tanda-tanda
> sujud di antara kedua matanya yang muncul dari salah satu kuburan itu.
> "Wahai, manusia. Apa yang kalian kehendaki dariku? Lima puluh tahun yang
> lalu aku mengalami kematian, namun kini rasa pedihnya belum juga hilang
> dari hatiku !"
>      Aisyah r.a berkata, "Aku tidak iri kepada seorangpun yang dimudahkan
> sakratul maut atasnya setelah aku menyaksikan gejolak sakratul maut pada
> diri Rasulullah SAW."      Diriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda,
> "Ya Allah,sesungguhnya engkau telah mencabut nyawa dari urat-urat, tulang
> hidung dan ujung-ujung jari. Ya Allah, tolonglah aku dalam kematian, dan
> ringankanlah dia atas diriku." (Ibn Abi'l-Dunya, K. Al-Maut, Zabiidii,
> X.260)
>      Diriwayatkan dari Al-Hasan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW
> menyebut-nyebut kematian, cekikan, dan rasa pedih. Beliau bersabda,
> "Sakitnya sama dengan tiga ratus tusukan pedang." (Ibn Abi'l-Dunya, K.
> Al-Maut, Zabiidii, X.260)
>      Suatu ketika Beliau SAW pernah ditanya tentang pedihnya kematian. Dan
> Beliau menjawab, "Kematian yang paling mudah ialah serupa dengan sebatang
> pohon duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri
> itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutra yang
> terkoyak?"(Ibn Abi'l-Dunya, K. Al-Maut, Zabiidii, X.260)
>      Suatu ketika Beliau menjenguk seseorang yang sedang sakit, dan beliau
> bersabda, "Aku tahu apa yang sedang dialaminya. Tak ada satu pembuluhpun
> yang tidak merasakan pedihnya derita kematian." (Al Bazzar, Al-Musnad,
> Haitsami, Majma`, II.322)
>      Ali kw biasa membangkitkan semangat tempur orang banyak dengan
> berkata, "Apakah kalian semua tidak akan berperang dan lebih memilih mati
> dengan (cara biasa)? Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, tusukan
> seribu pedang adalah lebih ringan atasku daripada mati di tempat tidur."
>      Al-Auzaa`i berkata, "Telah disampaikan kepada kami bahwa orang mati
> itu terus merasakan sakitnya kematian sampai dia dibangkitkan dari
> kuburnya."
>      Syaddad bin Aus berkata, "Kematian adalah penderitaan yang paling
> menakutkan yang dialami oleh seorang yang beriman di dunia ini atau di
> akhirat nanti. Ia lebih menyakitkan daripada dipotong-potong dengan
> gergaji,disayat dengan gunting, atau digodok dalam belanga. Seandainya
> seseorang yang sudah mati bisa dihidupkan kembali untuk menceritakan
> kepada manusia di dunia ini tentang kematian , niscaya mereka tidak
> mempunyai gairah hidup dan tidak akan bisa merasakan nikmatnya tidur."
>     Zaid bin Aslam meriwayatkan bahwa suatu ketika ayahnya berkata, "Jika
> bagi seorang beriman masih ada derajat tertentu (maqam) yang belum
> berhasil dicapainya melalui amal perbuatannya, maka kematian dijadikan
> sangat berat dan menyakitkan agar dia bisa mencapai kesempurnaan
> derajatnya di surga. Sebaliknya, jika seorang kafir mempunyai amal baik
> yang belum memperoleh balasan, maka kematian akan dijadikan ringan atas
> dirinya sebagai balasan atas kebaikannya dan dia nanti akan langsung
> mengambil tempatnya di neraka."
>      Diriwayatkan bahwa ada seseorang yang gemar bertanya kepada sejumlah
> besar orang sakit mengenai bagaimana mereka mendapati (datangnya) maut.
> Dan ketika (pada gilirannya) dia jatuh sakit, dia ditanya, "Dan engkau
> sendiri, bagaimana engkau mendapatinya?"  Dia menjawab, "Seakan-akan
> langit runtuh kebumi dan ruhku ditarik melalui lubang jarum."
>      Dan Nabi SAW berkata, "Kematian yang tiba-tiba adalah rahmat bagi
> orang yang beriman, dan nestapa bagi pendosa." (Abu Daud, Janaa'iz, 10)
>      Diriwayatkan dari Makhul bahwa Nabi SAW bersabda, "Seandainya seutas
> rambut dari orang yang sudah mati diletakkan di atas para penghuni
> langitdan bumi, niscaya dengan izin Allah SWT mereka akan mati karena maut
> berada di setiap utas rambut, dan tidak pernah jatuh pada sesuatupun tanpa
> membinasakannya." (Ibn Abi'l Dunya, K. Al-Maut, Zabiidii, X.262)
>      Diriwayatkan bahwa 'Seandainya setetes dari rasa sakitnya kematian
> diletakkan di atas semua gunung di bumi, niscaya gunung-gunung itu akan
> meleleh.'
>      Diriwayatkan bahwa ketika Ibrahim a.s meninggal dunia, Allah SWT
> bertanya kepadanya, "Bagaimanakah engkau merasakan kematian, wahai
> teman-Ku?"  dan beliau menjawab, "Seperti sebuah pengait yang dimasukkan
> ke dalam gumpalan bulu yang basah, kemudian ditarik." "Yang seperti itu
> sudah Kami ringankan atas dirimu", Firman-Nya.
>      Diriwayatkan tentang Musa a.s bahwa ketika ruhnya akan menuju ke
> hadirat Allah SWT, DIA bertanya kepadanya, "Wahai Musa, bagaimana engkau
> merasakan kematian?"  Musa menjawab, "Kurasakan diriku seperti seekor
> burung yang dipanggang hidup-hidup, tak mati untuk terbebas dari rasa
> sakit dan tak bisa terbang untuk menyelamatkan diri."  Diriwayatkan juga
> bahwa dia berkata, "Kudapati diriku seperti seekor domba yang dipanggang
> hidup-hidup."
>      Diriwayatkan bahwa ketika Nabi SAW berada di ambang kematian, di
> dekat Beliau ada seember air yang ke dalamnya Beliau memasukkan tangan
> untuk membasuh mukanya seraya berdoa, "Wahai Tuhanku, ringankanlah bagiku
> sakratul maut !" (Bukhari, "Riqaq", 42)  Pada saat yang sama, Fathimah r.a
> berkata, "Alangkah berat penderitaanku melihat penderitaanmu, Ayah."
> Tetapi Beliau berkata, "Tidak akan ada lagi penderitaan ayahmu sesudah
> hari ini." (Ibn Majah, Janaa'iz, 45)
>      Umar r.a berkata kepada Ka`b Al-Ahbar, "Wahai Ka`b, berbicaralah
> kepada kami tentang kematian !"  "Baik, wahai Amirul Mu'minin," jawabnya.
> "Kematian adalah sebatang pohon berduri yang dimasukkan ke dalam perut
> seseorang. Kemudian seorang laki-laki menariknya dengan sekuat-kuatnya,
> maka ranting itu pun membawa serta semua yang terbawa dan meninggalkan
> yang tersisa." 
>      Nabi SAW bersabda, "Manusia pasti akan merasakan derita dan rasa
> sakit kematian, dan sesungguhnya sendi-sendinya akan mengucapkan selamat
> tinggal satu sama lain seraya berkata, "Sejahteralah atasmu, sekarang kita
> saling berpisah hingga datang hari kiamat." (Qusyairi, Risalah, II.589)
>      Itulah sakratul maut yang dirasakan oleh para Wali Allah dan
> hamba-hamba yang dikasihi-Nya. Lalu bagaimanakah nanti yang akan kita
> rasakan nanti, padahal kita selalu bergelimang dalam perbuatan dosa?
> Bersamaan dengan sakratul maut berturut-turut datang pula tiga macam
> petaka. Petaka yang pertama adalah kedahsyatan peristiwa dicabutnya ruh,
> seperti yang telah dijelaskan. Petaka yang kedua adalah menyaksikan wujud
> Malaikat Maut dan timbulnya rasa takut di dalam hati. Manusia yang paling
> kuat sekalipun tak akan sanggup melihat wujud Malaikat Maut saat
> menjalankan tugasnya untuk mencabut nyawa manusia yang penuh dosa.
> Diriwayatkan bahwa suatu ketika Ibrahim a.s, sahabat Allah, bertanya
> kepada Malaikat Maut, 
> "Dapatkah engkau memperlihatkan rupamu ketika mencabut nyawa manusia yang
> gemar melakukan perbuatan jahat?"  Malaikat menjawab, "Engkau tidak akan
> sanggup."  "Aku pasti sanggup," jawab beliau. "Baiklah," kata sang
> Malaikat.
> "Berpalinglah dariku."  Ibrahim a.s pun berpaling darinya. Kemudian ketika
> beliau berbalik kembali, maka yang ada di hadapannya adalah seorang
> berkulit legam dengan rambut berdiri, berbau 'busuk' dan mengenakan
> pakaian berwarna hitam. Dari mulut dan lubang hidungnya keluar jilatan
> api. Melihat pemandangan itu, Ibrahim a.s pun jatuh pingsan, dan ketika
> beliau sadar kembali, Malaikat telah berubah dalam wujud semula. Beliau
> pun berkata,
> "Wahai Malaikat Maut ! Seandainya seorang pelaku kejahatan pada saat
> kematiannya tidak menghadapi sesuatu yang lain kecuali wajahmu, niscaya
> cukuplah itu sebagai hukuman atas dirinya."
>      Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, "Daud a.s adalah
> seorang manusia yang telaten (sangat peduli) terhadap istrinya dan akan
> mengunci semua pintu jika dia bermaksud meninggalkan rumahnya. Suatu
> hari,setelah beliau mengunci semua pintu dan pergi keluar rumah, istrinya
> masih mendapati seorang laki-laki di dalam rumahnya. 'Siapa yang
> mengizinkan laki-laki ini masuk?' tanyanya dalam hati. 'Seandainya Daud
> pulang, ia pasti akan marah.'  Ketika Daud a.s pulang dan melihat
> laki-laki itu, beliau bertanya, 'Siapa engkau?'  Laki-laki itu menjawab,
> 'Aku yang tidak takut kepada raja dan tidak pernah bisa dihalangi oleh
> pengawal raja.' 'Jadi, engkau adalah Malaikat Maut.' kata Daud a.s.  Dan
> di tempat itu juga beliau wafat."
>      Diriwayatkan bahwa suatu ketika Isa a.s berjalan melewati sebuah
> tengkorak. Kemudian beliau menyentuh tengkorak itu dan berkata,
> "Berbicaralah, dengan izin Allah." Tengkorak itu pun berkata, "Wahai Ruh
> Allah ! Aku adalah seorang raja yang berkuasa di suatu zaman. Suatu hari
> ketika aku duduk di atas singgasana dengan mengenakan mahkotaku dan
> dikelilingi oleh para menteriku, tiba-tiba muncul Malaikat Maut di
> hadapanku sehingga seluruh anggota badanku menjadi beku, dan nyawaku
> kembali ke hadirat-Nya. Ah, seandainya tak pernah ada saat perpisahan
> dengan orang-orang di sekelilingku, seandainya tak ada pemutus segala
> kegembiraanku."
>      Ini adalah petaka yang menimpa para pendosa dan berhasil dihindari
> oleh orang-orang yang taat. Sesungguhnya, para nabi telah menceritakan
> sakratul maut selain kengerian yang dirasakan oleh orang yang melihat
> wujud Malaikat Maut. Bahkan seandainya seseorang hanya melihatnya dalam
> mimpi saja,niscaya dia tidak akan pernah merasakan lagi kegembiraan
> sepanjang hidupnya. Lalu, bagaimana pula jika orang secara sadar
> melihatnya dalam bentuk seperti itu?
>      Namun, manusia yang bertaqwa akan melihatnya (Malaikat Maut) dalam
> rupa yang bagus dan indah. Ikrimah (putra shalih dari Abu Jahal, red.)
> telahmeriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa Ibrahim a.s adalah seorang manusia
> yang penuh perhatian. Beliau mempunyai rumah untuk beribadah dan selalu
> dikuncinya jika  dia pergi. Pada suatu hari ketika pulang ke rumah, beliau
> melihat ada seorang laki-laki di dalamnya. "Siapa yang mengizinkanmu masuk
> ke dalam rumahku?" tanya beliau. Orang itu menjawab, "Aku diizinkan masuk
> oleh Pemiliknya." "Tapi akulah pemilik rumah ini," kata Ibrahim a.s. Orang
> itu
> berkata, "Aku diizinkan masuk oleh DIA yang lebih berhak atas rumah ini
> daripada engkau ataupun aku."  "Kalau begitu, Malaikat apakah engkau ini?"
> tanya beliau. "Aku adalah Malaikat Maut," demikian orang itu menjawab.
> Ibrahim a.s lalu bertanya, "Dapatkah engkau memperlihatkan kepadaku rupamu
> ketika mencabut nyawa orang yang beriman (taat)?" "Tentu saja," kata
> Malaikat itu. "Berpalinglah dariku."
>      Ibrahim pun berpaling, dan ketika berbalik kembali ke arah malaikat
> itu, maka berdiri di hadapannya seorang pemuda gagah dan tampan,berpakaian
> indah dan menyebarkan bau harum mewangi. "Wahai Malaikat Maut ! Seandainya
> orang yang beriman, taat, melihat rupamu pada saat kematian, niscaya
> cukuplah itu sebagai imbalan atas amal baiknya," kata beliau.  
>    Petaka selanjutnya adalah melihat kedua Malaikat Pencatat Amal.(Menurut
> hadits yang dinisbatkan kepada Nabi, "Allah telah mengamanatkan hamba-Nya
> kepada dua malaikat yang mencatat amal-amalnya, baik dan buruk."Ahmad bin
> Mani`, Al-Musnad ; Ibn Hajar, Mathaalib, III.56)   Wuhaib mengatakan,
> "Telah disampaikan kepada kami bahwa tak seorangpun manusia yang mati
> kecuali akan diperlihatkan kepadanya dua malaikat yang bertugas mencatat
> amalnya. Jika dia seorang yang shalih, maka kedua malaikat itu akan
> berkata, 'Semoga Allah memberikan balasan yang baik kepadamu, sebab engkau
> telah menyatakan kami untuk duduk di tengah-tengah kebaikan, dan membawa
> kami hadir menyaksikan banyak perbuatan baikmu.'  Akan tetapi jika dia
> adalah seorang pelaku kejahatan, maka mereka akan berkata kepadanya,
> 'SemogaAllah tidak memberimu balasan yang baik sebab engkau telah hadirkan
> kami ketengah-tengah perbuatan yang keji, dan membuat kami hadir
> menyaksikan banyak
> perbuatan buruk, memaksa kami mendengarkan ucapan-ucapan buruk. Semoga
> Allah tidak memberimu balasan yang baik.'  Ketika itulah orang yang
> sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu dan selamanya dia
> tidak akan pernah kembali ke dunia ini lagi."
>      Petaka yang ketiga dialami pada saat manusia-manusia yang berdosa
> menyaksikan tempat mereka di neraka, dan rasa takut juga telah mencekam
> mereka sebelum mereka menyaksikan peristiwa itu. Hal ini karena ketika
> mereka berada dalam sakratul maut, tenaga mereka telah hilang sementara
> ruh mereka mulai merayap keluar dari jasad mereka.  Akan tetapi, ruh
> mereka tidaklah keluar kecuali setelah mereka mendengar suara Malaikat
> Maut menyampaikan salah satu dari dua kabar. Kabar tersebut berupa,
> "Rasakanlah, wahai musuh Allah, siksaan neraka !" Atau "Bergembiralah,
> wahai sahabat Allah, dengan surga !"  Dari sinilah timbul rasa takut di
> dalam hati orang-orang yang tak beraqal.
>      Nabi SAW bersabda, "Tak seorangpun di antara kalian yang akan
> meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya
> dandiperlihatkan kepadanya tempatnya di surga atau di neraka."
> (IbnAbi`l-Dunya, K. Al-Maut ; Zabiidii, X.262)
>      Rasulullah SAW juga bersabda, "Barangsiapa mencintai pertemuan dengan
> Allah, maka Allah pun akan senang bertemu dengannya ; dan barangsiapa
> membenci pertemuan dengan-Nya, maka DIA pun tidak akan senang bertemu
> dengannya."  "Tetapi kami semua takut pada kematian," para sahabat
> berkata. Beliau pun menjawab, "Tidaklah sama sebab ketika penderitaan
> yangdijumpai oleh orang yang beriman (taat) dalam menempuh perjalanan
> menuju Allah telah dihilangkan, maka dia akan gembira bertemu dengan
> Allah, dan Allah pun
> gembira bertemu dengannya." (Muslim, Dzikr, 15)
>      Diriwayatkan pada suatu saat menjelang akhir malam, Hudzaifah
> binAl-Yaman berkata kepada Ibn Mas`ud, "Bangunlah, dan lihatlah waktu apa
> sekarang." Ibn Mas`ud pun bangun dan melakukan hal yang diperintahkan
> kepadanya, dan ketika dia kembali, dia berkata, "Langit telah memerah."
> Hudzaifah kemudian berkata, "Aku berlindung kepada-Mu dari perjalanan pagi
> menuju neraka."
>      Suatu ketika, Marwan menemui Abu Hurairah dan berkata, "Ya
> Allah,ringankanlah bebannya." Tetapi Abu Hurairah menyahut, "Ya
> Allah,perberatlah."  Lalu dia mulai menangis seraya berkata, "Demi Allah,
> aku tidaklah menangis karena sedih kehilangan dunia ini, tidak pula
> bersedih karena berpisah dengan kalian ; tapi aku sedang menanti salah
> satu diantara
> dua kabar dari Tuhanku : apakah kabar neraka ataukah kabar surga."
>      Diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, "Jika Allah SWT ridha terhadap
> hamba-Nya, maka DIA akan berfirman, 'Wahai Malaikat Maut, pergilah kepada
> si Anu dan bawalah kepada-Ku ruhnya untuk Kuanugerahi kebahagiaan. Amalnya
> Kupandang telah mencukupi : Aku telah mengujinya dan mendapatinya seperti
> yang Kuinginkan.' Malaikat itupun turun bersama lima ribu malaikat lain.
> Semuanya membawa tongkat yang terbuat dari kayu manis dan akar-akar
> tanamansafron, setiap malaikat itu menyampaikan pesan dari Tuhannya.
> Kemudian para malaikat itu membentuk dua barisan untuk mempersiapkan
> keberangkatan ruhnya. Ketika setan melihat mereka, dia meletakkan
> tangannya di atas kepalanyadanmenjerit keras-keras. Para bala tentaranya
> bertanya, 'Ada apa, tuanku?'Diamenjawab, 'Tidakkah kamu lihat kehormatan
> yang telah diberikan kepada manusia ini? Apakah kalian tidak melakukan
> tugas kalian terhadap manusia ini?'  Mereka menjawab, 'Kami telah berusaha
> sekeras-kerasnyaterhadapnya,tapi dia tak bisa dipengaruhi.' "  (Ibn
> Abi`l-Dunya, K. Al-Maut ;Zabiidii,X.267)
>      Al-Hasan berkata, "Tidak ada kebahagiaan bagi orang beriman kecuali
> dalam perjumpaannya dengan Allah, dan barangsiapa dianugerahi perjumpaan
> tersebut, maka hari kematiannya adalah hari kegembiraan,
> kebahagiaan,keamanan, kejayaan, dan kehormatan."
>      Menjelang ajalnya, Jabir bin Zaid ditanya apakah ada sesuatu
> yangdiinginkannya, dan dia menjawab, "Aku ingin menatap wajah Al-Hasan."
> KetikaAl-Hasan datang menjenguknya, kepadanya dikatakan, "Inilah
> Al-Hasan."Jabirlalu membuka matanya untuk memandang Al-Hasan dan berkata,
> "Wahai, saudaraku. Saat ini, demi Allah, aku berpamitan kepadamu untuk
> pergi,entahke surga ataukah ke neraka."
>      Menjelang ajalnya, Muhammad bin Wasi berkata,
> "Wahai,saudara-saudaraku. Selamat tinggal! Aku pergi, entah ke neraka,
> ataukah menuju Ampunan Tuhanku."     Sebagian orang berangan-angan untuk
> tetap berada dalam saat-saat kematian dan tak pernah dibangkitkan untuk
> menghadapi pahala atausiksaan. Oleh karena itu, rasa takut terhadap
> kematian dalam keadaan berdosa(su`ulkhotimah) mengoyak hati orang-orang
> arif, sebab hal itu termasuk kedalampetaka dahsyat yang menyertai
> kematian. Kami telah menjelaskan makna"akhirkehidupan yang buruk" (su`ul
> khotimah) dan rasa takut orang-orang arifterhadapnya di dalam 'Kitab
> Tentang Takut dan Harap' (dalam Ihya IV,kitabke-3).  Bab tersebut masih
> relevan dengan konteks pembicaraan sekarang.
> (bersambung)
> 

Kirim email ke